Film 212 The Power of Love: Film KONTROVERSI Aksi Bela Islam 212

24 May 2017 - 09:55 WIB

Film 212 The Power of Love: Film KONTROVERSI Yang Bercerita Tentang Aksi Bela Islam 212.

Jika anda seorang pebisnis, sudah pasti tujuan utama dari sebuah bisnis adalah keuntungan.

Bahkan, bagi seorang pebisnis, yang dilakukan setiap hari adalah selalu mencari celah dan cara, bagaimana sebuah peristiwa apapun di sekitar kita, bisa menjadi bisnis yang menguntungkan.

Hal ini bisa dimulai dari hal yang kecil. Misalnya seorang tukang tambal ban, saat melihat ada orang motornya bocor, itu artinya ada peluang untuk membuka jasa tambal ban. 

Jika ada banyak orang suka kuliner, maka itu artinya peluang bisnis untuk membuat restoran, warung makan, dan sejenisnya, begitu seterusnya.

Termasuk dalam industri film, setiap sutradara dan tim mereka, setiap hari juga pasti berfikir, bagaimana bisa membuat sebuah film, yang bisa membuat banyak orang menonton film tersebut, yang ujung-ujungnya pasti mengeruk banyak untung.

Strategi ini dinilai wajar dan sudah lumrah dalam dunia perfilman. Misalna yang sering kita lihat, jika ada moment jelang hari pahlwan, maka biasanya itu akan dijadikan moment dengan film-film yang bertemakan tentang nasionalisme, kebangsaan, dan sejenisnya.

Begitu juga saat jelang hari Valentine, biasanya akan bermunculan film-film bertemakan dengan cinta dan kasih sayang.

Saat jelang Ramadhan dan puasa, biasanya juga akan bermunculan film-film yang berbau religi.

Dan menurut saya semua itu wajar kalau kita melihat dari “kaca mata” seorang pebisnis di dunia perfilman.

Termasuk salah satu film yang saya prediksi akan membuat kontroversi, adalah film berjudul “212 The Power of Love”.

Film “212 The Power of Love” ini menurut saya mengambil momment masih tetap munculnya kontroversi terkait aksi 212, yang ada sebagian meyakini jika ini adalah murni urusan politik dengan mengerahkan atas nama islam. Sedangakn pendapat yang lain ada yang meyakini jika aksi 212 itu adalah murni panggilan jiwa untuk membela Islam.

Nah, dua kelompok tersebut secara masif dan terus menerus masih terus ada hingga sekarang.

Walaupun kalau kita bicara secara hukum, kasus ini bisa dianggap selesai karena Ahok sudah dihukum, dan bandingnya Ahok juga sudah dicabut, dan sudah menerima vonis hakim atas hukuman yang ditimpakan kepada Ahok.

Namun walau sudah selesai secara hukum, kasus ini tetap selamanya akan muncul kembali jika ada pihak yang mencoba mengangkat dan mengingatkan kita kembali atas kasus tersebut.

Saya berfikir, karena isu aksi 212 adalah sebuah isu yang sangat sensitif dan mampu menciptakan kontroversi, maka bagi seorang bisnis perfilman, isu ini menjadi peluang yang sangat menjanjikan untuk difilmkan, karena bisa dipastikan akan menjadi film yang jadi pusat perhatian.

Jika sudah muncul banyak kontroversi, nanti secara otomatis film ini akan jadi pusat pemberitaan di seluruh media nasional, sekaligus di seluruh media sosial, film ini akan “dipromosikan” secara gratis karena kontroversi yang ada di dalam film ini.

 

Jalan Cerita Film ”212 The Power of Love”

Kalau saya baca beberapa sinopsis yang sudah beredar di beberapa media, Film “212 The Power of Love” yang di produseri dan di sutradarai Jastis Arimba ini bercerita tentang kisah Rahmat, seorang jurnalis di salah satu media besar. Secara tidak disangka-sangka pulang ke kampung halamannya karena sang ibu meninggal dunia.

Dalam Film “212 The Power of Love”, digambarkan jika Rahmat seringkali bertengkar dengan ayahnya yang dikenal memiliki watak keras. Tak disangka Ayah Rahmat yang sudah sangat tua, yang juga seorang tokoh agama di desanya, pada akhirnya ikut melakukan aksi longmarch bersama para kaum muslimin di desanya, untuk segera pergi ke Jakarta dan ikut berpartisipasi dalam aksi 212.

“Di film ini ada beberapa kisah emosional yang banyak daya tariknya bagi rekan-rekan yang ikut aksi ini. Dan menjadi cara awal skeptis dan berubah pandangannya terhadap Islam. Akhirnya kami mendevelop sebuah cerita dengan ‘212 The Power of Love’,” ujar Jastis, sang sutradara saat ditemui di Abuella Cafe, Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Selasa malam (sumber: detikHot, 23/5).

Diceritakan juga jika dalam Film “212 The Power of Love” Rahmat berbeda prinsip dengan sang ayah. Rahmat menganggap aksi ini hanya merupakan sebuah gerakan politik dengan menunggangi umat Islam dalam suatu kekuasaan. Pada akhirnya, ia terpaksa ikut aksi tersebut untuk menemani ayahnya yang sudah tua renta.

“Ini cerita cinta antara hubungan manusia satu dengan yang lain dan juga cinta manusia terhadap penciptanya. Secara sederhana film ini menceritakan sosok Rahmat yang sudah berpisah 10 tahun dari ayahnya yang seorang tokoh agama. Mereka masih saling membenci dan tidak bertegur sapa dan pada akhirnya dia merasa terjebak dalam aksi 212,” jelas Jastis.” [sumber: detikHot].

Nah, mungkin terlalu dini kita mengambil kesimpulan dari hanya potongan jalan cerita dalam Film “212 The Power of Love” ini.

Namun kalau saya analisa, poin dari film ini tetap memang hanya faktor bisnis dan hanya sekedar cari UNTUNG saja, dengan MEMANFAATKAN dua kubu yang hingga detik ini masih tetap pro dan kontra.

Karena kalau soal bicara kasus ini, mau disimpulkan seperti apapun, dua kubu [pro dan kontra Ahok], selamanya tidak bisa disatukan jika pada kenyataanya masing-masing kelompok tersebut memang sudah sama-sama ngotot jika merekalah yang paling benar.

Ini menunjukan jika film ini memang lebih bertujuan bisnis semata.

Memang semua film memang sudah pasti mau dikemas apapun sudah pasti tujuan utamanya adalah keuntungan. Namun menurut saya, mencari keuntungan dari film dengan “MEMANFAATKAN” dua kubu yang memang sulit dipersatukan adalah sebuah sikap yang kurang bijak.

Bahkan kalau menurut saya, dengan adanya Film “212 The Power of Love” ini, akan bisa membuka luka lama akan adanya perseteruan dan permusuhan dua kubu [Pro dan Kontra Ahok], yang sebenarnya secara kasus hukumnya sudah berakhir.

Bagaimana menurut pendapat anda?

Trailer Film “212 The Power of LOve”


TAGS Film 212 The Power of Love / 212 The Power of Love / Entertainment / Hiburan / Film / Film Tentang Aksi Bela Islam /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda