KH Hasyim Muzadi Wafat, Mengenang Kiprahnya untuk NKRI

16 Mar 2017 - 08:11 WIB

Pagi ini membaca berita duka di berbagai media nasional dan sosial media terkait meninggalnya tokoh besar bangsa Indonesia, khususnya di kalangan Organisasi NU K.H Hasyim Muzadi.

Secara pribadi melalui tulisan ini saya ucapkan turut berduka cita yang sedlam-dalamnya, semoga Khusnul Khotimah, semua kebaikan beliau diterima Alloh S.W.T, dan segala dosa-dosanya mendapatkan ampunan, dan keluarga besar yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran dan keikhlasan. Amiin

Dari berbagai sumber disebutkan jika K.H Hasyim Muzadi meninggal dunia tadi pagi [16/3/2017], sekitar pukul 06.00 w.i.b.

KH Hasyim Muzadi wafat usai menjalani perawatan intensif di RS Lavalette, Malang, Jawa Timur.

Beberapa saat sebelumnya juga dikabarkan jika Presiden Jokowi sempat menjenguk tokoh NU tersebut.

Kalau kita membaca profil pribadi beliau dari berbagai sumber, tokoh yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini juga sangat memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman dan toleransi di Indonesia.

Berikut ini sedikit saya kutipkan profil K.H Hasyim Muzadi dari berbagai sumber, diantaranya wikipedia,

K.H Ahmad Hasyim Muzadi (lahir di Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944) merupakan seorang tokoh Islam Indonesia dan mantan ketua umum Nahdlatul Ulama (NU) yang menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 19 Januari 2015. Dirinya juga pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam di Malang, Jawa Timur, sebelumnya dia sempat mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Darussalam gontor (1956 - 1962).

Saat usianya masih muda, dirinya menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950, dan menuntaskan pendidikannya tingginya di Institut Agama Islam Negeri Malang, Jawa Timur pada tahun 1969.

Beberapa kiprah organisasinya mulai dikenal ketika pada tahun 1992 ia terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang terbukti mampu menjadi batu loncatan bagi Hasyim untuk menjadi Ketua PBNU pada tahun 1999.

Tercatat, suami dari Hj. Muthomimah ini pernah menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1986, yang ketika itu masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan.

Dalam karir politiknya, K.H Hasyim Muzadi telah disebut-sebut sebagai pendamping Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden Indonesia pada awal November 2003. Ia resmi maju bersama Megawati pada 6 Mei 2004. Dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2004, Megawati dan Muzadi meraih 26.2% suara di putaran pertama, tetapi kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla di putaran kedua.

Sebagai ulama, sosok Hasyim dikenal sangat nasionalis dan pluralis. Apa saja yang dianggap perlu bagi agama, Indonesia, dan NU, Hasyim ikhlas melakukan.

Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam, Malang, ini sangat dikenal sebagai sosok yang sangat tulus memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin Indonesia.

Dalam posisinya sebagai ulama, sosok Hasyim dikenal nasionalis dan pluralis. Hal ini bisa dilihat dalam sepanjang karir politiknya maupun dalam posisinya sebagai seorang ulama, beliau hampir tidak pernah membuat pernyataan maupun sikap yang bertentangan dengan pluralisme dan keberagaman juga toleransi di Indonesia.

Baginya, beliau memiliki prinsip, apapun yang dianggap perlu bagi agama, Indonesia, dan NU, Hasyim ikhlas melakukan dengan segenap jiwa, termasuk saat beliau diminta untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Semoga saja di negeri kita ini semakin banyak tokoh-tokoh agama [ulama] yang selalu memiliki pemikiran yang menyejukan dan mampu menjaga keutuhan NKRI dalam keberagaman suku, agama, dan berbagai perbedaan dengan cara damai dan kekeluargaan.

Berikut ini beberapa sahabat beliau maupun banyak orang yang ikut berduka melalui akun twitter mereka,


Selamat jalan K.H Hasyim Muzadi….


TAGS Sosial / Hasyim Muzadi Meninggal / Hasyim Muzadi / Hasyim Muzadi Wafat /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda