Konsolidasi dan Koalisi Boleh, Tapi Jangan untuk Pecah Belah Rakyat!

28 Jul 2017 - 09:46 WIB

Bertemunya Prabowo dengan SBY yang berlangsung tadi malam menjadi banyak perhatian publik.

Namun seperti biasanya, setiap kali adanya pertemuan para tokoh politik yang dikaitkan dengan isu pilpres 2019, maka bisa dipastikan akan memunculkan berbagai anggapan.

Dua anggapan tersebut sudah pasti terkait dengan adanya kubu pro dan kontra.

Bagi mereka yang pro dengan tokoh Prabowo dan SBY, bisa dipastikan pertemuan dua tokoh politik tersebut dianggap sebagai pertemuan akbar yang ditunggu, yang diharapkan bisa memenangkan Prabowo menjadi Presiden di pilpres 2019 yang akan datang.

Singkatnya, bagi yang pro dengan kedua tokoh tersebut maka yang muncul adalah persepsi positif, seperti misalnya dengan konsolidasi Prabowo dan SBY tersebut bisa dipaastikan Prabowo akan menang Pilpres 2019. Atau komentar-komentar positif lainya misal mereka itulah dua tokoh bangsa yang dibanggakan Indonesia, dan berbagai reaksi positif sejenisnya.

Sebaliknya, bagi mereka yang kontra dengan kedua tokoh tersebut [Prabowo dan SBY], maka biasanya akan muncul persepsi dan penilaian yang berbeda.

Biasanya yang namanya kontra sudah pasti selalu berfikirnya dalam persepsi negatif. Beberapa komentar tersebut misalnya dengan adanya dua pertemuan tersebut, ada yang menganggap dan takut di pilpres 2019 nanti akan muncul perpecahan yang mengerikan. 

Beberapa pihak yang mengatakan seperti itu dikarenakan mereka melihat peristiwa pilgub DKI Jakarta kemarin. 

Masih dianggap oleh mereka yang kontra dengan Prabow, kekisruhan pilgub DKI Jakarta tidak lepas adanya peran tokoh yang diantaranya ada nama Prabowo yang melakukan berbagai cara untuk bisa mengalahkan Ahok.

Itulah menurut saya diantara dua persepsi antara yang pro dan kontra atas adanya pertemuan Prabowo dan SBY tadi malam.

Namun kalau menurut saya, terlepas dari pertemuan antara Prabowo dan SBY tersebut, saya memang jujur saja tetap ada kekhawatiran terkait pelaksanaan pilpres 2019.

Kekhawatiran saya memang merujuk saat pilpres 2014 yang lalu, dimana menurut saya, itulah awal mula ketegangan dan konflik luar biasa terjadi di Indonesia.

Bagaimana kedua belah piak seolah melakukan berbagai cara untuk menghalalkan cara agar idola mereka bisa jadi pemenang menjadi Presiden RI.

Saat pilpres 20114 yang lalu kita melihat ada kisah anak dan orang tu bertengkar karena beda pilihan, Istri dan suami bertengkar karena beda pilihan, antar masyarakat juga saling bentrok karena beda pilihan, belum lagi di sosial media, hampir semuanya saling cela dan saling maki serta saling hjat demi membela idola capres mereka.

Dan jujur saja, saya juga dahulu termasuk salah satu korban yang terjebak untuk membela salah satu Capres. Namun kalau saya saat itu walaupun memang mendukung salah satu capres, saya pastikan hanya sebatas menyampaikan kebaikan dan prestsi salah satu capres tanpa mencela caprs lainya.

Namun kalau saya tidak bisa gunakan akal sehat saya dan mengikuti rasa emosi saya, mungkin saya akan ikut-ikutan saling hujat di sosial media.

Namun beruntungnya saya tidak sampai terjerumus kesana karena akal saya masih saya pakai, betapa kita mendukung capres idola kita, toh begitu capres tersebut menang atau kalah, tetap saja saya harus berjuang sendiri untuk cari duit, dan tetap saja harus bayar pajak untuk negara.

Dengan logika itulah saya akhirnya bisa meredam saya untuk tidak terjebak sampai hina dan saling cela di sosial media.

Tapi di pilpres 2019 nanti, saya benar-benar punya kekhawatiran yang sangat besar. Hal ini dikarenakan adanya peristiwa-peristiwa selama ini yang sangat memungkinkan bisa terjadi konflik antar rakyat dan warga.

Apalagi saya melihat tokoh-tokoh politik yang masih saja menunjukan betapa mereka dalam berpolitik tak kenal apa itu norma dan etika apalagi akhlaq.

Sungguh jauh dari semua itu…

Kalau politisi kita adalah orang-orang yang berakhlq mulia, pastinya saya tak perlu khawatir..

Namun ketika para politisi kita masih didominasi oleh politisi yang selalu mengedepankan AMBISI, maka disitulah ketakutan saya.

Anda pasti faham maksud saya, dimana kalau politisi yang punya akhlaq dan moral, dalam berbicara pastinya harus dengan akhlaq. Jika politisi bicara dnegan akhlaq dan moral yang baik, saat berbicara di depan pers atau sosial media, pastinya akan membawa kebaikan dan persatuan anak bangsa.

Namun coba lihat, itu sepertinya nyaris sulit kita temukan..

Yang pasti dan sangat mudah kita temukana adalah, politisi yang selalu menyebarkan komentar-komentar adu domba jika mereka berbeda pilihan dan berbeda pendapat dengan lawan politik mereka.

Seolah-olah jika sudah berbeda pilihan politik maka selalu saja apa yang dilakukan lawan politik pasti salah dan harus dijatuhkan.

Hal tersebut selalu terjadi setiap pergantian presiden.

Politisi kita belum bisa berfikir untuk kemajuan bangsa, sehingga yang ada diotak mereka, presidenya harus dari pilihan saya sehingga kalau ada presiden diluar pilihan saya, maka harus dilawan apapaun kebijakanya.

Disinilah yang saya khawatirkan saat pilpres 2019 yang akan datang.

Saya khwatir jika politisi masih berfikir seperti itu, maka rakyat akan diadu-domba habis-habisan demi kekuasaan yang memang selalu mereka impikan.

Apalagi memang harus saya berani katakan, jika khususnya di sosial media, masih begitu banyak orang-orang yang begitu mudah “dibodohi” dengan berbagai isu yang itu memecah belah antar rakyat.

Namun walaupun demikian, saya tetap ingin mencoba untuk optimis bahwa apapun yang dilakukan para politisi yang sudah ribut soal isu pilpres 2019, rakyat jangan lagi bisa diadu-domba hanya untuk kepentingan politik mereka.

Semoga!


TAGS Politik /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda