Antara Petani, Guru GTT, Karyawan Bergaji Bawah UMR dan Buruh Gaji UMR

2 May 2017 - 09:20 WIB

Saya pernah hidup di Jakarta, tepatnya saat jadi kernet kontainer yang bisa dipastikan gajinya jauh di bawah UMR Jakarta.

Saat itu saya sudah sering keluar masuk pabrik yang sudah skala export import yang terkadang saat beristirahat sholat di area pabrik tersebut, saya sempatkan ngobrol-ngobrol.

Dari obrolan tersebut, hampir semuanya buruh dan karyawan di pabrik tersebut semuanya sudah diatas UMR semuanya. Namun tetap saja mereka masih mengeluh dan mengeluh dan berharap gaji mereka supaya bisa terus dinaikan lagi.

Mereka tidak tahu atau lupa kalau yang mereka ajak ngobrol hanyalah kernet kontainer yang sudah dipastikan gajinya jauh di bawah UMR Jakarta.

Menurut yang ngajak ngobrol saya tersebut yang juga bercerita kalau dirinya tergabung jadi anggota pergerakan buruh mengaku jika sebenarnya rata-rata pabrik yang sudah berskala eksport import, bisa dipastikan gaji buruh [karyawan] sudah diatas UMR atau minimal sesuai UMR.

Saat itu saya iseng tanya, kenapa tiap hari buruh kok masih tetap demo untuk kenaikan gaji? Atau lebih tepatnya meminta supaya standard ketetapan UMR dinaikan, yang kemudian otomatis gajinya ikut naik.

Jawaban mereka memang masuk akal dan simple, supaya kehidupan mereka lebih layak dan lebih sejahtera. Sebuah keinginan yang diimpikan semua orang termasuk saya.

Dia juga mengatakan, satu-satunya cara buruh agar suaranya didengar hanyalah DEMO, diluar itu, harapanya kecil [nyaris tidak mungkin di dengar jika tanpa DEMO].

“Jangankan kok hanya DIAM saja, lah sudah DEMO saja kadang belum tentu suara kita didengar dan dituruti kok!”, ucapnya.

Dari sedikit obrolan tersebut, saya bisa mengambil “sedikit” kesimpulan, jangan-jangan selama saya jadi kernet kontainer dulu yang memang tidak pernah DEMO menjadikan dasar bos saya tidak pernah menaikan gaji saya sebagai kernet!

Lantas pernyataan tersebut kemudian saya coba kaitkan dengan nasib para PETANI, Guru GTT, dan juga nasib para karyawan yang bergaji di bawah UMR, yang menurut saya, mereka teramatsangat jarang DEMO.

Bahkan di hari Buruh sekalipun, kita tidak mendengar PETANI, Guru GTT, dan juga para karyawan yang bergaji di bawah UMR ikut berdemo.

HASILNYA, selama itupula nasib PETANI, Guru GTT, dan juga para karyawan yang bergaji di bawah UMR ya seperti itu saja, hanya PASRAH.

Saya contohkan misalnya PETANI, produk mereka selalu DITEKAN agar jangan sampai NAIK, karena kalau sampai produk petani naik, maka buruh dan seluruh umat manusia di Indonesia akan TERIAK-TERIAK!

ilustrasi

Pada kasus ini, saya sudah menuliskan panjang lebar opini saya di tulisan sebelumnya, yang intinya begini,

… Saya benar-benar teramat dan sangat gregetan tiap mendengar jika ada orang mengeluh dan menginginkan harga kebutuhan yang berasal dari petani MURAH!

Ya, karena saya ANAK seorang PETANI sekaligus pernah merasakan jadi petani, merasakan bagaimana untuk menghasilkan beberapa kilo gabah petani, kita harus melakukan proses dari membajak sawah, kemudian mengolah sawah, menyemai, menanam, membersihkan rumput disekitar padi hingga berkali-kali, memberikan pupuk, dan menunggu masa panen hingga 3, 4, 5 bulan.

Dari proses demi proses itu, sebagai petani harus mengeluarkan modal bayar tratktor, modal bayar yang tanam, berpanas-panasan hingga kulit gosong, seluruh badan kotor, gatal-gatal, berkeringat, dan seterusnya.

Itu semua jika TANAH sawahnya kita dapat secara gratis [warisan].

Bayangkan kalau misalnya sawah yang kita miliki dengan cara MEMBELI yang harganya hingga mencapai puluhan juta hanya untuk beberapa petak sawah saja. Anda bisa membayangkan berapa modal dan kapan PETANI bisa memperoleh KEUNTUNGAN dan LABA?

Itupun belum termasuk ketika terserang hama penyakit dan serangan tikus yang bisa dipastikan hampir setiap saat selalu ada sehingga hasil panen tidak pernah sesuai harapan petani.

Sedangkan mereka yang MEMBELI, dengan sangat enteng meminta dan berharap harga BERAS MURAH!

Kalau anda masih NGEYEL dengan pendapat saya ini, SILAHKAN ANDA JADI PETANI BIAR SAYA BELI SEMURAH-MURAHNYA PRODUK ANDA! MAU?!!

Lantas bagaimana dengan nasib Guru GTT dan karyawan yang gaji mereka masih dibawah UMR?

Bicara nasib mereka juga tak kalah mengenaskan dengan nasib petani. Saya sendiri punya banyak teman yang hingga bertahun-tahun jadi guru GTT yang gajinya jauh di bawah UMR, rasanya bikin nyesek.

Ada yang hanya mendapatkan gaji yang di bawah pengeluaran bensin saat berangkat kerja karena lokasinya jauh. Bahkan tak sedikit juga mereka yang terkadang gajinya tidak selalu dibayarkan rutin bulanan [terkadang 2-3 bulan sekali], dan berbagai kisah memilukan lainya.

Dan sayangnya, mereka hampir tidak pernah berdemo turun ke jalan untuk menyuarakan nasib mereka.

Akibatnya, selama itupula suara mereka nyaris tak terdengar sehingga nasib mereka hingga kini masih tetap begitu saja.

Satu-satunya cara terbebas dari “penderitaan” tersebut hanyalah satu, Meninggalkan profesi tersebut, atau tetap dengan profesi itu tapi dengan mencari tambahan di luar profesi utama mereka.

Lantas dimana peran negara?

Kalau anda ingin mengikuti saran saya, hidup di Indonesia, jangan terlalu banyak berharap kepada negara, itu bisa dipastikan akan membuat kita KECEWA, karena masalah negara itu sudah terlalu banyak, jadi sangat kecil peluangnya negara hadir secara khusus atas masalah hidup yang kita hadapi.

Lebih baik fokus berjuang sendiri semampu dan sebisa kita agar hidup kita bisa lebih sejahtera.

Hal itu akan lebih baik dan bisa membuat kita lebih semangat menatap masa depan kita dengan kemampuan kita sendiri, tentunya dengan disertai belajar, belajar, dan terus berjuang dengan dukungan orang-orang tercinta di sekitar kita.


TAGS Sosial / Finance / Hari Buruh /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda