Dulu! Anas Minta Digantung di Monas, Kini! Gamawan Minta Dikutuk!

17 Mar 2017 - 10:20 WIB

Dulu! Anas Minta Digantung di Monas, Kini! Gamawan Minta Dikutuk!, Besok Siapa Lagi?!

Terkadang saya suka heran kalau dengar “sumpah-serapah” para politisi ataupun pejabat tinggi negara yang namanya disebut atau terlibat tindak pidana Korupsi.

Tentunya anda masih ingat kan saat kasus korupsi yang melibatkan Anas Urbaningrum saat beberapa tahun yang lalu.

Dimana saat itu Anas Urbaningrum oleh mantan bendahara partai Demokrat Nazarudin disebut-sebut ikut menerima suap dalam kasus korupsi hambalang.

Dengan sangat yakin, saat itu sekitar tanggal 9 Maret 2012, Anas Urbaningrum bilang, “Satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas!” .

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya dengan proses persidangan yang panjang dan memunculkan banyak saksi dan bukti, akhirnya ditegaskan dan dinyatakan jika memang Anas Urbaningrum TERBUKTI menerima suap hingga akhirnya divonis dengan hukuman Tuntutan KPK : 15 tahun penjara, Vonis Pengadilan Tipikor Jakarta: 8 tahun penjara, Vonis Pengadilan Tinggi Jakarta : 7 tahun penjara, Vonis kasasi : 14 tahun penjara (naik 7 tahun penjara tetapi 1 tahun lebih rendah dari tuntutan jaksa).

Usai mendapatkan vonis tersebut, apakah anda kemudian benar-benar jadi melihat Anas Urbaningrum digantung di monas?

Faktanya tidak!

Setelah Anas Urbaningrum, muncul lagi nama Habiburrokhman yang katanya mau terjun bebas dari Monas Jika KTP yang dikumpulkan oleh relawan teman Ahok mampu untuk dijadikan mendaftarkan diri Ahok untuk maju ke pilgub DKI.

Akhirnya dengan secara mengejutkan KTP itu terkumpul dan jauh diatas syarat minimum yang ditetapkan KPU.

Namun toh lagi-lagi janji tinggallah janji.

Walaupun kemudian akhirnya AHok maju melalui jalur parpol, namun sebenarnya untuk memberikan hukuman sosial kepada orang-orang seperti Habiburrokhman yang suka asal janji, seharusnya proses perhitungan KTP dukungan AHok seharusnya tetap dilakukan.

Walaupun AHok maju lewat jalur parpol, namun jika KTP dukungan untuk AHok itu terbukti sah versi KPU, maka Habiburrokhman sewajibnya tetap harus terjun bebas dari monas!

Namun, inilah “kwalitas mulut” politisi di negara kita, yang penting berani bicara, toh pada akhirnya publik akan melupakan kasus tersebut.

Saya berfikir jika Habiburokham juga belajar dari Anas Urbaningrum, mungkin dalam hati si Habiburakhman akan bilang begini,

“Anas Urbaningrum saja yang jelas-jelas sudah terbukti bahkan divonis saja tetap tidak digantung di monas, apalagi dirinya?”

Omongan politikus itu memang gak bisa dipercaya, sebelumnya sok berani dan seperti lelaki pemberani, eh, begitu sudah terbukti, divonis segitu aja masih memohon untuk diringankan hukuman. Kenapa tidak minta digantung di monas?Beberapa saat lalu juga ada “wakil Tuhan” bernama Patrialis Akbar, yang kena Operasi Tangkap Tangan KPK. Saat ditangkap dirinya bersumpah atas nama Tuhan jika dirinya tidak bersalah. Namun berdasarkan bukti-bukti yang ada, menunjukan sangat kecil kemungkinan dirinya tidak terlibat.

Dan kini, yang masih hangat kita dengar adalah seruan eks Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang dengan tegas membantah menerima USD 4,5 juta dan Rp 50 juta terkait korupsi proyek e-KTP

Sebagaimana yang sudah kita tahu kemarin, dalam surat dakwaan yang dibacakan dalam sidang kasus korupsi e-ktp, dirinya disebut menerima uang sejumlah USD 4,5 juta dan Rp 50 juta.

Salah satu pemberian yang diungkap KPK dalam sidang tersebut, yaitu pemberian sejumlah uang USD 2,5 juta yang didapat dari Andi Agustinus alias Andi Narogong (rekanan Kemdagri), diberikan kepada Gamawan melalui saudaranya yang bernama Azmin Aulia. Pemberian itu sendiri disebutkan pada bulan Juni 2011. Tujuan pemberian uang tersebut tentunya untuk memperlancar proses penetapan pemenang lelang dalam proyek e-ktp.

Setelah mendengarkan dakwaan tersebut, dengan tegas Gamawan membantahnya. Bahkan yang menarik, dirinya sampai meminta kepada seluruh rakyat Indonesia ikut mendoakannya dirinya supaya dia dikutuk Allah SWT apabila terbukti berkhianat kepada bangsa, dan menerima uang dari megaproyek senilai Rp 5,9 triliun itu.

Saya sendiri jujur saja kalau mendengar sumpah, itu masih merinding, apalagi kalau atas nama Tuhan. Namun kalau yang mengucapkan para politisi, maupun pejabat-pejabat yang disebut terlibat korupsi dengan banyaknya saksi dan bukti, maka jujur saya katakan, saya tidak begitu percaya dengan mereka.

Sikap saya ini bukan karena sikap apatis saya terhadap mereka, namun dengan dukungan bukti dan fakta serta data yang saya sebut diatas, maka terlalu sulit saya percaya ucapan mereka.

Melalui tulisan ini, saya tetap menghargai proses hukum yang sedang berlangsung, sehingga lebih baik kita tunggu saja perkembanganya.

Namun setidaknya saya ingin berpesan kepada para “Jama’ah Koruptor” dan para “calon jamaah koruptor”" yang sedang dan akan merencanakan untuk korupsi, ingatlah bahwa hidup anda tidak untuk selamanya!

Anda boleh membuat strategi yang super jitu agar supaya korupsi anda tidak ketahuan KPK atau tidak ketahuan penegak hukum lainya, atau rakyat Indonesia.

Namun saya MENGINGATKAN, apakah anda sudah LUPA JIKA TUHAN MAHA MELIHAT dan PASTI AKAN MENGHUKUM ATAS SETIAP PERILAKU KORUP ANDA?

Jika anda masih percaya dan meyakini adanya Tuhan, hentikan perilaku korupsi kalian dan bertaubatlah sebelum ajal itu datang!


TAGS Hukum / Politik /

Comment

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda