Tipu-tipu Daun Jadi Uang: Ketika Sifat Tamak Membuat Kita Jadi Bodoh!

6 Apr 2017 - 10:05 WIB

Saya tidak peduli jika judul tulisan saya ini dianggap terlalu kasar dan kurang sopan. Tapi menurut saya ini sudah kondisi yang darurat!, dan semoga saja tulisan saya ini bisa jadi warning agar kita tidak sampai jadi orang “bodoh”, hanya karena sifat tamak, rakus, yang kita pelihara, kemudian membuat kita menjadi begitu bodoh untuk ditipu dengan tipuan yang sangat tidak masuk akal!

Tulisan ini saya buat menyusul terungkapnya penipuan berkedok pengajian yang menjanjikan daun jadi uang di Tangerang yang ternyata korbanya tidaklah sedikit.

Total kerugian para korban tak tanggung-tanggung karena mencapai  lebih dari Rp 1 miliar.

Yang membuat saya heran dan benar-benar tidak percaya, yaitu karena pelaku dalam menipu cukup bermodal daun kering yang diserahkan kepada orang yang minta uangnya digandakan.

Kalau menggunakan akal, logika, dan hati yang bersih tanpa ada rasa TAMAK dan RAKUS karena ingin cepat kaya dan banyak uang, pastinya tidak akan mungkin bisa tertipu dengan model begituan.

Jangankan kok ditipu dengan model penggadaan uang, kalau mereka yang tidak rakus dan tamak dengan urusan uang, dan kekayaan, diajak atau dirayu pihak bank sekalipun yang resmi dan legal untuk supaya simpan deposito di bank saja pasti juga tetap berhati-hati dan waspada, dan pasti tidak sulit ditipu. Apalagi kok sampai ditipu digandakan uangnya dengan daun yang disimpan di kardus, kalau bukan orang yang memang rakus dan tamak juga ingin kaya mendadak, tidak mungkin bisa tertipu.

[Baca juga: Kasus Penggandaan Uang, Jika Benar, Pelaku Tidak Mungkin Minta Duit!]

Kalau saja saya bisa membaca dan menduga di hati pelaku penipuan penggadaan uang dengan daun tersebut, mungkin hatinya akan berfikir begini,

ilustrasi: detik.com“Ini kok ada orang ambisi banget dan pengin cepat kaya mendadak, kalau gitu ak tipu saja deh biar saya dapat untung banyak dari orang-orang model begini. Mereka pasti akal fikiranya sudah tertutupi dengan sifat rakus dan tamak ingin kaya mendadak, jadi tidak mungkin akal sehat mereka dipakai. Kalau logika dan akan sehat mereka dipakai, harusnya mereka bisa berfikir, kalau saya bisa gandakan uang dari daun jadi uang, ngapain juga saya minta duit ke mereka?!”

Nah, setidaknya itulah mungkin isi hati dari si pelaku penipuan tersebut.

Hal itu juga yang saya pikirkan, seandainya saja si pelaku memang bisa ubah duit jadi uang, untuk apa si pelaku harus meminta duit dari orang lain?

Yang membuat saya heran lagi juga yaitu kasus semacam ini sudah berkali-kali terungkap, dan berkali-kali juga membuat kita heboh, dan saya pastikan para korban juga pasti sudah pernah mendengar atas banyaknya kasus penipuan sejenis.

Misalnya saja yang terbaru kasus Dimas Kanjeng, seharusnya terungkapnya modus penipuan yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng, seharusnya bisa membuka mata hati kita bahwa penipuan dengan modus penggadaan uang itu hanyalah penipuan yang nyata adanya.

Tapi sebagaimana saya sebut di judul tulisan ini, hal tersebut dikarenakan SIFAT RAKUS dan TAMAK-lah yang berbicara, sehingga akal sehat, logika, dan pemikiran kita sebagai manusia tidak digunakan. Akibatnya, kita mudah tertipu oleh orang-orang yang memang tahu betul atas “kebodohan” kita.

SOLUSI

Agar kita tidak mudah tertipu, saran saya, jadi orang jangan memelihara apalagi “berternak” sifat yang namanya TAMAK dan RAKUS serta ingin kaya mendadak tanpa usaha.

Menurut saya itu teramat sangat penting dan utama.

Kalau menurut psikolog, mungkin rata-rata mereka akan menyarankan yang harus dilakukan adalah dengan menggunakan akal dan logika serta kecerdasan kita agar tidak mudah tertipu.

Hal itu menurut saya memang benar adanya, tapi bukanlah yang utama. Kenapa saya bilang seperti itu, karena FAKTAnya, banyak orang-orang yang cerdas, berpendidikan, dan katanya selalu gunakan kecerdasan mereka, faktanya tetap saja bisa tertipu oleh Dimas Kanjeng.

Menurut saya, itu karena sifat rakus dan tamak serta ingin kaya mendadak adalah penyebab utamanya sehingga mengakibatkan kecerdasan dan akal fikiranya tidak “dipakai”.

Namun untuk menghilangkan rasa tamak dan rakus serta ingin cepat kaya dengan cara instant itu tidaklah mudah. Perlu dilakukan perlahan dan ini juga terkait dengan akhlaq dan moral kita dalam kehidupan sehari-hari.

Agar kita bisa membuang sifat tamak, rakus, dan ingin kaya mendadak, maka mulailah dari yang sederhana, yaitu BERSYUKUR dan SABAR disertai usaha.

Jika kita mudah bersyukur, maka kita akan selalu tenang dan tidak mudah melihat kekurangan diri kita dan melihat kelebihan orang lain. Dengan bersyukur kita tidak mudah terhasut karena sudah merasa bahwa menghitung nikmat sehat saja, itu tidak ternilai dengan apapun.

Sederhananya gini, kedua mata anda kalau dibeli Rp 200 juta boleh tidak?, Kedua kaki anda, dibeli 500 juta, boleh tidak? kedua tangan anda, dibeli 300 juta boleh tidak?

Semoga anda faham maksud saya :-)

[Baca juga: Malu Terlihat Miskin Tapi Tak Malu Ketika Pura-Pura Jadi Orang Kaya?]

Yang terakhir adalah dengan cara BERSABAR disertai usaha.

Kenapa ini penting, karena dengan kita terus berusaha dan bersabar dalam ikhtiar kita, maka kita akan menghargai setiap proses yang kita lakukan, dan yakinlah bahwa hasil tidak akan membohongi proses.

Hampir semua kisah orang sukses pasti karena mereka melakukan hal itu [bersyukur dan bersabar yang disertai usaha terus menerus].

[Baca juga: Nasihat Jack Ma yang Mampu Membangkitkan Semangat Orang Miskin! ]

Kalau sudah bisa melakukan hal tersebut, kemudian ada orang penipu datang kepada kita dengan janji-janji manis seperti apapun, yakinlah kita takan mungkin bisa tertipu!


TAGS Ekonomi / Sosial / Hukum /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda