Masih Suka Mencela di Sosial Media, Tanda Hidup Mereka Kurang Bahagia?

10 Aug 2017 - 08:40 WIB

Saat ini dan mungkin untuk seterusnya, jika anda seorang netizen yang sering online di sosial media, anda tidak perlu kaget dan terkejut jika tetap akan ada orang-orang yang selalu masih sibuk mencela di sosial media.

Alasanya simple dan sederhana, dimanapun di dunia ini, akan selalu muncul yang namanya hukum alam [sunatulloh]. Dimana ada orang baik, pasti ada orang buruk, ada orang berakhlaq baik, ada orang yang berakhlaq tidak baik, begitu seterusnya.

Termasuk di sosial media, anda pasti juga akan menemukan fakta-fakta tersebut, dimana ada orang yang menggunakan media sosial dan internet untuk menyebarkan kebaikan, inspirasi, nasihat, gerakan sosial, dan berbagai aktivitas positif lainya.

Namun sebaliknya, di sosial media, saya juga berani memastikan pasti akan selalu saja ada orang-orang yang mengunakan sosial media untuk aktivitas yang buruk dan tercela [negatif].

Salah satu hal buruk yang mudah kita temukan di sosial media adalah terkait dengan mudahnya kita menemukan orang-orang yang masih sibuk mencela dan saling hujat di sosial media.

Bahkan yang lucu dan membuat saya miris, masih banyak loh yang hingga detik ini masih sibuk saling cela dan saling menghina soal mereka yang pro Jokowi dan yang Pro Prabowo, yang kemudian secara membabi buta selalu saling cela di sosial media.

Saya sebenarnya tidak menyalahkan dan mempersoalkan seseorang untuk pro Jokowi maupun Pro Prabowo, karena kalau saya sebagai orang yang masih “waras” dan bisa menilai dari dua sudut pandang, saya akan bisa memastikan bahwa Jokowi maupun Prabowo, pastilah mereka berdua memiliki KEKURANGAN dan KELEBIHAN masing-masing.

Jadi untuk apa kita menjadi orang yang begitu “NAIF” menyadari ini, yang sudah sewajibnya tidak perlu berlebihan saat bicarakan dua tokoh tersebut.

Jadilah orang yang jangan terlalu “LEBAAAAAAAY” dalam menyikapi sesuatu hal.

Jadilah orang yang bisa menggunakan akal dan fikir juga dzikir kita, untuk mengontrol “NAFSU” dan syahwat kita untuk jangan mudaaah saling cela dan menghina.

Jika Jokowi memang memiliki karya dan bukti kerja nyata, apa sulitnya lidah dan tangan anda memujinya. Namun bukan berarti Jokowi adalah orang yang tanpa cela. Nah, saat kita melihat ada cela dan kekurangan yang ada pada Jokowi, sampaikanlah dengan akhlaq yang baik dan memegang norma.

Demikian juga dengan halnya saat kita bicarakan sosok Prabowo. Sosok Prabowo pasti juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika memang Prabowo lakukan sebuah kebaikan dan punya prestasi, apa sulitnya kita memberikan pujian kepadanya. Namun sebaliknya, kalaupun Prabowo ada cela dan kekurangan, bukan berarti kita bebas seenaknya menghina dan mencelanya.

Ingatlah bahwa siapapun tokoh idola anda, apalagi kok cuman idola politikus, saya pastiikan selalu saja ada kelebihan dan kekurangan dimilikinya. Jangan terlalu memuji, tapi juga jangan terlalu membenci. Yang biasa-biasa saja.

Masa sih, anda disekolahin dari TK-SD-SMP-SMA-bahkan mungkin sampai kuliah, tapi hanya urusan begini saja kalian begitu sulit memahami dan berfikir simple sebagaimana saya sebut diatas?

Cobalah sekali-kali gunakan nalar dan fikir juga dzikir kita untuk bisa bersikap bijak di sosial media.

Namun terkadang, memang terlalu sulit untuk memberikan nasihat kepada netizen yang sudah begitu terbiasa saling cela di sosial media.

Sampai-sampai, saya pernah berdiskusi dengan teman saya, “kenapa ya, kok bisa-bisanya mereka para netizen kok hanya soal Jokowi - Prabowo, soal AHok, maupun isu-isu yang sedikit kontroversi saling cela dan saling hina terus menerus tanpa ada hentinya!?”.

Ternyata jawaban teman saya sangat simple dan sederhana,

“MUNGKIN HIDUP MEREKA KURANG BAHAGIA…” :-)

Soalnya, pakai logika saja, orang yang hidupnya sudah bahagia, kemungkinanya sulit untuk mencela orang lain. Apalagi kalau memang hatinya baik dan bersih, tidak akan mungkin dia mengotori hatinya yang baik itu untuk mencela orang lain.

Apalagi mencela dan menghina itu kan memang dilarang oleh semua agama, bahkan iblis saja diusir oleh Alloh S.W.T karena kesombonganya yang kemudian menghina Adam yang terbuat dari tanah dan iblis merasa lebih baik karena terbuat dari api?

Jawaban teman saya itu kok kemudian saya cerna dan saya coba telusuri beberapa teman-teman di daftar list teman saya [yang kebetulan sudah saya unfollow karena memang timeline mereka hanya dipenuhi celaan dan hinaan untuk orang-orang yang dibencinya], ternyata memang, hidup mereka sepertinya kurang bahagia.

Kalau saya baca statusnya penuh dengan kegalauan dan seperti orang stress yang ada berita apapun yang tidak sesuai dengan pemikiranya, langsung dihujat dan dicela, ternyata benar-benar menunjukan betapa tidak bahagianya hidupnya :-)

Namun berbeda sekali dengan teman-teman saya yang selalu menyebarkan kebaikan, sering share tentang kegiatan donasi sosial, kegiatan sebarkan literasi di daerah-daerah, dan berbagai kebaikan lainya, ternyata kehidupan mereka sungguh harmonis dan membahagiakan.

Dari sinilah kemudian saya juga berfikir bahwa menjadi netizen yang selalu sering online dan akses berita maupun aktif di sosial media, ingin menjadi baik ataupun jadi orang yang tercela, semuanya dikembalikan kepada diri kita masing-masing.

Namun saran saya, janganlah anda memilih menjadi netizen yang suka mencela dan terlalu sibuk menghina dan oranglain, sampai-sampai anda lupa untuk bercermin diri sendiri, apakah kita orang yang sudah begitu baik daripada orang lain?

Daripada sibuk mencela dan mengurusi kehidupan orang lain, lebih baik bahagiakanlah diri kita sendiri, yang kemudian jika kita sudah bisa memperbaiki hidu kita, barulah kita sebarkan kebaikan yang bisa dinikmati orang lain. yang tentunya dilakukan dengan cara yang baik pula.


TAGS Sosial / Netizen /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda