Tidak Semua Netizen Ingin Jadi Orang Baik!

12 May 2017 - 08:54 WIB

Sebelum terjadi banyaknya kampanye hitam yang sangat masif dan terstruktur saat kampanye pilpres 2014 yang lalu, perilaku netizen tidak separah yang sekarang terjadi.

Dahulu, sosial media hanya sekedar dijadikan ajang narsis, update status aktivitas harian, traveling, dan sejenisnya. Namun sangat jarang sekali digunakan untuk membuat update status yang sebarkan kebencian, hujatan, apalagi fitnah.

Namun sejak musim kampanye pilpres 2014 yang lalu, dimana banyak buzzer bayaran yang jadi tim sukses dadakan, seolah berakibat buruk terkait banyaknya penyalahgunaan sosial media, yang dijadikan sebagai alat propaganda dalam memecah belah netizen.

Hal ini menurut saya “KEUNTUNGAN” besar bagi sang “PROVOKATOR”, namun teramat sangat berakibat BURUK untuk perkembangan di sosial media.

Saya katakan memberikan KEUNTUNGAN bagi sang provokator, karena mereka sukses “MENCUCI OTAK” netizen yang “bersumbu pendek” dan terlalu bodoh untuk dibodohi, yang kemudian netizen tersebut tanpa diperintah sekalipun, mereka akan “sebarkan kebencian” di sosial media setiap saat dan setiap waktu.

Anda pasti bisa melihat sendiri, bagaimana permusuhan dua kubu netizen di sosial media, sejak pilpres 2014 lalu dengan sekarang, tidak pernah ada hentinya, bahkan semakin mengerikan.

Hal ini bisa kita lihat secara nyata, dimana saat ada pemberitaaan yang memunculkan wajah Jokowi, apalagi memunculkan keberhasilan Jokowi dalam pemerataan pembangunan di berbagai daerah misalnya, maka kubu yang dahulu tidak memilih [tidak suka] Jokowi, akan tetap membully dan menganggap jika apa yang sudah dilakukan Jokowi sama sekali tidak bernilai apapun.

Bahkan pembangunan jalan di papua, di sumatera, dan berbagai daerah lain di Indonesia sempat dikabarkan hoax.

Demikian juga dengan pemerataan listrik ke pelosok-pelosok daerah terpencil juga tetap dianggap kebohongan.

ilustrasiNamun jika ada sedikit kesalahan atau informasi buruk saat di era Jokowi, mereka akan dengan sangat BANGGA membully dan menghina Jokowi dan semua jajaranya.

Hal yang juga terjadi sebaliknya, Jika ada pemberitaan terkait Prabowo dan pengikut setianya yang terkesan negatif, maka para pendukung Jokowi akan membully habis-habisan Prabowo dan pengikutnya.

Begitu seterusnya…

Ironisnya, terkadang netizen yang sebelumnya saya kenal sebagai orang yang baik dan santun dan sering menyebarkan kebaikan di sosial media, tidak sedikit yang tiba-tiba terpancing, dan tersulut emosinya yang kemudian berubah jadi orang yang sangat kasar status-statusnya di sosial media.

Jujur saja, saya sendiri di Pilpres 2014 yang lalu memang pernah juga terpancing dan tersulut untuk ikut mendukung salah satu pasangan. Bedanya dengan netizen lain yang disertai menyebarkan kebencian, saya hanya fokus untuk menyampaikan fakta dan data terkait keberhasilan dan apa yang sudah dilakukan oleh calon yang saya pilih tersebut.

Namun begitu pilpres usai, saya kemudian memutuskan mulai saat itu untuk BERHENTI dari bagian orang yang mendukung pasangan melalui akun media sosial saya. Karena saya tetap akan selalu kritis dengan siapapun presidenya, jika itu baik, saya akan dukung dan saya abntu publikasikan. Namun jika buruk, tetap saja saya siap menuliskan juga keburukan tersebut agar bisa diperbaiki.

Saya sendiri sama sekali tidak mau terjebak untuk jadi orang yang mudah terprovokasi di sosial media.

Saya juga tidak mau termasuk kedalam golongan “Orang Bodoh” yang begitu mudah diprovokasi oleh pihak yang saya sendiri tidak kenal mereka, dan jauh lebih penting dari itu, karena itu PERBUATAN yang SALAH dan BERDOSA dan sama sekali tak ada manfaatnya!

Karena alasan itulah saya meninggalkan itu semua, dan sekarang memang secara terus menerus, dan berbagai kesempatan, saya akan aktiv menulis yang mudah-mudahan bisa mengajak netizen lain untuk juga meninggalkan perilaku buruk tersebut di sosial media.

Saya sangat menyayangkan, dibalik begitu banyak manfaat sosial media, namun justru malah disalahfungsikan dengan menyebarkan kebencian, fitnah, dan keburukan lainya.

Namun sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari, kita memang pasti akan selalu menemukan HITAM dan PUTIH, begitu juga di kalangan netizen. 

Diantara Netizen, ada diantara mereka yang memang ingin jadi Netizen yang baik, namun memang pada kenyataanya, ada golongan Netizen yang memang LEBIH SUKA dan BANGGA untuk memilih jalur yang SALAH.

Jika kita melihat netizen yang memilih jalan yang benar, maka setiap status sosial di akun media sosialnya, netizen tersebut selalu membuat status yang menyebarkan kebaikan, inspirasi, motvasi, dan berbagai kebaikan lainya.

Namun bagi Netizen yang sudah memilih “jalan sesat” dan memilih keburukan sebagai pilihanya, maka setiap hari yang mereka update hanya selalu terkait keburukan, kebencian, selalu merasa paling benar sendiri, selalu emnghina dan merendahkan orang lain, dan berjuta keburukan lain yang selalu menghiasi akun media sosialnya.

Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang begitu sudah jauh terjerumus dalam “jalan sesat” di sosial media.

Atas nama agama justru menghina orang lain, atas nama agama tapi menfitnah. Atas nama agama tapi merasa diri paling benar, Atas nama agama tapi merendahkan orang lain, Atas nama agama tapi sebarkan kebencian, atas nama agama tapi berkata kasar, atas nama agama tapi menunjukan pribadi yang pemarah, atas nama agama tapi menunjukan sifat sombong, atas nama agama tapi menunjukan sifat iri, dengki, dan berbagai sifat buruk lainya.

Padahal kita tahu, Iblis saja, diusir dari Syurga karena sifat SOMBONG dan MERASA DIRI PALING BAIK DAN PALING BENAR SENDIRI??!

Padahal jelas-jelas agama memerintahkan umatnya untuk selalu berkata yang santun, berakhlaq mulia, menjadi pribadi yang pemaaf, bahkan dengan orang yang bersalah sekalipun, agama memerintahkan supaya kita tetap bersikap adil dan tidak bersikap semena-mena.

Namun, begitulah manusia, kita sebagai manusia bisa jadi orang yang jauh lebih baik dari malaikat, jika kita mampu menjaga pribadi kita dan akhlaq kita dengan sebaik-baiknya dan selalu bisa menjauhi keburukan.

Sebaliknya, manusia bisa jauh lebih hina dari binatang, jika sebagai manusia tidak bisa menjaga nafsu, ambisi, sifat sombong, angkuh, iri dengki, dan berbagai perilaku buruk lainya.

Demikian juga untuk kita para netizen, apakah anda akan memilih jadi golongan netizen yang baik atau salah, itu ditentukan oleh kwalitas dan perilaku kita di sosial media.


TAGS Netizen / Teknologi / Sosial media / social media /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda