Hari Film Nasional: Sejarah dan Harapan Film Nasional yang Bermutu!

30 Mar 2017 - 11:06 WIB

Hari ini tepatnya tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional.

Bagi anda yang belum tahu terkait sejarah dari film Nasional, melalui tulisan ini saya akan sedikit membahas terkait dengan Sejarah ditetapkanya tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional yang saya kutipkan dari beberapa sumber.

Pada bagian akhir tulisan nanti, saya juga akan memberiakn sedikit ulasan saya tentang sebuah harapan saya selaku orang yang suka nonton film dengan standar saya pribadi, yang menginginkan film-film Nasional bisa dibuat tidak hanya semata cari keuntungan saja, tapi juga harus memilii kwalitas dan pengaruh positif untuk negara dan SDM warga negara kita, Indonesia!

Pertama akan saya bahas terkait dengan Sejarah Ditetapkanya 30 Maret sebagai Hari Film Nasional

Sejarah

Untuk anda yang belum tahu terkait dengan sejarah ditetapkanya tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional, pastinya ingin bertanya, Kenapa Hari Film Nasional Diperingati setiap tanggal 30 Maret?

Untuk menemukan jawaban ini, kita harus membaca sejarah terkait dunia perfilman Indonesia, mulai dari saat negara kita belum merdeka, yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, hingga saat negara kita sudah merdeka.

Beberapa sumber yang saya baca menyebutkan bahwa sejak zaman penjajahan kolonial Belanda, sudah pernah dibuat film pertama yang saat itu dimainkan oleh beberapa aktor lokal.

Film pertama ini disebut dengan Film Bisu dengan judul “Loetoeng Kasaroeng”. Pembuatan film ini dilakukan sekitar tahun 1926. Karena masih di zaman penjajahan, sutradara dari film Bisu tersebut disutradarai oleh orang Belanda bernama G. Kruger dan L. Heuveldorp.

Nama perusahaan pembuat film ini bernama Jawa NV yang saat itu lokasinya ada di Bandung.

Film pertama di Indonesia tersebut diputar untuk pertama kalinya tanggal 31 Desember tahun 1926. Saat menyaksikan film ini berada di teater Elite and Majestic, Bandung.

Setelah masa penjajahan Belanda berakhir, dan kemudian Jepang masuk ke Indonesia, ternyata Jepang juga membuat film. Bedanya dengan Belanda, saat pembuatan film oleh Jepang pada tahun 1942-1949, film dibuat untuk alat alat propaganda politik Jepang.

Bahkan pemutaran film saat itu hanya dibatasi untuk film-film propaganda Jepang dan film-film Indonesia yang sudah ada sebelumnya. Kondisi ini disebut yang mengakibatkan surut dan meredupnya prodkusi film nasional.

Sekitar tahun 1942, salah satu perusahaan film bernama Nippon Eigha Sha mulai beroperasi di Indonesia dan saat itu hanya membuat 3 film berjudul Pulo Inten, Bunga Semboja dan 1001 Malam.

 

Awal Kemerdekaan

Sekitar 5 tahun usai Indonesia merdeka, saat kondisi negara mulai kondusif tepatnya tanggal 30 Maret 1950 menjadi hari yang sangat bersejarah untuk film lokal asli Indonesia. Dimana pada tanggal tersebut merupakan hari pertama dilakukanya pengambilan gambar film yang disutradarai oleh Usmar Ismail dengan judul film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi.

Film tersebut sekaligus disebut dan dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia.

Inilah Usmar Ismail, Sutradara pertama asli Indonesia yang menjadikan awal ditetapkanya hari Film Nasional 30 Maret - gambar: muspen.kominfo.go.idDan yang paling membanggakan tentunya karena Usmar Ismail merupakan sutradara asli orang Indonesia sekaligus lahirnya perusahaan film milik orang Indonesia bernama Perfini [Perusahaan Film Nasional Indonesia], yang kita tahu bahwa sutradara Usmar Ismail sekaligus juga sebagai pendirinya.

Itulah kenapa tepat pada tanggal 30 Maret ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Film Nasional.

 

Harapan untuk Film Nasional

Harapan saya sebenarnya untuk terkait film Nasional kita sudah ada yang patut saya banggakan, karena secara bertahap film-film Nasional yang hanya “menjual” tayangan tubuh erotis sudah mulai berkurang.

Hal ini saya ingin berikan apresiasi kepada para sutradara dan produksi film Nasional yang menyadari itu.

Karena yang namanya tayangan film itu sangat memberikan pengaruh terhadap masyarakat yang menontonya. Maka seharusnya, posisi dan peran film yang begitu strategis tersebut harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif.

Saya berharap setiap film-film Nasional memang harus dibuat dengan membawa nilai-nilai pesan positif kepada mereka yang nonton film Nasional Indonesia.

Dahulu mungkin ada benarnya jika membuat film-film Nasional dengan isu yanga da unsur edukasi dan moral juga inspirasi dinilai tidak laku. Namun faktanya, film-film seperti Laskar Pelangi, maupun film-film yang mengangkat sejarah dan tema inspirasi justru juga laris manis.

Saya juga berharap kepada pecinta film juga harus memulai untuk mendukung eksistensi film-film Nasional yang memang layak diberikan apresiasi [ditonton] karena kwalitasnya yang memang bermutu, bukan hanya karena asal kejar sensasi.

Semoga saja dengan cara tersebut film Nasional Indonesia semakin dicintai oleh orang Indonesia dan bisa terus menyebar dan dikenal ke dunia International.

Semoga!

Selamat Hari Film Nasional 30 Maret 2017!


TAGS FIlm Nasional / Hari Film Nasional /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda