Ahok VS Anies di Putaran II: Ketika Janji-janji Manis Melawan Bukti!

31 Mar 2017 - 07:44 WIB

Saat membuat tulisan dengan judul diatas, maka kesan anda yang tipical hanya suka membaca judul saja, pastinya akan berfikir dan beranggapan jika tulisan ini terkesan membela Ahok dan menyudutkan Anies.

Namun jika anda mau meluangkan waktu melanjutkan tulisan saya ini, anda akan faham maksud saya dan sekaligus ini justru bisa menguntungkan pihak Anies dan bisa merugikan Ahok, atau sebaliknya menguntungkan Ahok dan menyudutkan Anies.

Namun itu semua bukan ditentukan oleh tulisan saya melainkan justru berdasarkan perilaku masing-masing pihak Ahok maupun pihak Anies serta tim sukses dan pendukungnya.

Jadi mohon dengan sangat, jika memang anda ingin memahami secara penuh maksud tulisan saya ini [tidak hanya baca judul], sebaiknya anda cermati tulisan ini dengan seksama, kepala dingin, dan gunakan hati dan pemikiran bersih anda.

Dan perlu dicatat juga, pembahasan saya ini akan mencoba tidak mengaitkan dengan kasus penistaan agama yang sedang dijalani Ahok.

Jadi ini murni pemikiran saya terkait dengan cara memilih pemimpin yang sudah memberikan bukti, dan memilih pemimpin yang “menjual” janji-janji manis.

Saat saya menulis kata “BUKTI”, anda juga wajib ingat bahwa kata “Bukti” yang saya maksud tentunya bisa berarti “Bukti yang bersifat Positif”, bisa juga berarti “Bukti yang bersifat Negatif”.

Saya fahum maksud anda yang hanya membaca judul saja, yang ada di benak anda kemungkinan besar, memahami kata “Bukti” terkesan hanya diartikan “bukti” yang berarti positif, sehingga terkesan kalau baca judulnya saja saya seperti memihak ke Ahok dan menyudutkan Anies.

Padahal justru kata “bukti” yang saya maksudkan justru bisa berujung menyudutkan Ahok juga, jika misalnya selama Ahok memimpin DKI Jakarta, ternyata Ahok terbukti mengecewakan dan menyengsarakan rakyat Jakarta.

Sampai disini, saya harapkan anda sudah bisa mulai memahami maksud saya. Dan anda juga bisa tahu bahwa saya bukanlah pendukung Ahok maupun Anies karena saya memang bukan orang Jakarta dan tidak memiliki hak pilih untuk Pilgub DKI Jakarta.

Pada tulisan-tulisan terdahulu, saya sudah pernah membuat tulisan yang membahas terkait idealnya seorang pemimpin pasti kalau saya memposisikan sebagai warga, tentunya ingin memilih pemimpin yang sudah teruji dan terbukti dalam artian yang positif saja.

Karena logika saya, ngapain juga memilih pemimpin yang belum teruji kwalitas kepemimpinanya?

Namun itu dengan catatan kalau memang ada yang memang calon pemimpin yang sudah sudah teruji kwalitasnya yang memang baik.

Namun akan jadi masalah jika ternyata calon pemimpin yang ada merupakan calon pemimpin yang memang belum pernah memimpin.

Kita buka-bukaan saja begini,

Dalam kasus pilgub DKI Jakarta putaran kedua yang menyisakan Ahok VS Anies, maka kita mendapatkan dua sosok dengan kelebihan dan kekurangan yang anda sendiri yang bisa menilai diantara kedua calon tersebut.

Kalau dari segi kepemimpinan memimpin daerah, Ahok sudah pernah memimpin daerah di Belitung Timur dan yang terakhir adalah jadi Gubernur “warisan” Jokowi yang sekarang jadi Presiden RI.

Anies Baswedan juga punya pengalaman dalam hal memimpin. Memang kalau memimpin daerah, Anies belum punya pengalaman, namun dalam hal kepemimpinan, Anies punya beberapa pengalaman memimpin saat jadi Rektor, saat jadi menteri, maupun saat memimpin gerakan Indonesia Mengajar yang dirintisnya.

Sebatas mengingatkan, tulisan ini tidak saya sarankan untuk dibaca oleh anda para tim sukses maupun pendukung masing-masing pasangan yang DIBAYAR untuk mendukung. Soalnya kalau anda pendukung atau tim sukses yang dibayar untuk mendukung pasangan anda, maka tulisan ini tiada guna.

Dengan dua type calon pemimpin DKI Jakarta antara Ahok dan Anies, jika anda adalah di posisi pemilih, maka keputusan dan akal fikiran andalah yang bisa menentukan.

ilustrasi: detik.comSampai sini sebenarnya anda seharusnya sudah mulai faham maksud saya, bahwa pada intinya, saat saya menuliskan kata “Bukti” diatas, maka sesungguhnya itu tidak saya tujukan kepada Ahok saja, melainkan saya juga ingin tujukan kepada Anies.

Kalau kata “Bukti” saya tujukan ke Ahok, maka silahkan anda bisa lihat dan nlai sendiri, bagaimana selama ini Ahok memimpin Belitung Timur dan juga selama memimpin DKI Jakarta.

Selama kepimpinan Ahok tersebut anda pastinya sudah memiliki “Bukti” yang ada pada diri Ahok. Dan bukti yang saya maksud ada dua, bisa bukti-bukti yang berarti positif, namun saya pastikan juga ada warga yang mungkin memiliki bukti-bukti bernilai negatif atas kepemimpinan Ahok.

Saya sengaja tidak perlu menyebutkan bukti-bukti yang berarti positif yang sudah dilakukan Ahok, dan bukti-bukti negatif yang sudah dilakukan AHok. Saya serahkan itu kepada anda para calon pemilih di DKI Jakarta.

Takutnya kalau saya sebut “Bukti Positifnya”, nanti dikira saya pendukung AHok, jika saya sebutkan contoh bukti negatifnya, nantinya saya dituduh bukan pendukung Ahok. Jadinya saya serahkan kepada anda warga DKI Jakarta yang bisa menilai.

Tidak hanya kepada Ahok saja, hal ini tentunya juga berlaku untuk Anies. Dimana anda juga bisa menilai, kira-kira Bukti yang bersifat positif apa saja yang sudah dilakukan Anies selama memimpin jadi rektor, menteri, gerakan Indonesia mengajar, maupun dalam aktifitas keseharian dia.

Jika anda menilai ada Bukti-bukti positif yang menjadikan anda yakin dan percaya dengan dirinya, maka anda mungkin akan memilihnya. Namun tentunya untuk mereka yang ragu atau bahkan misalnya mengetahui bukti negatif atas kepemimpinan dan kiprahnya selama ini, mungkin itu akan membuat anda ragu memilihnya. 

Lantas bagaimana dengan “Janji-janji manis” dalam judul saya diatas?

Sebagaimana penjelasan saya bahwa masing-masing calon [Ahok dan Anies] sama-sama memiliki Bukti [positif dan negatif], maka dalam hal janji-janji manis, maka itu juga dimiliki oleh kedua pasangan calon pilgub DKI tersebut.

Kenapa saya bilang begitu?

Mungkin jika anda pendukung AHok, anda akan berfikir jika AHok tidak hanya berjanji tapi sudah berikan bukti!

Eits, nanti dulu!

Silahkana anda baca kembali keatas, bahwa kalau soal bukti antara Ahok dan Anies juga sama-sama punya bukti [positif dan negatif]. Soal lebih banyak dan lebih sedikit, itu saya kembalikan kepada para calon pemilih yang menilai.

Namun saya pastikan, Ahok juga tetap sedang menjual janji-janji manis. Janji-janji manis seperti apa? Ya tentunya, semua yang belum bisa dibuktikan dan dilakukan oleh AHok, maka selama itupula Ahok ikut mengeluarkan “Janji-janji manis” juga.

Tidak mungkin selama kampanye AHok hanya mengkampanyekan bukti-bukti yang sudah mereka lakukan, tapi juga pasti mengeluarkan janji-janji manis yang belum [akan] mereka lakukan, minimal janji untuk memperbaiki apa yang sudah mereka lakukan, jika terpilih kembali jadi gubernur DKI Jakarta.

Demikian juga untuk Anies pasti juga menjual janji-janji manis agar supaya bisa terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Sampai sini saya harapkana nda sudah memahami maksud saya, bahwa intinya, diantara kedua pasangan calon Pilgub DKI jakarta antara Ahok VS Anies, masing-masing sudah sama-sama punya Bukti, baik bukti yang bersifat positif, maupun bukti yang berbau negatif.

Demikian juga terkait janji-janji manis, keduanya juga sama-sama punya janji.

Tinggal masalahnya ada pada lebih banyak mana diantara keduanya, itulah tugas anda warga DKI Jakarta yang bisa menilai dan menentukan dengan akal dan fikir serta logika anda sebagai calon pemilih pemimpin anda.

Harapan saya, siapapun yang anda pilih, silahkana nda pilih tanpa perlu disertai membenci apalagi menghina calon yang tidak anda pilih. Itu tidak ada untungnya, karena sebagaimana anda, orang lain yang sudah punya pilihan, mau digimanain juga tidak akan berpindah memilih yang memang bukan pilihanya.

Jadi tinggal slaing menghargai dan tidak perlu heboh apalagi pakai ribut segala. 

Tetap damai kawan, karena kita bersaudara sesama anak bangsa, Indonesia!


TAGS Politik /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda