Hasil Hitung Cepat dan Prediksi Putaran Kedua Pilkada DKI Jakarta

16 Feb 2017 - 10:44 WIB

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu untuk memilih calon pemimpin daerah sudah terlaksana. Saya juga ikut bersyukur karena secara keseluruhan pilkada di DKI Jakarta berjalan dengan damai.

Setidaknya secara serentak Pilkada berlangsung di 7 Provinsi, 18 Kota, 76 Kabupaten yang berlangsung 15 Februari 2017. 

Namun dari banyaknya pilkada tersebut, yang paling jadi sorotan secara nasional adalah terkait dengan pilgub DKI Jakarta.

Berdasarkan hasil akhir dari beberapa lembaga survey, sudah ditentukan keunggulan masing-masing kandidat.

Misalnya jika kita melihat salah satu hasil hitung cepat yang dilakukan oleh Lembaga Survey Indonesia AHY-Sylvi meraih perolehan suara sekitar 16,9%, Ahok-Djarot 43.2%, sedangkan Anies-Sandiaga 39,9%.

Dari beberapa hasil lembaga survey tersebut, selisih angkanya tidak terlalu jauh, sehingga beberapa pihak sudah berani menyimpulkan jika hasil real count dari KPU biasanya tidak begitu berbeda.

Terkait dengan perhitungan manual yang dilakukan KPU, dari informasi yang saya baca dari detik.com, disebutkan hasil perolehan sementaranya yaitu; Ahok-Djarot: 42,73%, Anies-Sandiaga: 41,22%, sedangkan Agus-Sylviana: 16,05%.

Hasil itu sementara didapatkan dari jumlah pemilih 564.941 dengan jumlah pengguna hak pilih 427.243. Untuk surat suara yang sah terhitung 416.527 dengan surat suara tidak sah mencapai 5.462. [sumber: detik.com]

Dari hasil akhir hitung cepat lembaga survey dan hasil hitung sementara real count oleh KPU tersebut diatas, banyak yang bisa memastikan jika pilkada DKI jakarta akan berlangsung dua putaran.

Hal tersebut dikarenakan syarat untuk menang adalah 50% + 1 suara, tidak terpenuhi oleh kesemua calon, maka akan dilakukan putaran kedua.

gambar: detik.comDengan melihat hasil tersebut diatas, maka kemungkinan yang lolos di putaran kedua yaitu pasangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga karena memiliki suara lebih banyak dari pasangan AHY-Sylvi.

Jika pilkada DKI Jakarta dilakukan dua putaran, maka saya sendiri bisa memprediksikan jika Ahok-Djarot sangat sulit untuk bisa memenangkan di putaran kedua.

Alasanya cukup sederhana, mereka-mereka yang memilih AHY-Sylvi dan Anies-Sandiaga, bisa dipastikan mayoritas adalah mereka yang tidak suka Ahok.

Jadi secara otomatis, jika dilakukan putaran kedua, maka suara yang tadinya memilih AHY-Sylvi, akan lari kepada pasangan Anies-Sandiaga.

Hal tersebut juga suka atau tidak suka, salah satu yang sangat memiliki pengaruh sangat besar yaitu terkait adanya isu soal penistaan Al-Maidah ayat 51 yang dilakukan Ahok.

Saya memang bukan orang Jakarta, tapi saya bisa membaca psikologi para pemilih khususnya yang muslim, saat munculnya isu penistaan al-maidah ayat 51 oleh Ahok, pastilah itu akan membuat sebagian umat muslim di Jakarta menjadi ragu [tidak memilih] Ahok.

Apalagi aksi umat islam yang datang ke Jakarta hingga beberapa kali, pastinya itu juga akan membuat para pemilih terpengaruh untuk tidak memilih Ahok.

Belum lagi soal kontroversi posisi jabatan Ahok yang statusnya sudah terdakwa, dan oleh beberapa pihak sedang dikasuskan, juga akan menjadi kendala tersendiri untuk pasangan Ahok-Djarot.

Namun walaupun begitu, setidaknya hal ini bukanlah sesuatu yang pasti, karena dalam politik kemungkinan demi kemungkinan bisa saja terjadi. 

Apalagi warga Jakarta dianggap oleh beberapa pakar yang saya dengar, sering disebut sebagai pemilih yang sulit ditebak dan bisa sewaktu-waktu berubah.

Keunggulan sementara pasangan Ahok-Djarot ini juga pastinya akan dijadikan motivasi sendiri oleh tim sukses untuk bergerak kembali mempengaruhi calon pemilih di putaran kedua nanti.

Namun, apapun hasil dan proses pilkada di DKI Jakarta, saya sebagai rakyat Indonesia, tentunya tetap berharap, semoga Ibu Kota negara saya Indonesia bisa berjalan aman, lancar, dan siapapun yang terpilih, akan mampu dan bisa jadi pemimpin yang terbaik dari yang terbaik. Amiiin


TAGS Politik /

Comment

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda