Bom Panci Bandung, Idiologi yang Ajarkan Kekerasan Harus Kita Hentikan

28 Feb 2017 - 12:16 WIB

Jika beberapa netizen masih ada yang ribut dan menganggap bahwa teror bom panci di bandung dan yang lain di Indonesia masih dianggap rekayasa.

Saya disini justru tidak ingin melihat dari sisi pendapat tersebut, melainkan saya justru ingin membahas bahwa idiologi yang mengajarkan kekerasan itu memang masih ada di sekitar kita.

Idiologi kekerasan yang saya maksud disini adalah ajaran-ajaran yang disebarkan atas nama agama [dalam hal ini sering mengatasnamakan islam], yang didalamnya justru mengajarkan terkait kekerasan.

Saya sebenarnya pada saat terjadi isu bom panci yang targetnya akan meledakan istana negara beberapa waktu lalu sudah sedikit menyinggung soal ini. Namun karena kemarin juga terjadi lagi teror bom panci, maka saya disini juga ingin menegaskan dan mengingatkan bahwa, idiologi yang mengajarkan kekerasan itu memang masih ada di sekitar kita.

Atas fakta-fakta tersebut tentunya bisa kita jadikan warning bahwa memang kelompok-kelompok tersebut seolah tak nkenal lelah untuk berhenti menyebarkan idiologi mereka.

Oleh sebab itu, masyarakat di Indonesia juga sewajibnya ikut berperan untuk menghentikan penyebaran-penyebaran idiologi yang memang dianggap jauh dari ajaran islam itu sendiri.

Saya juga terkadang juga heran dengan sikap beberapa masyarakat di Indonesia yang terkadang kurang peka dan peduli atas kondisi seperti ini. Padahal jika dibiarkan, otomatis para kelompok-kelompok tersebut bisa semakin besar di Indonesia.

Saya sendiri sudah pernah memiliki pengalaman di kampung saya sendiri, dimana ada sekelompok anak muda yang terlihat dan terkesan memiliki idiologi yang menyimpang [radikal].

Awalnya hanya satu orang, namun kemudian menyebar 2-3 orang. Akhirnya dari satu mulut ke mulut yang lain, keberadaan mereka yang memang asli warga kampung saya akhirnya diketahui satu kampung.

ilustrasi: detik.comBeruntungnya warga kampung saya cepat tanggap. Saya sendiri yang mendengar itu langsung menceritakan ke tokoh masyarakat di kampung saya dan kemudian melaporkan ke pihak berwajib.

Akhirnya tidak berlangsung lama ada semacam diskusi dan diputuskan untuk langkah pertama dilakukan penyadaran yang kemudian beruntungnya mereka sudah bersedia taubat dan menyadari jika pemahaman mereka selama ini salah.

Hingga akhirnya sekarang mereka yang mayoritas memang masih remaja bisa melakukan aktifitas normal sebagaimana masyarakat lain di kampung saya.

Saya pikir contoh diatas sebenarnya mungkin terjadi di banyak sekitar anda, namun biasanya karena sikap acuh dan cuex masyarakat sekarang, akhirnya kelompok-kelompok tersebut masih bisa tetap leluasa untuk menyebarkan idiologi mereka.

Biasanya kalau sudah terendus densus 88, baru deh, kita heboh dan kaget, jika si “A” ternyata begitu.

Untuk menghindari hal tersebut, maka perlu dilakukan kepedulian semua pihak, untuk segera melakukan cek dan ricek jika memang ada aktivitas sekelompok orang yang dinilai aneh dan mencurigakan.

Semoga saja dengan cara dan peran serta warga, kelompok-kelompok tersebut semakin tersudut dan tidak bisa berkembang karena masyarakat sudah terdidik untuk menolak ajaran yang mengajarkan kita untuk melakukan perbuatan kekerasan.


TAGS Sosial / Bom Panci Bandung /

Comment

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda