Tawuran Bukan Akibat Rendahnya Pendidikan dan Pengangguran tapi AKHLAQ

7 Mar 2017 - 11:14 WIB

Saya memang sangat menghargai setiap perbedaan pendapat dan cara berfikir antara satu orang dengan yang lainya. Demikian juga saat bicara perbedaan pendapat terkait dengan penyebab terjadinya tawuran.

Akhir-akhir ini banyak pihak yang ikut ramai berbicara soal masih maraknya tawuran. Pertama saat munculnya video tawuran pelajar di di jalan layang (flyover) Pasar Rebo, Ciracas, Jakarta Timur, yang dilakukan di tengah jalan raya hingga merenggut korban tewas dan luka-luka.

Yang kedua dan masih baru yaitu terkait tawuran di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, yang berbatasan dengan Jl Tambak, Menteng, Jakarta Pusat. Dalam tawuran ini lagi-lagi juga menelan korban tewas dan luka-luka.

Akibat adanya dua tawuran tersebut, muncullah beberapa pakar sosiolog untuk memberikan analisa dan pendapatnya terkait penyebab terjadinya tawuran.

Salah satu pendapat yang dilontarkan oleh pakar sosiolog disebutkan jika penyebab terjadinya tawuran dikarenakan faktor pendidikan dan pengangguran.

Menurut pakar tersebut, yang dipublikasikan di detik.com [7/3/2017], disebutkan sebagai berikut,

“Hasil penelitian saya itu karena angka pengangguran yang cukup massal di suatu tempat atau di desa, ataupun di kampung. Itu karena mereka menganggur sehingga mereka itu ketika ada sesuatu yang menimpa temannya atau kerabatnya, dia ikut-ikutan mengurusi persoalan itu,” ujar Paulus saat dihubungi detikcom Senin (6/3/2017) malam.

Anak putus sekolah dipandangnya menjadi penyebab utama dari tawuran. Di usia yang rentan serta tidak adanya kegiatan yang bermanfaat, tawuran kadang dijadikan ajang untuk menunjukkan eksistensi diri.

“Mereka (anak putus sekolah) kumpul hingga tidak mengenal waktu, sedikit ada persoalan di temannya langsung tawuran. Di masyarakat yang orangnya terikat dengan pekerjaan, terikat dengan kesibukan sekolah, mereka pasti nggak mau mencampuri urusan yang menyebabkan tawuran seperti itu. Jadi kalau menurut saya itu sebabnya,” jelas Paulus.

Sebelumnya saya tetap menghargai pendapat sosiolog tersebut, karena saya yakin sebelum dirinya berkomentar, apalagi juga sudah melakukan penelitian, tentunya dirinya punya dasar yang kuat terkait pendapatnya tersebut.

Namun saya sendiri juga punya hak juga untuk mengeluarkan pendapat saya, berdasarkan apa yang saya lihat dan yang saya ketahui, yang tentunya ingin saya sertakan juga bukti-bukti.

Terus-terang saja saya sangat kurang setuju jika penyebab tawuran itu dikarenakan akibat rendahnya pendidikan juga karena tingginya pengangguran.

Saya ingin memunculkan bukti-bukti bahwa pendidikan yang tinggi sekalipun, tidak menjamin mereka tidak tawuran. 

Jika anda ingin tanya bukti, maka adanya tawuran pelajar, tawuran para mahasiswa, sudah menggugurkan asumi tersebut [baca: tawuran karena rendahnya pendidikan].

Jika anda masih kurang cukup bukti, silahkan anda tonton adu jotos anggota dewan DPR yang [katanya] terhormat itu, saya pikir semua tahu jika mereka [DPR] adalah orang yang terdidik, namun toh di ruang sidangpun ternyata masih berani adu jotos.

Pendapat selanjutnya yang saya kurang sependapat adalah terkait penyebab tawuran yang katanya dikarenakan tingginya jumlah pengangguran.

Alasan saya kurang setuju karena saya yakin, mayoritas yang ikut tawuran itu pasti kalau dihitung masih banyak yang punya kerjaan [aktivitas] daripada yang menganggur.

Sayangnya di setiap tawuran, seharusnya para peneliti itu berani mendata, saat tawuran itu berapa persen yang menganggur dan yang bekerja [punya aktivitas].

Kalau peneliti itu tidak punya data, setidaknya saya punya data di kampung saya yang memang pernah juga tawuran antar desa.

Faktanya, yang tawuran justru hampir 100% punya pekerjaan, dan saat tawuran antar desa terjadi mencari waktu bukan jam kerja yaitu saat pulang kerja. Saat itu desa saya yang di serang karena urusan dendam.

Saya pikir kalau kita mau mencari bukti lain, tidak sedikit juga berita tawuran yang terjadi antar buruh pabrik, yang itu artinya mereka bukanlah pengangguran.

Bisa juga melihat bukti lain, bahwa tawuran antar pendukung saat pilkada maupun pemilu juga menunjukan jika para pelaku tawuran bukanlah pengangguran.

Dari fakta-fakta tersebut diatas, masalah utama terjadinya tawura itu bukanlah Pendidikan ataupun pengangguran, melainkan AKHLAQ!

Kalau bicara akhlaq, pada tulisan lain saya sudah banyak membahasnya.

Baca juga: 

Ketika Ilmu Lebih Didewakan dari Moral

Sulitnya Mendidik Anak di Zaman Sekarang?

Membunuh Rasa Benci, Hidupkan Kasih Sayang dan Persaudaraan

Mau dia pengangguran, punya kaerjaan, pendidikan, rendah ataupun pendidikan tinggi, kalau akhlaqnya baik, PASTI mereka tak mungkin tawuran.

Sebaliknya, mau pendidikanya setinggi apapun, punya pekerjaan sebaik apapun, bahkan punya jabatan yang tinggi sekalipun, tapi AKHLAQ dan MORALnya buruk, tetap saja itu teramatsangat memungkinkan untuk mereka ikut terlibat tawuran.

Melalui tulisan ini sebenarnya saya punya harapan, kepada para pakar, kalau bisa mengeluarkan pendapat itu harusnya langsung pada AKAR MASALAH utamanya.

Termasuk saat bicara soal tawuran, korupsi, pemalas, suka mencuri, dan semua perilaku buruk itu, akar masalahnya pasti semua pada AKHLAQ. Jadi solusinya dan penangananya juga harus dengan cara memperbaiki AKHLAQ.

Sulit? sudah pasti memang sangat sulit, tapi itu harus kita lakukan bersama-sama mulai dari diri kita, keluarga, dan lingkungan sekitar kita.


TAGS Sosial / Kriminal /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda