Ketika Orang Miskin Ingin Terlihat Kaya

29 Aug 2017 - 08:23 WIB

Salah satu penyakit yang mungkin sulit diketahui cara pengobatanya adalah penyakit-penyakit yang terkait dengan kejiwaan, mental, dan sifat seseorang.

Jika anda sakit jantung, tumor, darah tinggi, dan sejenisnya tersebut, mungkin akan dengan mudah anda berobat dan segera diketahui jenis obat dan penangananya.

Namun bagaimana jika yang sakit adalah berdasarkan mental, psikologi, dan kejiwaan dari seseorang, tentunya sangatlah sulit untuk menvonis, apalagi ada niat dan keinginan untuk memperbaikinya.

Coba anda lihat para komentator netizen yang suka bully dan sebarkan hoax, secara keilmuan psikologi dan kejiwaan, orang-orang tersebut sudah tergolong sakit mental dan kejiwaanya, namun sangat sulit diobati, karena mereka tiak akan pernah merasa sakit.

Hal yang sama terjadi juga dalam hal kasus lain.

Kasus lain yang ingin saya sebut adalah adanya fenomena yang menurut saya semakin parah dan menggila, yaitu adanya banyak orang yang secara masif berkembang sangat pesat, adalah adanya penyakit “orang-orang miskin yang ingin terlihat kaya”.

Fenomena seperti ini, saya bisa katakan dari jaman saya sekolah, syaa jujur mengakui jika saya tidak bisa mengontrol kejiwaan saya untuk bisa tetap normal dan realistis, mungkin saya bisa terkena jenis penyakit tersebut ["orang miskin yang ingin terlihat kaya"].

Sekalian saya ceritakan saja pengalaman apa yang saya alami secara pribadi saat saya masih di bangku sekolah dahulu. Dimaana saat itu saya juga hampir saja terserang penyakit tersebut ["orang miskin yang ingin terlihat kaya"]

Saat itu untung saja belum ada sosial media seperti sekarang ini, jadi tidak terlalu terpancing untuk tertular penyakit yang menurut saya sangat mengerikan tersebut ["orang miskin yang ingin terlihat kaya"].

Saat itu saya juga memiliki rasa bagaimana biar saya membayangkan jadi orang kaya, sekolah pakai motor, pakai baju ke sekolah yang bagus dan mahal, sampai berharap berangkat ke sekolah pakai motor yang bagus.

Padahal faktanya, saya hanya anak petani miskin di kampung, sekolah hanya bisa pakai sepeda bekas peninggalan kakak saya, orang tua tidak pernah bisa kasih uang saku, dan sepulang sekolah ahrus menggembalakan kambing.

Nah, atas kondisi tersebut, pernah suatu saat beberapa teman sekolah saya ingin main ke rumah saya, saat itulah saya merasa ada penyakit tersebut yang hampir saja menjangkit kejiwaan saya ["orang miskin yang ingin terlihat kaya"].

Saat teman saya mau main ke rumah saya, saya sempat takut, nanti kalau teman-teman saya tahu kalau rumah orang tua saya jelek, lantai masih pakai tanah, genteng sudah pakai genteng yang sudah keropos, berdindingkan anyaman bambu, dan kondisi kemiskinan lainya, sehingga saya sempat takut, nanti apakah teman-teman saya tersebut masih mau berteman dengan orang semiskin saya, apalagi mau main lagi ke rumah saya.

Namun saya bersyukur, saat itu saya memutuskan untuk bernegosiasi dengan jiwa psikologi saya untuk tegas berkata dalam hati begini, “Saya memang anak orang miskin di kampung, kenapa saya ahrus malu dan takut menunjukan kalau saya memang anak orang miskin!, kalau teman saya mau berteman dengan saya silahkan, dan kalaupun tidak juga tidak ada masalah!”

Akhirnya teman saya benar-benar pada datang main ke rumah dan mereka juga tahu sepulang sekolah saya harus gembalakan kambing. Namun saat itu karena ada teman datang ke rumah, maka saya izin untuk cari pakan kambing terlebih dahulu.

Beruntunglah teman-teman saya tersebut justru snagat baik dan bahkan mereka maalh menemani saya cari pakan kambing di bukit dekat rumah saya.

Dan perlu anda tahu juga, teman-teman terbaik saya tersebutlah yang kemudian memotivasi saya untuk tetap mau kuliah agar bisa lebih maju dan sukses. Dan teman-teman saya tersebut jugalah yang selalu membantu saya saat saya sednag kesulitan saat kuliah, bahkan harus diusir dari kost gara-gara tak bisa bayar kost.

Singkatnya, saya justru menemukan teman-teman terbaik saya gara-gara saya dahulu memutuskan untuk jangan tertular penyakit yang saya sebut, “orang miskin yang ingin terlihat kaya”.

Seandainya saya dahulu jadi orang yang sudah miskin tapi kok sok kaya, mungkin teman-teman saya justru malah membenci saya dan meninggalkan saya.

Namun gara-gara saya terbuka apa adanya, dan memang saya selalu katakan akan kemiskinan saya, namun saya selalu katakan bahwa saya mau melakukan usaha untuk bisa maju tanpa ahrus malu, maka saya bisa menemukan teman terbaik saya.

Dan ketika saya melihat fenomena sekarang ini, apalagi dengana danya sosial media, kita bsa dengan mudah melihat perilaku-perilaku yang menurut saya sangat menyeramkan, dimana banyaknya penyakit “orang-orang miskin yang ingin terlihat kaya”.

Akibatnya, sosial media justru dijadikan ajang untuk pamer kekayaan.

Apalagi di kalangan remaja dan mahasiswa, banyak yang sebenernya kehidupan mereka biasa-biasa saja, tapi di sosial media sok belagu dan terlihat kaya. Padahal uang saja masih minta sama orang tua, tapi belagunya sungguh luar biasa!

Kaya dan miskin memang sangat sulit diukur karena sejatinya kaya dan miskin hanya bisa diukur dari jiwa setiap orang, yang kadar standarnya beda-beda.

Kalau kita merasa cukup dengan gaji 2-3 juta perbulan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, maka sejatinya kita sudah bisa tergolong kaya jiwanya.

Namun tidak sedikit banyak orang terlihat kaya, banyak hartanya, tapi miskin jiwanya, itu kenapa kemudian mereka menumpuk kekayaan mereka bertumpuk-tumpuk, namun hatinya tetap miskin.


TAGS Sosial /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda