Kisah Pilu Kendar dan Kebiasaan Peduli Sesama Jika Masuk Berita!

13 Mar 2017 - 09:26 WIB

[Baca juga tulisan terbaru: Polemik Tolak Salatkan Jenazah: Perintah Agama atau Perintah Politik?]

Saat mengikuti acara d’Youthizen di Solo beberapa saat lalu, saya sempat mendengarkan komitmen detik.com yang disampaikan oleh Ardhi Suryadhi, selaku Wakil Pemimpin Redaksi Detikcom, yang menyatakan dalam membuat berita juga akan komitmen mengangkat isu-isu sosial.

Salah satu isu sosial yang ditekankan yang dimaksud, yaitu terkait dengan kisah-kisah orang yang dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan kepedulian masyarakat.

Saya lihat langkah dan kebijakan detik.com tersebut perlu diapresiasi dan seharusnya wajib diikuti media nasional. Dan perlu ditekankan juga, kalau saya boleh meminjam istilah bahasa politikus, hal ini harus dilakukan secara “MASIF dan terstruktur” , serta dilakukan secara terus menerus.

Hal ini kenapa?

Karena memang salah satu fungsi media sebagai control sosial amatlah penting.

Sebenarnya terkait “Peran dan Fungsi Media Sebagai Control Sosial”, sudah pernah saya tulis juga di blog saya ini di tahun 2009 yang lalu [tidak terasa saya ngeblog di blogdetik sudah lama juga ya :-) ].

Saat itu media nasional heboh terkait dengan gerakan Koin untuk Prita, akibat pemberitaan media nasional pula, kemudian terkumpul koin hingga puluhan bahkan ratusan juta.

Dan itu semua menurut saya memang peran penting media dalam membangun opini publik. Terkait dengan ini, saya juga sudah pernah menuliskanya di tahun yang sama [2009], melalui tulisan berjudul “Peran dan Fungsi Media dalam Membangun Opini Publik”.

Dan sekarang [2017], kembali muncul kisah pilu seorang anak yang heboh di media bernama Kendar.

Ya, Kendar merupakan bocah SD yang sudah selama 6 tahun harus merawat ayahnya yang lumpuh seorang diri. Sedangkan Ibunya harus jadi pembantu di Jakarta demi memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan kakak Kendar dititipkan di pondok pesantren oleh warga untuk mengurangi beban keluarga.

[Baca juga tulisan terbaru: Polemik Tolak Salatkan Jenazah: Perintah Agama atau Perintah Politik?]

Itu artinya, saat gerakan koin untuk Prita yang heboh di tahun 2009, selang beberapa tahun kemudian sebenarnya penderitaan si Kendar tersebut sudah ada.

Namun kemudian baru terexspose media sekarang [2017].

Dan ini, lagi-lagi karena peran media yang ditayangkan detik.com yang kemudian menyebar di sosial media.

Dan seperti biasanya begitu jadi pemberitaan maka kepedulian kita langsung menyebar ke penjuru negeri, termasuk sang Wakil Bupati di daerah tempat tinggal Kendar langsung turun tangan menjenguk Kendar.

Sebenarnya saya tidap persoalkan terkait ini, dan justru saya ikut senang dan bersyukur jika ternyata masyarakat kita sebenarnya banyak yang memiliki kepedulian luar biasa terhadap sesamanya.

Apalagi kalau misalnya kita gerakan dari kawan-kawan di KitaBisa.com, disana kita akan melihat betapa kepedulian masyarakat Indonesia sebenarnya sungguh luar biasa.

Namun yaitu tadi, terkadang ketika diexpose oleh media, barulah kita bergerak bersama.

Namun menurutku ini bukan keslahan mereka, karena pada dasarnya memang masyarakat itu kan memang sudah sibuk dengan urusan pribadi masing-masing, sehingga mereka tak ada waktu lagi untuk mencari tahu orang-orang susah seperti Kendar yang kemudian mereka ingin membantunya.

Disinilah kemudian saya katakan di awal, betapa PERAN SANGAT PENTING media sebagai control sosial dan membangun opini publik, sehingga diharapkan harus lebih “MASIF dan terstruktur” untuk membuat pemberitaan-pemberitaan seperti kisah Kendar dan yang sejenis.

Jika hal itu dilakukan secara MASIF dan terstruktur oleh media, maka saya yakin, semakin banyak masyarakat Indonesia yang kesulitan akan terbantu.

Saya yakin, memang media-media lain pasti juga pernah membuat pemberitaan sebagaimana kisah Kendar, namun gaungnya tetap masih kalah dengan pemberitaan-pemberitaan isu politik yang terkadang itu justru sangat rentan memecahbelah pembaca.

Terkait hal ini saya juga sudah pernah menyuarakan opini saya saat ultah hari Pers kemarin melalui tulisan berjudul “Hari Pers Nasional 2017:Demi NKRI, Maukah Pers STOP Berita Kontroversi?”.

Dan saya pikir saat media secara MASIF dan terstruktur bersedia bersatu padu membuat pemberitaan seperti isu-isu sosial seperti kisah Kendar dan sejenisnya, hal itu akan berakibat sangat baik. 

Sangat baik, karena tidak hanya akan semakin banyak anak-anak seperti Kendar yang tertolong, tetapi yang jauh lebih penting lagi adalah menjadikan bangsa ini BERSATU UNTUK MEMBANTU SESAMA tanpa pernah bertanya dia itu siapa, etnis apa, agamanya apa, sukunya apa, yang terpenting dia adalah sama-sama manusia dan hidup di negara yang sama bernama Indonesia!

Melalui tulisan ini saya juga sangat berharap komitmen media untuk benar-benar memiliki komitmen untuk yang satu ini, karena saya benar-benar teramatsangat sedih jika membaca pemberitaan yang hanya mengejar trafict dan rating tapi mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa.

Media seharusnya sudah tahu, jika netizen Indonesia ini memang harus diakui minat bacanya sangat rendah [versi UUNESCO], sehingga sangat wajar mudah diadu-domba di sosial media, serta sangat suka sebarkan hoax demi memuaskan hasrat pribadi mereka.

[Baca juga: Netizen Indonesia, Minat Baca Rendah tapi Paling Cerewet di Dunia!]

Jadi, yuk seluruh media nasional bersatu padu untuk membuat pemberitaan yang lebih masif dan terstruktur lagi untuk memberitakan isu-isu sosial dan mendidik, demi kemajuan bangsa dan menghindari perpecahan antar sesama anak bangsa, Bangsa Indonesia!

[Baca juga tulisan terbaru: Polemik Tolak Salatkan Jenazah: Perintah Agama atau Perintah Politik?]

Tonton Video Lain di Akun Youtube Saya:


TAGS Kendar / Sosial /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda