Mengintip Kebiasaan Baik dan Buruk Netizen Saat Puasa di Sosial Media

5 Jun 2017 - 10:50 WIB

Saya pernah mendengar jika setiap orang pada akhirnya akan bertemu dan dipertemukan dengan orang-orang yang sesuai dengan pribadi kita.

Apalagi jika kita tidak mampu menggunakan “akal, nalar, dan fikir” kita untuk menfilternya.

Bisa-bisa kita terjebak pada kondisi, dimana kita merasa sedang memperjuangkan kebaikan, namun justru melakukanya dengan cara yang salah tanpa pernah menyadarinya jika kita salah.

Hal tersebut menurut saya sering sekali tepat dan saya juga sering mengalaminya sendiri.

Hal ini ternyata memang sangat mudah kita lihat dan temukan di sekitar kita, termasuk di sosial media.

Saya amati misalnya di daftar list teman saya di akun sosial media mulai dari facebook. twitter, dan yang lainya.

Saya bisa dengan mudah menemukan aktivitas mereka, status mereka, apa yang dishare mereka di akun sosial media, selalu menggambrkan kepribadian dan isi pikiran mereka.

Misalnya saja saya sebut si X menulis dan share tulisan terkait dengan berita hoax, kebencian, fitnah, dan sejenisnya, maka dengan sangat mudah, saya menemukan tulisan-tulisan dia di akun media sosialnya ya seperti itu.

Dan yang menarik, type netizen yang seperti ini, jarang sekali, bahkan saya sebut nyaris tak satupun saya temukan di status-statusnya di sosial media berisi tulisan atau suasana yang menggamabrkan tulisan, foto, ataupun video yang menyeru pada kebaikan.

Bisa saya sebut, ada kesan si “X” tersebut adalah orang yang terlalu sibuk ngurusin persoalan orang lain, memaki kekurangan orang lain, tapi hampir tak pernah mengurusi dirinya sendiri.

Dan mulai beberapa bulan ini, saya selalu melakukan dan menyortir orang-orang seperti ini untuk saya unfollow. Tujuan saya sederhana, saya sama sekali tak mau mengotori pandangan mata saya untuk membaca sesuatu yang sama-sekali tak memberi manfaat positif untuk saya, yang ada justru hanya akan memancing emosi, dan reaksi negatif lainya.

[Baca juga tulisan Paling Banyak Dibaca lainya: Kesalahan Terbesar Cara Berfikir Sebagian Netizen yang Harus Anda Ubah]

Namun sebaliknya, saya bersyukur juga karena banyak juga diantara daftar list teman-teman saya di sosial media yang sering berbagi kebaikan dan inspirasi positif di akun sosial medianya.

Orang-orang di sosial media yang melakukan berbagai aktivitas positif di akun media sosialnya tersebut, saya amati, ternyata adalah orang-orang yang hidupnya memang sangat baik.

Bahkan diantaranya saya memang sudah mengenal dan sangat dekat berteman dengan mereka, baik melalui sosial media, atau saat melakukan aktivitas sosial bersama di kehidupan nyata.

Mereka-mereka inilah orang-orang yang selalu memberikan saya inspirasi dan selalu memancing dan memotivasi saya agar saya bisa selalu lebih baik dari saat ini dan dari kekurangan di masa lalu saya.

Singkatnya, dari sosial media, kita bisa dengan sangat mudah menemukan beberapa kelompok orang, dimana diantara mereka pasti ada yang menyebarkan kebaikan, namun tak sedikit juga yang selalu sibuk menyerukan keburukan dan kebencian.

Saat di bulan puasa seperti ini pula, saran saya, carilah teman-teman di sosial media yang bisa memberikan kebaikan dan manfaat untuk kita.

Kenapa saya bilang saat puasa, karena puasa bisa jadi titik “pertimbangan” yang sangat penting untuk menilai kwalitas dan pemikiran dari orang-orang di sosial media.

Jika saat puasa saja selalu tetap melakukan kebiasaan buruk di sosial media, mulai dari sebarkan kebencian, hoax, dan fitnah, atau provokasi sejenisnya, bagaimana mungkin di luar bulan puasa, mereka akan lebih baik?

Bukankah bulan puasa ini adalah bulan yang dijamin, sebaik-baiknya bulan yang seharusnya bisa mempengaruhi orang yang tadinya buruk sekalipun menjadi orang yang baik. Bagaimana jika saat bulan puasa saja berlaku buruk, bagaimana dengan bulan di luar puasa?

Walaupun memang pada saatnya seburuk apapun seseorang berperlaku, jika datang hidayah, seketika itu juga seseorang pasti akan bisa menjadi baik.

Namun setidaknya, dengan puasa ini, marilah kita bisa berkumpul dan dipertemukan dengan orang-orang baik, yang melakukan perbuatan baik, dan mengajak serta menyeru kepada kebaikan pula.

Namun jangan pernah terkecoh dengan orang-orang yang terkadang atas nama kebaikan, tapi mereka justru menyeru pada hal keburukan seperti mencela, mencaci-maki, dan perbuatan negatif lain yang bertentangan dengan agama.

Sosial media hanyalah media, disana ada kebaikan, namun banyak juga keburukan, yang menentukan adalah kita, apakah kita akan berkumpul dengan orang-orang tidak baik atau dengan orang-orang baik di sosial media, itu ditentukan oleh diri kita sendiri.

Semoga saja kita selalu dipertemukan dengan orang-orang baik di sosial media, sehingga bisa menjadikan puasa kita, puasa yang membawa rahmat dan kebaikan untuk diri kita dan untuk orang-orang disekitar kita dan di sosial media.

Amiin


TAGS Sosial Media / Puasa / Opini / Teknologi /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda