Antara Korupsi, Matinya Nurani, dan Perjuangan si Miskin Mencari Rizqi

24 Mar 2017 - 09:32 WIB

Seandainya saat saya putus sekolah karena kemiskinan yang saya dan orang tua saya alami dahulu saya sudah bisa menulis, dan tahu juga faham, bahwa ternyata koruptor menjadi salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini, mungkin saat itu tulisan ini sudah saya tuliskan sebagai suara saya.

Namun saat itu kemiskinan dan ketidaktahuan saya dan orang tua saya menjadikan saya benar-benar tak tahu apa-apa.

Namun setidaknya saya bersyukur hari ini bisa hampir setiap hari saya bisa bersuara dan berbicara walau hanya melalui tulisan, yang saya sendiri tak mampu memastikan apakah tulisan saya ini akan terbaca oleh mereka.

Kasus korupsi SUPER JUMBO e-KTP perlahan bukanya semakin banyak dibicarakan [diberitakan] media, tapi sepertinya justru semakin “SEPI” dibicarakan dan diberitakan media.

Hanya beberapa media online maupun media televisi yang masih aktiv memberitakan terkait kasus ini.

Apakah ini dikarenakan beberapa media dimiliki oleh orang partai yang diantara kader partainya beberapa kali disebut terlibat menerima uang korupsi e-ktp tersebut? Silahkan anda tebak sendiri.

Dari banyaknya nama-nama yang disebut yang diduga menerima hasil korupsi, dipastikan semuanya masih melenggang bebas dan tebar pesona serta masih YAKIN mereka tidak menerima uang korupsi tersebut.

Bahkan pada lanjutan sidang kemarin, ada mantan anggota DPR Miryam yang mencabut BAPnya dikarenakan dirinya mengaku ada ancaman dari penyidik KPK. Bahkan dari kesaksianya sampai menyebut jika Aziz Syamsuddin dan Bambang Soesatyo (Bamsoet) saat diperiksa KPK sampai mencret-mencret.

[Baca juga: Geger Pengakuan dan Pencabutan BAP Miryam di Sidang e-KTP]

Padahal dari kesaksian yang disebut sampai mencret-mencret sudah melakukan klarifikasi jika mereka tidak mencret bahkan menyatakan jika penyidik KPK ramah dan sopan.

Apakah dirinya lupa kalau setiap proses penyidikan yang dilakukan KPK pasti ada rekaman CCTVnya yang itu juga nanti pasti akan dibuktikan di persidangan.

Saya pikir rakyat juga bisa menilai, manakah pernyataan yang benar dan mana pernyataan yang bohong.

Apalagi dengan dipastikanya beberapa anggota DPR yang sudah berani mengembalikan uang hasil korupsi e-KTP ini, maka artinya korupsi e-ktp ini memang dipastikan ada. Minimal pelakunya ya dari mereka yang mengembalikan uang korupsi tersebut.

(Baca juga: KPK: 5 Korporasi dan 14 Orang Kembalikan Uang Terkait Kasus e-KTP)

Terkait mereka yang belum NGAKU, biarin saja mereka tidak berani mengaku. Kalau misalnya mereka sebenarnya melakukan korupsi tapi kemudian TIDAK MENGAKU, toh itu sama ARTINYA mereka sedang MELAWAN TUHAN!

Kenapa saya katakan mereka sedang melawan TUHAN? 

Karena jika mereka percaya dan yakin serta mengimani adanya Tuhan, maka pastilah mereka tahu jika TUHAN MAHA TAHU apa yang sudah mereka lakukan.

Dari adanya satu kasus korupsi super jumbo e-ktp ini saja, kita bisa melihat betapa sebenarnya Indonesia ini bisa jadi negara yang sangat maju jika memiliki pejabat negara yang tidak korupsi.

Soalnya, walaupun banyak kasus korupsi di Indonesia yang melibatkan banyak pihak, mulai dari anggota DPR, menteri, hakim, jaksa, kepolisian, dan lain-lainya, tapi toh tetap saja negeri ini belum bangkrut juga!

Walaupun demikian, kondisi ini tentunya teramatsangat miris jika disisi yang lain kita melihat perjuangan orang-orang miskin yang bekerja hanya untuk bertahan hidup dan sebatas memenuhi kebutuhan sehari-hari.

inilah realitanya, dimana koruptor yg sudah terbukti bersalah masih bisa tetap tersenyum diantara jeritan kelaparan gizi buruk rakyat papua dan kemiskinan yang masih dialami rakyat Indonesia.Kondisi yang sangat miris tentunya jika kita melihat realita ini, dimana saat kondisi sebagian rakyat di Indonesia masih tergolong miskin, dan harus kesulitan untuk mencari duit, tapi justru pejabat negara kita yang katanya wakil rakyat justru korupsi hingga milyaran rupiah.

“Saya bisa berani bicara begini karena saya pernah merasakan bagaimana saya pernah putus sekolah saat lulus SMP karena orang tua tak mampu bayar sekolah untuk lanjutkan ke tingkat SLTA. Sehingga untuk bisa sekolah saya harus kerja dahulu setahun mulai dari kerja di home industrii kue, bahkan hingga harus jadi kernet truk kontainer di Jakarta, yang baru setahun kemudian saya baru bisa sekolah dengan tabungan tersebut, hingga akhirnya bisa kuliah”

Dengan gaji yang saat itu hanya terima 400 ribu tiap bulan di Jakarta, saya hampir tak pernah jajan diluar jatah makan dari sopir saya. Itu karena demi supaya saya bisa lanjutkan sekolah dan sebagian untuk bantu orang tua.

Kondisi ini tentunya membuat kita miris, karena saya sangat yakin buanyak sekali orang-orang miskin yang hingga hari ini masih berjuang dengan berbagai kesulitan dan penderitaan yang mungkin tak mungkin semuanya terexpose media!

Dan itu semua mungkin tidak dialami oleh orang-orang miskin di penjuru negeri jika tidak ada koruptor terkutuk di negeri ini.

Kadang saya sendiri sampai berfikir begini,

Seandainya saja membunuh koruptor itu halal dalam agama dan dibenarkan secara hukum positif, mungkin saya akan suruh rakyat Indonesia untuk beramai-ramai menangkap sendiri itu para koruptor e-ktp lalu dibakar hidup-hidup di monas, atau disiksa dulu sebagaimana yang sudah sering dialami oleh maling ayam. Semoga anda bisa memahami apa maksud saya, kenapa saya sampai menulis dengan bahasa kasar seperti diatas.

Namun sayangnya, itu semua hanya angan-angan..

Karena faktanya, koruptor di negeri ini, walaupun sudah dipastikan terbukti secara hukum dan sudah mendapatkan vonis, toh mereka masih tetap senyam-senyum tanpa malu di damping pengacara untuk tetap bisa membela diri atas kesalahan yang sudah mereka perbuat.

Lebih bikin emosi lagi saat mereka sudah dipenjara sekalipun, ternyata dengan uang korupsi mereka, ternyata masih bisa [berani] bisa meminta fasilitas penjara yang super nyaman, hingga bisa jalan-jalan keluar sesuai keinginan mereka.

Saya juga sering berfikir bagamana sebenarnya hati mereka kok bisa sampai sebegitu teganya melakukan itu semua. 

Kalau disebut binatang, mereka secara fisik berbentuk manusia. Tapi kalau disebut manusia, perilakunya teramat sangat menjijikan dan merugikan banyak orang.

Padahal saya lihat hampir mayoritas koruptor itu usianya sudah pada tua-tua. Apakah mereka lupa jika mereka pasti akan MATI dan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan atas setiap perbuatanya?

Tapi…. Ah, sudahlah!


TAGS Hukum / Sosial / Politik /

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda

tulisan-populer

kisah-11-orang-sukses

nenek-tua-sumbang-jutaan-rupiah-untuk-masjid

pendiri-whatsapp-jan-koum

desa-terkaya

tulisan-populer negeri-hutang

ricky-elson

kerja-orang-jerman

negeri-para-petani-tapi-import-produk-pertanian

pria-sukses

10-pemuda-terkaya-di-asia

.:: #9 TULISAN TERKINI ::.