Ngotot Bentuk Pansus Angket KPK, DPR Wakil Rakyat atau Wakil Koruptor?

7 Jun 2017 - 09:43 WIB

Saya termasuk orang yang hingga detik ini sama sekali tak pernah merasa terwakili suara saya di DPR yang katanya wakil rakyat.

Pernah saat itu saya sempat punya harapan dengan sebuah partai yang memang begitu terkesan alim dan berwibawa di daerah saya, namun ternyata, itu hanya penampilan saja dan ujung-ujungnya tidak ada yang membedakan mereka dengan yang lainya.

Sejak saat itu saya sama sekali tak tertarik memilih wakil rakyat hingga sekarang!

Saya baru akan pilih wakil rakyat jika memang ada orang-orang yang sudah saya kenal, dan sudah saya tahu kinerjanya dia untuk masayrakat, maka saya akan siap memilih mereka. 

Sayangnya orang-orang baik yang saya kenal justru memang sama sekali tak tertarik untuk jadi wakil rakyat di DPR, karena takut niat baik mereka selama ini untuk berbakti rakyat dirusak oleh kepentingan politik dan urusan duniawi.

Mereka juga menegaskan kehati-hatian mereka jika sampai terjun ke politik jika sampai menerima uang yang haram yang itu sangat mereka takuti.

Mereka-mereka yang kukenal juga menegaskan dan berprinsip, untuk menolong sesama bisa dilakukan tanpa harus menunggu jadi DPR.

Orang-orang yang saya kenal baik dan saya harapkan maju untuk jadi wakil rakyat, tapi mereka justru lebih suka jadi orang biasa tapi aktivitas mereka setiap hari hampir selalu dicurahkan untuk menolong masyarakat di sekitarnya yang sewajibnya itu dilakukan oleh mereka yang katanya “wakil rakyat”.

Rasa apatis saya dengan partai politik, apalagi dengan anggota DPR, sungguh teramat kronis dan tak ada celah untuk bisa percaya dengan mereka [DPR].

Apalagi kalau ingat setiap mau bayar pajak, kemudian mengingat yang namanya DPR, rasanya tak sudi saya untuk bayar pajak yang ternyata uang-uang pajak yang “diperas” dari rakyat bersusah payah bekerja, tapi harus mengalir ke perut orang-orang di DPR yang menurut saya sangat memuakan sekali.

Kini, rasa muak saya dan apatis saya terhadap DPR kembali muncul saat membaca kabar tentang betapa ngototnya Fahri Hamzah Cs untuk tetap melanjutkan bentuk Pansus Angket KPK.

Khusus untuk Fahri Hamzah, saya benar-benar muak sekali dengan orang ini yang sudah berkali-kali terang-terangan ingin membubarkan KPK sejak dulu. Bahkan di tahun 2011, dengan tak punya malu ini orang tetap ngotot dan tegas ingin bubarkan KPK.

Apalagi saat itu partai yang kata mereka [tapi saya sama sekali tak percaya] ingin berjuang atas nama agama Islam yaitu PKS justru dalam salah satu pemberitaan PKS mendukung si Fahri Hamzah untuk bubarkan KPK.

Sejak saat itu, saya selalu berfikir bahwa orang-orang ini begitu ngotot ingin bubarkan KPK, yang saya berani pastikan seluruh Koruptor dan calon koruptor pasti sangat mendukung rencana Fahri Hamzah untuk terus bubarkan KPK.

Saya pikir, dengan adanya pernyataan Fahri Hamzah yang tetap ngotot ingin bubarkan KPK, saya prediksi para Koruptor dan calon-calon jamaah koruptor pasti sangat senang dengan Fahri Hamzah dan MENDUKUNG PENUH rencana Fahri tersebut untuk bubarkan KPK.

Karena jika KPK dibubarkan atau minimalkan dilemahkan, maka saya berani pastikan, gerombolan Koruptor dan calon-calon koruptor pasti akan SENANG DAN BERPESTA.

Dengan melihat ini semua, saya kemudian jadi ingin mengeluarkan sebuah pertanyaan yang sangat mengganjal di pikiran saya, Sebenarnya DPR itu WAKIL RAKYAT atau WAKIL KORUPTOR?

Jika memang anda wakil rakyat, kenapa anda tidak dengarkan suara-suara mayoritas rakyat yang ingin tetap mendukung keberadaan KPK, dan jangan lemahkan KPK.

Namun faktanya, kalian justru tetap saja ingin melakukan upaya yang itu sangat bisa melemahkan KPK, termasuk dengan tetap ngotot akan bentuk pansus angket KPK.

Dan bukankah ketika KPK dilemahkan bahkan dibubarkan, bukankah yang menyukai itu adalah mereka para koruptor?

Jadi sebenarnya DPR itu wakil rakyat atau wakil Koruptor?

Namun saya sama sekali tidak membutuhkan jawaban dari kalian anggota DPR, karena saya cukup melihat perilaku anda, bukan mendengarkan sumpah serapah suara anda.

Saya sebagai rakyat cukup melihat perilaku anda!

Jika memang anda masih ingin disebut wakil rakyat, maka berperilakulah seperti apa yang disukai oleh mayoritas rakyat Indonesia, bukan justru terkesan melakukan perilaku yang itu sangat disukai oleh koruptor.

Sebenarnya saya lagi puasa dan tidak ingin membuat tulisan yang seperti ini. Namun saya melakukan ini karena saya benar-benar dibuat gregetan oleh perilaku DPR, khususnya yang ingin etap ngotot bentuk pansus angket KPK.

Saya memang golput dan tidak memilih wakil rakyat, tapi ingatlah bahwa, saya rakyat Indonesia yang setiap beli barang di negeri ini, selalu bayar pajak, setiap penghasilan yang saya dapat, selalu dipotong untuk bayar pajak, yang itu semuanya salah satunya dinikmati untuk anda para anggota DPR yang menyebalkan.

Jadi disini saya tetap punya hak sebagai rakyat untuk mengawasi perilaku anda yang semakin menyebalkan!


TAGS Politik / Pansus Angket KPK /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda