Antara Kebersamaan SBY-Mega dan yang Tetap Nyinyir di Hari Merdeka!

18 Aug 2017 - 09:27 WIB

Perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-72 tahun [HUT RI ke-72] yang digelar di berbagaid aerah berlangsung meriah.

Kalau di sekitar tempat tinggal saya digelar berbagai acara mulai bazar pasar murah selama 5 hari, aneka lomba, malam tirakatan, panggung seni dan hiduran, juga tentunya upacara bendera HUT RI.

Saya melihat banyak orang suka cita merayakan HUT RI dengan penuh bahagia, bahkan yang kita semua ikut senang tentunya saat melihat SBY dan Megawati akhirnya mau bertemu dan bersalaman saat perayaan puncak HUT RI ke-72 di Istana negara.

Untuk bisa melihat momment tersebut, tentunya ini memberikan kesan positif, dimana jika sebelum-sebelumnya dikatakan bahwa setiap perayaan HUT RI, sangat sulit [bahkan ada yang bilang dianggap mustahil], jika Megawati dan SBY dipertemukan bersama.

Namun faktanya, pada perayaan HUT RI ke-72 17 Agustus 2017 kemarin, SBY dan Megawati bisa dipertemukan bahkan mereka berdua saling berjabat tangan.

Sebuah momment yang sangat penting untuk memberikan pesan bahwa, siapapun elit politik di negeri ini, mereka boleh berbeda pandangan, berkonflict atas urusan pribadi masing-masing, namun demi NKRI, mereka harus menunjukan kebersamaan, bahwa mereka adalah sama-sama warga negara Republik Indonesia.

Lagian, apa untungnya sih saling memendam dendam dan permusuhan?

Permasalahan-permasalahan yang telah lalu antara Mega dan SBY sudah sewajibnya dihentikan, dan sudah saatnya sebagai kelompok elit politik tersebut bersatu dan berdialog untuk memajukan bangsa dan negara kita Indonesia.

Perbedaan pemikiran dan idiologi, selama masih tidak melenceng dari nilai-nilai Pancasila, sesungguhnya sebuah kewajaran dan tidak sepatutnya dijadikan alasan untuk menyimpan rasa dendam dan permusuhan.

Jika para elit politik bisa menciptakan dan memberikan contoh kebersamaan tersebut, tentunya akan lebih mudah untuk membimbing para fanatikan di tingkat bawah, agar menghentikan sikap saling cela dan menghina hanya sedikit perbedaan saja.

Selama ini saya sendiri meyakini bahwa, adanya permusuhan yang diwariskan dan didoktrin secara turun temurun itu menurut saya karena diawali dari para perilaku elit politik itu sendiri.

Hal ini sangat mudah dilihat saat jelang pemilu, yang semuanya berambisi untuk merebut kekuasaan, sehingga segala cara dilakukan, termasuk mencari simpati dengan cara “mencuci otak” pengikut mereka masing-masing agar mau mendukung dan memuji kelompok mereka, dan pada saat bersamaan mereka menghina dan mencela kelompok lain yang berseberangan dengan mereka.

Kondisi inilah yang menurut saya kemudian masih ada hingga sekarang.

Bahkan saat perayaan HUT RI, dimana sewajibnya semua pihak masing-masing menyerukan kebersamaan dan persatuan demi atas nama bangsa Indonesia, ternyata masih saja kita begitu mudah menemukan tokoh dan kelompok yang masih sibuk NYINYIR dan saling cela di sosial media.

Mereka masih saja sibuk menyebarkan isu dan komentar provokasi yang berimbas kaum nyinyir ini tetap saling cela dan saling hina.

Luar biasanya lagi, mereka lakukan itu dengan sadar dan penuh rasa bangga.

Sebuah kondisi yang sungguh sangat ironi, tapi semua ini nyata di sekitar kita memang masih ada.

Namun saya berharap, golongan-golongan kaum nyinyir tersebut adalah minoritas, karena saya yakin juga bahwa kaum nyinyir itu memang sudah menjadi sifat dan tabiat mereka, sehingga terlalu sulit untuk disadarkan.

Merka hanyalah sekelompok orang yang jauh lebih suka menghina dan mencela, namun saat diajak untuk berkontribusi membangun negara, mereka akan berpaling dan mencari seribu alasan untuk supaya mereka bisa tetap nyinyir dengan argumen mereka.

Saya hanya berharap, semoga saja media tidak seharusnya memberikan ruang kepada mereka di depan media, karena perilaku mereka terlalu buruk untuk dilihat dan dibaca.

Perilaku nyinyir mereka hanya akan membuat kita terpecah belah dan sibuk saling cela, tanpa terlibat dan berbuat, bagaimana peran kita supaya bisa memajukan bangsa kita tercinta, Indonesia!

Harapan saya juga, semoga jika anda membaca tulisan saya ini, anda bukanlah termasuk diantara kaum nyinyir tersebut yang sukanya hanya sibuk mencela dan menghina :-)

Dirgahayu Negeriku, Dirgahayu Indonesiaku, Merdeka!


TAGS Politik / Opini /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda