Hari Raya Qurban Sudah Berulang, Kenapa Rakyat Terus yang Berkorban!

31 Aug 2017 - 10:23 WIB

Jum’at tanggal 1 September 2017 merupakan Hari Raya Idhul Adha, atau terkadang disebut juga sebagai Hari Raya Qurban.

Memahami dan memaknai Hari Raya Qurban tentunya tidak hanya sebatas berqurban kambing, sapi atau yang sejenisnya. Namun perayaan hari raya Qurban yang sudah berulang dan terus berulang di setiap tahunya, harus difahami dan dimaknai dengan makana berqurban yang lebih luas lagi.

Kalau membaca sejarah Hari Raya Idhul Adha semuanya sudah pada tahu bahwa ini bermula dari Kisah Nabi Ibrohim Alaihi Salam dan anaknya Ismail.

Ibrohim yang dikenal sangat taat atas semua perintah Alloh S.W.T diuji untuk menyembelih anaknya Ismail melalui mimpi.

Alloh ingin menguji apakah cintanya Ibrohim terhadap anaknya lebih besar daripada cintanya terhadap Alloh S.W.T.

Dan singkat cerita, cintanya Nabi Ibrohim kepada Alloh S.W.T jauh lebih besar daripada cintanya kepada Ismail.

Akhirnya Ibrohim melaksanakan perintah Alloh S.W.T untuk menyembelih anaknya Ismail yang sebelumnya sudah dilakukan musyawarah dan Ismail juga ibunya setuju atas penyembelihan terhadap Ismail, karena itu semuanya adalah perintah Alloh S.W.T.

Akhirnya saat Ismail mau disembelih, Alloh S.W.T mengganti Ismail dengan kambing dan disitulah awal mula perintah berqurban bermula.

Dari kisah tersebut bisa difahami bahwa makna hari raya Idul Adha memang sangat beragam, termasuk diantaranya adalah pesan moral akan pentingnya berkorban apa yang kita cintai demi melaksanakan perintah Alloh S.W.T.

Kalau kita menarik arti dan memaknai hari raya qurban lebih luas lagi, khususnya jika dikaitkan dengan keadaan bangsa kita Indonesia seperti sekarang ini, maka kita melihat bahwa ternyata masih banyak pejabat dan politikus kita yang belum faham apalagi memaknai hari raya qurban dengan lebih mendalam.

Untuk para pejabat negara dan para politisi yang hidup mereka dijamin dengan gaji uang rakyat yang disetor melalui pajak, maka sudah sepatutnya mereka tahu bahwa memaknai hari raya idul adha ini harus difahami sebagai hari bersejarah bahwa nereka sebagai wakil rakyat dan pejabat negara, sudah sewajibnya untuk berani berkorban demi rakyat.

Sudah seharusnya, jika selama ini rakyatlah yang selalu berkorban hartanya disetorkan ke pajak yang kemudian dinikmati oleh walil rakyat dan pejabat negara, melalui momment hari raya qurban, sewajibnya mereka menyadari dan bertaubatlah jika seharusnya sebagai wakil rakyat, kalian harus lebih banyak berkorban lagi untuk rakyat.

Yang namanya berqurban itu tentunya melakukan sesuatu yang ada di luar kewajiban utama mereka.

Maksud saya begini, jika anggota DPR digaji oleh rakyat memang untuk menjadi wakil dan perjuangkan rakyat, maka dengan bekerja saja itu belum layak disebut berkorban. Karena menurut saya, seandainya ada anggota DPR atau pejabat negara bekerja dengan baik jadi wakil rakyat, maka itu bukan berqurban melainkan justru KEWAJIBAN dan sama-sekali bukanlah berqurban untuk rakyat.

Soalnya mereka melakukan itu semua karena sudah dibayar tinggi oleh rakyat, lengkap dengan fasilitas super mewahnya, ditambah korupsi bagi yang kurangajar dan tak punya malu.

Jika mereka ingin berqurban untuk rakyat, maka mereka seharusnya melakukan sesuatu yang itu diluar tugas dan kewajiban mereka sebagai wakil rakyat.

Misalnya saja, karena gaji dan tunjangan mereka sudah terlalu besar, maka ada baiknya mereka anggota DPR dan politikus untuk bisa menggunakan sebagian gaji dan tunjangan mereka untuk diberikan kepada orang-orang miskin yang membutuhkanya.

Tentunya bukan hanya berqurban sapi atau kambing saat lebaran idhul adha saja, melainkan bisa dilakukan sesering mungkin.

Dengan cara tersebut diharapkan kita bisalebih memaknai hari raya Qurban ini tidak hanya sebatas saat datang hari raya Idhul Adha saja, melainkan juga bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan cara itupula, rakyat mungkin tidak ada rasa apatis terhadap para wakil rakyat dan pejabat negara tersebut.

Namun tentunya hal tersebut sulit terwujud, karena ini sudah soal mental. Jangankan kok disuruh berqurban seperti yang saya sebutkan diatas, mereka cuman disuruh melakukan KEWAJIBAN bekerja dengan baik karena sudah digaji tinggi oleh rakyat lengkap dengan tunjanganya, toh perilaku mereka tetap saja masih yang suka bolos, kerja tak becus sesuai target kerja, hingga korupsi dan perilaku buruk lainya yang bisanya bikin rakyat emosi.


TAGS Hari Raya Idul Adha /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda