Kenapa Selalu SULIT Menerima Kekalahan di Setiap PILKADA?

19 Apr 2017 - 09:26 WIB

Untuk kesekian kalinya saya selalu prihatin di setiap pemilihan mulai dari pemilihan kepala daerah hingga pilpres, selalu saja ada pihak yang tetap TIDAK MENERIMA KEKALAHAN dengan ksatria?

Bahkan kalau kita mengingat peristiwa pilpres terakhir, ada yang dengan tegas dan terang-terangan masih belum RELA jika ternyata Jokowilah presidenya, sehingga kelompok mereka tetap memuja capres mereka dan selalu “menghina” presiden terpilih.

Kalau saya bermain psikologi, mungkin inilah salah satu buah dari “doktrin” kampanye tim sukses maupun tokoh politikus yang berhasil “MENANAMKAN” kebencian di hati setiap pendukungnya, sehingga kebencian itu terus tumbuh, bahkan di pupuk sepanjang hayat, sehingga mengakibatkan diantara warga yang selalu setia mengikuti petuah mereka.

Inilah fakta yang saya sendiri meyakini sangatlah sulit karena itu semua tergantung sekali dengan KECERDASAN dan KEBESARAN HATI dari mereka yang selalu belum bisa MENERIMA KEKALAHAN.

Singkatnya, mereka yang sejak musim kampanye sudah “TERDOKTRIN” untuk membenci calon lawan dalam pilkada, begitu pilkada sudah usai sekalipun, rasa dendam dan benci kepada lawanya selalu mereka pelihara.

Inilah yang menurut saya teramat sangat berbahaya!

Saya tidak bisa membayangkan, urusan pilpres saja yang terakhir, sudah terlalu banyak sekelompok masyarakat yang sudah “SUKSES” terhasut dan terprovokasi untuk selalu membenci presiden terpilih, apalagi jika harus berlanjut dan bertambah saat pemilihan pilgub DKI Jakarta.

Bisa dipastikan akan semakin bertambah sekelompok orang yang dalam diri mereka terdoktrin dan terpelihara rasa BENCI dan permusuhan untuk memusuhi calon lawan yang tidak dipilihnya.

Janji kampanye pilkada yang sehat dan damai, ternyata hanyalah slogan tanpa makna dan sulit tercipta.

Apalagi kalau melihat kubu yang selalu sakit hati dan kalah selalu menyebarkan kebencian mereka melalui media, sosial media, yang selalu dipastikan didukung pengikut [buta] setianya untuk bersama-sama menyebarkan kebencian atas kekalahan mereka.

Atas fakta-fakta mengerikan diatas, saya mungkin terkadang terlalu apatis jika ini bisa hilang dari Indonesia.

Namun seburuk apapun fakta kondisinya, saya tetap memiliki harapan, semoga saja masyarakat Indonesia bisa menggunakan akal sehat mereka bahwa tidak ada gunanya menyimpan rasa dendam dan kebencian di hati kita.

Apalagi hanya urusan pilkada, yang bisa dipastikan hanya menguntungkan sekelompok kecil saja, dan sama sekali tidak memberikan manfaat untuk kita.

Saya berfikir solusi satu-satunya agar hal buruk ini tidak berkembang dan disebarluaskan, kuncinya ada di masyarakat dan netizen Indonesia.

Kalau para calon, politikus, dan tim sukses calon yang kalah KECEWA dan MARAH jika kalah, ITU SUDAH PASTI!

Alasanya karena ambisi mereka memang KEKUASAAN dan UANG!

Mereka sudah gelontorkan dana milyaran supaya bisa berkuasa, tapi kemudian KALAH, maka bohong jika mereka tidak kecewa.

Namun saran saya, cukuplah HANYA MEREKA saja!

Kita sebagai rakyat biasa TIDAK BOLEH terpancing apalagi terprovokasi untuk mengikuti kekecewaan mereka.

Tugas kita sebagai rakyat, boleh mendukung saat pemenang belum diputuskan siapa yang menang. Namun begitu pemenang sudah diputuskan, kita sebagai rakyat harus berbesar hati untuk menerimanya.

Karena siapapun pemimpin yang terpilih, sebenci-bencinya kita kepada pemimpin kita, toh kita tetap memiliki harapan agar mereka yang terpilih bisa memimpin Jakarta dengan sebaik-baiknya.

Jika ada beberapa kekurangan dan banyak hal yang tidak kita suka, hal itu bukan alasan untuk membenci pemimpin yang terpilih.

Ingat! Kita bukanlah ANAK-ANAK TK [Taman Kanak-kanak], yang jika kalah saat perlombaan kemudian marah-marah, nangis, dan tidak mau menerima kekalahan tersebut dengan lapang dada.

Kita sudah dewasa, yang punya akal, fikiran, kecerdasan, dan syukur-syukur punya AKHLAQ dan MORAL yang baik untuk belajar menerima kekalahan dengan lapang dada.

Apalagi jika ada diantara anda memang meyakini akan adanya Tuhan.

Saya seorang muslim misalnya, dalam agama Islam yang saya imani, di dunia ini tidak ada peristiwa yang terjadi TANPA IZIN ALLOH S.W.T, semua yang terjadi di muka bumi ini, saya yakini semua atas KEHENDAK ALLOH S.W.T.

Bahkan setiap daun kering yang berjatuhan di penjuru bumi dan pergerakan debu yang bertebaran di muka bumi ini, semuanya tak luput atas kehendak ALLOH S.W.T, apalagi hanya soal PILKADA?

Untuk kita yang muslim, yang meyakini bahwa kita ahrus berjuang untuk tetap berjuang agar bisa memiliki pemimpin muslim, maka tidak dilarang kita berjuang semaksimal mungkin disertai do’a agar bisa memiliki pemimpin muslim.

Namun wajib DICATAT, kita tidak boleh mengalahkan WEWENANG ALLOH S.W.T yang sudah pasti punya rencana. 

Ingatlah juga bahwa KEWAJIBAN manusia di muka bumi ini hanya sebatas BERUSAHA dan BERDOA, tapi TIDAK BOLEH MEMAKSA.

Jika kalian lupa, ingatlah bahwa Nabi Nuh sendiri tidak bisa memaksa Alloh untuk mengislamkan anaknya Kan’an. Nabi Ibrohim tidak bisa memaksa Alloh untuk mengislamkan ayahnya, bahkan Nabi Muhammad S.A.W sekalipun tidak bisa memaksa Alloh untuk mengislamkan pamanya Abu Thalib.

Itu semua menunjukan dan membuktikan bahwa dalam islam sangat dialrang untuk MEMAKSAKAN kehendak kita, karena tugas rosul sendiri hanya MENYAMPAIKAN KEBENARAN tapi tidak pernah MEMAKSAKAN.

Jika Rosul saja tidak bisa MEMAKSAkan kehendaknya supaya seluruh umat masuk islam dan mengkuti keinginanya, apalagi kita yang hanya manusia biasa?

Semoga saja dengan penjelasan ini kita bisa menerima dan memahami maksud tulisan saya ini bukan dengan rasa benci tapi dengan hati.

Terakhir, saya sangat berharap siapapun pemimpin yang terpilih dalam Pilkada DKI Jakarta, mereka adalah pilihan yang bisa membawa kebaikan untuk DKI Jakarta.

Dan saya berharap, siapapun yang kalah, mohon belajarlah menerima dengan lapang dada tanpa perlu memprovokasi massa demi ambisi pribadi dan kelompok anda.

Kalaupun para calon pemimpin, politikus, dan tim sukses tetap tidak bisa menerima kekalahan, harapan terakhir saya, semoga sebagai rakyat biasa, kalian jangan sampai ikut terprovokasi oleh mereka yang kalah karena ingatlah tidak ada gunanya dan manfaatnya memelihara dendam dan kebencian di hati anda, karena itu juga dilarang oleh agama.


TAGS Politik / OPINI /

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda

tulisan-populer

kisah-11-orang-sukses

nenek-tua-sumbang-jutaan-rupiah-untuk-masjid

pendiri-whatsapp-jan-koum

desa-terkaya

tulisan-populer negeri-hutang

ricky-elson

kerja-orang-jerman

negeri-para-petani-tapi-import-produk-pertanian

pria-sukses

10-pemuda-terkaya-di-asia

.:: #9 TULISAN TERKINI ::.