Jangan Buat Isu yang Pecah Belah Warga Jika Kalah dalam Pilkada!

10 Feb 2017 - 09:33 WIB

Untuk tahun 2017, tepatnya tanggal 15 Februari 2017, melalui publikasi resmi dari Komisi Pemilihan Umum [KPU] disebutkan bahwa pada tanggal tersebut akan diadakan Pilkada serentak meliputi 7 Provinsi, 18 Kota, 76 Kabupaten.

Walaupun ada begitu banyak daerah yang akan melakukan Pilkada serentak pada tanggal 15 Februari 2017 besok, namun sepertinya yang paling seru, sekaligus memunculkan kehebohan skala nasional adalah Pilkada DKI Jakarta.

Hal tersebut wajar karena DKI Jakarta merupakan Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI].

Saat kita bicara Pilkada secara umum, bisa dipastikan semua sepakat bahwa dalam ajang pesta demokrasi bernama Pilkada ini, uang [modal] yang digunakan tidaklah murah.

Jika semua sudah sepakat bahwa untuk mengikuti Pilkada, modal yang digunakan tidaklah sedikit, maka jangan kaget dan heran jika setiap calon pasti mati-matian dengan berbagai cara agar mereka wajib menang dalam pilkada tersebut.

Berbagai macam cara tersebut sangat beragam, mulai dari cara yang baik [sesuai prosedur] dan dengan cara akhlaq yang baik, hingga cara-cara buruk [menyimpang] juga dilakukan, yang penting harus menang.

Cara-cara yang baik misalnya dengan cara masing-masing kandidat menunjukan BUKTI-BUKTI apa saja yang sudah dia lakukan untuk rakyat yang akan memilihnya, atau bisa juga dengan berkampanye sesuai aturan yang berlaku [tidak melanggar aturan dan moral].

Sedangkan cara-cara yang buruk yang masih begitu mudah kita temukan mulai dari sebarkan fitnah, hoax, dan janji-janji kebohongan, ataupun cara-cara lain yang melanggar aturan yang berlaku.

Itu semua dilakukan saat sebelum dilaksanakan “hari tenang” hingga hari pencoblosan.

Namun yang terkadang saya khawatirkan, dan ini bisa terjadi di banyak kasus pilkada, yaitu terkait adanya pihak-pihak yang melakukan cara kotor untuk mengadu-domba warga jika mereka kalah dalam pilkada!

Menurut saya hal ini sangat sensitif dan sangat mudah menimbulkan konflik antar warga [pendukung masing-masing calon].

Namun saya juga meyakini bahwa untuk mengantisipasi yang seperti ini, caranya juga sangat sulit. Alasan sulit karena ini soal Pilkada, dimana sudah saya bahas di awal, bahwa modal yang digunakan untuk ikut serta Pilkada sangatlah banyak, sehingga saat kalah, banyak yang pasti tidak bisa menerima kekalahan mereka.

Akibatnya, untuk menutupi kekecewaan mereka, ada kemungkinan mereka yang kalah tidak menerima kekalahan mereka sehingga membuat keonaran.

Biasanya isu-isu yang selalu bermunculan adalah yang terkait dengan suara pemilih ganda, money politic, dan berbagai isu kecurangan lain yang bisa menimbulkan konflik antar warga.

gambar: kpu.go.idSaya contohkan misalnya begini,

Saat musim kampanye dimunculkan isu oleh calon A, B, C, D, dan lainya bahwa di daerah diadakan pilkada tersebut terindikasi banyak KTP ganda yang akan digunakan untuk memilih calon E, F, G, H, dan seterusnya.

Isu tersebut kemudian disebarkan ke seluruh pengikut dari calon A, B, C, D, dan lainya, dan diyakinkan seolah-olah isu itu adalah fakta dan benar.

Dengan cara seperti itu, jika calon si B, C, D, kalah, maka akan memunculkan persepsi di masyarakat bahwa calon si A, B, C, D, tersebut kalah karena adanya pemilih ganda.

Padahal seharusnya jika memang mereka meyakini ada KTP pemilih yang digandakan, seharusnya segera dilaporkan ke pihak berwajib/berwenang untuk menindaklanjuti laporan tersebut. 

Kasus yang seperti itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali setiap pilkada, namun memang untuk mengantisipasi hal tersebut memanglah sulit.

Satu-satunya cara tentunya memang dikembalikan kepada warga masyarakat itu sendiri.

Jika warga tidak mudah diadu-domba dengan isu-isu yang bisa memecah-belah warga, maka saya pikir seheboh apapun isu tersebut, maka konflik antar warga tidak akan terjadi.

Kalaupun memang akan ada pihak yang dianggap curang, menggunakan politik uang, atau kecurangan-kecurangan lain, maka silahkan anda laporkan ke pihak yang berwenang menindaklanjuti laporan anda tersebut.

Saya sangat berharap, khususnya kepada netizen memiliki tanggungjawab yang besar untuk berperan serta agar tidak menyebarkan isu-isu yang bisa pecah-belah warga.

Pilkada ini adalah pesta demokrasi, maka mari kita jaga bersama-sama agar pesta demokrasi ini berjalan aman, damai dan jauh dari kerusuhan.

Harapan kita tentunya sama, siapapun pemimpin yang terpilih nantinya, semoga mereka adalah yang terbaik yang harus kita dukung jika memang sudah terpilih mayoritas warganya. Namun jika pemimpin yang kita pilih menyimpang dan mengkhianati janjinya, maka warga juga ahrus berani menuntutnya.


TAGS Politik / Pilkada /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda