Gagal Faham: Ditahan Jadi Tersangka Korupsi KPK Bisa Menang Pilkada!

16 Feb 2017 - 11:31 WIB

Dari kemarin seharian hingga ahri ini membaca timeline di sosial media semua bicarakan soal hasil pilkada. Mulai dari Pilkada DKi jakarta, hingga hal-hal yang unik dan menarik seputar pilkada serentak di Indonesia.

Namun satu yang membuat saya hampir tidak percaya, saat membaca sebuah pemberitaan dari detik.com berjudul, “Ditahan KPK, Samsu Umar Menang Lawan Kotak Kosong di Pilbup Buton”.

Samsu Umar Abdul Samidun memperoleh 55,08% suara dalam pemilihan Bupati-Wakil Bupati Buton. Samsu merupakan calon tunggal yang melawan kotak kosong di Pilkada.

Hasil itu didapat dari real count sementara KPU. Dari laman resmi KPU, Kamis (16/2/2017), sudah 100 persen data yang diperoleh dari total 213 tempat pemungutan suara (TPS). 

Samsu dan pasangannya, La Bakry, memperoleh 27.512 suara, sedangkan ada 22.438 suara (44,92%) untuk kotak kosong. Ada total suara sah 49.959 dan total suara tidak sah 655.[sumber: detik.com]

Saya tadinya tidak percaya, masa sih?

Namun saya mencoba menelusuri di pemberitaan media nasional terpercaya lainya, hasilnya sama, dan memang si Samsu Umar sudah dipastikan menang saat melawan “kotak kosong” dalam pilbup di Buton.

Karena saya penasaran, saya mencoba menelusuri terkait sosok yang disebut sebagai Samsu Umar tersebut sekaligus kasus apa yang menimpanya.

Setelah saya telusuri, ternyata Bupati Buton tersebut sudah ditangkap sejak januari 2017 yang lalu.

Dari pemberitaan detik.com [26/1/2017], disebutkan jika,

Samsu Umar ditangkap petugas KPK saat turun dari pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (25/1) pukul 17.30 WIB. Dia ditangkap setelah melakukan penerbangan dari Kendari menuju Jakarta.

Samsu Umar merupakan tersangka dalam kasus dugaan pemberian suap kepada mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar. Dia diduga memberi suap Rp 2,989 miliar untuk memuluskan perkara sengketa Pilkada Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, di MK pada 2011. [sumber: detik.com]

Dari pemberitaan tersebut, sangat jelas terlihat bahwa ditangkapnya Samsu Umar dilakukan sebulan sebelum dilakukanya pemilihan pilkada Buton yang dilakukan tanggal 15 Februari 2017.

Dari fakta-fakta ini, saya benar-benar masih “gagal faham”, bagaimana mungkin seorang tersangka koruptor bisa terpilih dan menang jadi Bupati?

Gagal faham, tersangka korupsi KPK tapi masih tetap TERSENYUM BAHAGIA, dan bisa terpilih dalam Pilkada!  -- gambar: detik.comTerkadang saya agak serius banget ingin tahu, apa alasan para pemilih yang bisa-bisanya memilih tersangka korupsi KPK yang sudah ditahan, untuk tetap dipilih dijadikan Bupati mereka?

Mohon jika ada warga Buton yang membaca tulisan saya ini, mohon berikan alasan kalian, kenapa anda bisa memilih tersangka korupsi KPK yang sudah ditahan, tapi tetap anda pilih?

Atau kalau bisa saya berharap ada wartawan detik.com atau media lain yang bisa mencari tahu alasan para pemilih di Buton, yang tetap memilih seorang tersangka Korupsi KPK untuk dijadikan pemimpin mereka?

Melihat fakta ini tentunya saya tetap masih bingung dan gagal faham, di satu Kabupaten, kenapa bisa calonya hanya 1 saja, apakah parpol di daerah tersebut memang tidak memiliki dukungan rakyat, atau bagaimana?

Jika seorang koruptor saja dipilih dan MENANG jadi pemimpin daerah, jangan heran jika orang-orang buruk [jahat] tetap berani maju mencalonkan diri jadi pemimpin karena mereka yakin pasti akan ada yang memilih mereka.

Semoga saja ini kasus yang pertama dan terakhir!

 


TAGS Hukum / Sosial / Politik /

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda

tulisan-populer

kisah-11-orang-sukses

nenek-tua-sumbang-jutaan-rupiah-untuk-masjid

pendiri-whatsapp-jan-koum

desa-terkaya

tulisan-populer negeri-hutang

ricky-elson

kerja-orang-jerman

negeri-para-petani-tapi-import-produk-pertanian

pria-sukses

10-pemuda-terkaya-di-asia

.:: #9 TULISAN TERKINI ::.