Serangan Fajar dan Masa Tenang yang Semakin Gaduh di Sosial Media!

17 Apr 2017 - 10:12 WIB

Tepat hari Rabu besok, tanggal 19 April 2017 merupakan hari pencoblosan Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua.

Tanggal tersebut sekaligus menentukan siapa yang akan jadi pemimpin di Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia bernama Jakarta.

Sebuah proses demokrasi yang tidak hanya menguras rupiah dari setiap calon, namun sudah menimbulkan banyak “kekacauan” tidak hanya di wilayah DKI Jakarta saja melainkan menyebar hingga menyeluruh ke pelosok Indonesia. 

Tidak berlebihan jika pilkada DKI Jakarta ini memang seperti rasa “pilpres”. Apalagi semua tokoh seperti Prabowo, Megawati, dan SBY, harus “turun gunung” untuk mencari pengikut dan pendukung.

Namun kalau secara aturan, sebenarnya begitu memasuki masa tenang yang berlangsung mulai tanggal 16 sampai dengan tanggal 18 April 2017, maka semua pasangan calon dan tim sukses, juga para pendukung dilarang untuk melakukan kampanye apalagi membuat kegaduhan di masa tenang.

Namun faktanya, saat masa tenang itu, menurut saya, yang terlihat bukan waktunya orang menenangkan diri dan memantapkan pilihan, tapi justru menjadikan masa tenang sebagai hari yang harus dimanfaatkan untuk mati-matian memastikan pemilih agar tidak berpindah pilihan, sekaligus menambah calon pemilih dengan cara apapun. Salah satunya yaitu dengan cara melakukan “Serangan Fajar”.

Serangan Fajar

Kalau setahu dan seingat saya, istilah serangan fajar saya dapat waktu di kampung saya ada pemilihan kepala desa, maka jelang dilakukan pilihan kepala desa tersebut, ada pihak dari tim sukses para calon kepala desa, yang membagikan uang kepada warga, dan waktunya memang bersamaan saat fajar tiba [subuh].

Menariknya, hampir setahu saya, siapapun calon kepala desa yang memberikan uang paling banyak saat serangan fajar, maka bisa dipastikan merekalah yang menang.

Di desa itu kasus seperti ini turun temurun dan sepertinya hingga sekarang katanya masih berlangsung yang namanya serangan fajar tersebut. Bedanya, kalau yang sekarang-sekarang ini kalau ada serangan fajar, sudah tidak bisa dipastikan bahwa calon kepala desa yang memberikan uang lebih banyak, belum tentu menang.

Unik memang, karena adanya serangan fajar di desa saya, sejak dahulu tidak pernah dilaporkan apalagi sampai menggagalkan calon kepala desa yang melakukan serangan fajar. Hal tersebut diakrenakan sudah jadi rahasia umum jika semua calon memang melakukan sehingga warga tidak ada yang lapor, begitu juga diantara tim sukses juga tidak ada yang melaporkan karena mereka sama-sama melakukanya.

Kalau saya melihat di DKI Jakarta, jika sampai ada calon yang berani melakukan serangan Fajar, saya pikir itu sebuah KESALAHAN FATAL!

Kenapa?

Karena ini pilgub DKI Jakarta bung!

Anda tahu bahwa orang DKI Jakarta itu terkenal “CEREWET banget” di sosial media, jadi kalau sampai ada salah satu pihak calon atau tim sukses yang melakukan serangan fajar, baik membagikan uang atau sembako, bisa dipastikan pasti akan ketahuan.

Bahkan mau serahasia apapun tetap saja pasti ketahuan.

Sederhananya begini,

Misalnya si calon X melakukan serangan fajar di komplex warga yang mayoritas memilih pasangan X, pastinya TIDAK mungkin di satu kampung tersebut mampu menjaga rahasia untuk jangan sampai tetangga sebelah tahu atas serangan fajar tersebut. Cepat atau lambat pasti ketahuan. Dan jika sudah ketahuan, sudah pasti akan langsung DISHARE di sosial media.

Apalagi jika misalnya pasangan X yang kemudian berani mencoba melakukan serangan fajar di kompleks perkampungan warga yang mayoritas adalah pendukung calon Y. 

Jika sampai melakukan itu, fanatikan dari pemilih Y sudah pasti akan melaporkan atas serangan fajar tersebut.

Jadi kalau menurut saya, jika sampai ada calon atau tim sukses maupun fanatikan calon ada yang berani melakukan “serangan fajar”, maka saya bilang itu sebuah kesalahan fatal.

Kegaduhan saat hari tenang, tidak hanya soal serangan fajar saja, namun juga bisa dipastikan akan terjadi di sosial media.

Jika anda tidak percaya, anda bisa lihat setatus di sosial media manapun, kalau sudah bicara pilkada, bisa dipastikan akan heboh komentar dan saling caci makian di sosial media.

Tidak berhenti hanya sebatas saling cela saja, melainkan tidak sedikit yang menyebarkan fitnah dan kebencian, dengan tujuan calon pilihanya menang dan calon lawan kalah dan dipermalukan.

Inilah kondisi yang benar-benar teramat sangat saya ikut prihatin, karena di era yang katanya secanggih dan semodern ini, ternyata sifat dan sikap juga kepribadian orangnya justru terkadang diluar “logika” dan nalar.

Sungguh teramatsangat miris melihat bangsa setanah air yang katanya hidup di zaman yang modern dengan teknologi yang semakin canggih, namun hanya pilkada, mereka justru saling cela-saling hina bahkan sebar fitnah di sosial media.

Benar-benar sangat memprihatinkan!


TAGS Sosial / Politik / Sosial Media / Teknologi /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda