Khutbah Jumat Berisi Isu Politik, Dilarang atau Kurang Etis?

10 Feb 2017 - 10:33 WIB

Akhir-akhir ini banyak saya temukan status netizen yang sedang ribut soal ceramah khatib yang terkadang sering sekali berbau politik.

Menurut sebagian netizen ada yang setuju, ada juga melarang, namun ada juga yang dengan bijak, boleh-boleh saja saat khtabah jumat berlangsung, khotib mengisi ceramah mereka dengan berisi isu-isu politik tapi dengan syarat.

Perlu anda fahami juga sebelumnya bahwa, saat saya bicara politik disini, saya berbicara soal arti politik secara umum.

Kenapa saya bilang demikian, karena saya sangat yakin, saat saya bicara “politik” seperti dalam judul diatas, sebagian pembaca pasti akan beranggapan bahwa kata “politik” dalam judul diatas, akan diartikan sama dengan [=] “mengajak untuk memilih calon tertentu, atau menjelek-jelekan calon tertentu”.

Jika anda sudah faham maksud saya, jadi kata politik yang saya maksudkan dalam judul yaitu makna politik dalam makna luas. 

Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], kata Politik memiliki arti “(pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan”.

Jika bicara arti politik sesuai KBBI diatas tentunya bisa lebih jelas bahwa saat kita bicara politik jangan langsung anda fahami pada arti yang sempit.

Namun demikian, saya memakluminya karena situasi sekarang meang dalam masa pilkada, jadinya kalau misalnya saya cerita ke orang begini, “eh, tadi di masjid saya, isi khotibnya malah berbau politik”.

Kemungkinan besar mereka yang mendengar informasi dari saya, mereka akan langsung mengartikan bahwa, “wah, kalau gitu khatibnya gak netral, mungkin dia pilih si A, si B, atau si C”.

Hal inilah yang terkadang memang menurut saya, saat musim pilkada, akan lebih baik dan bijak, seorang khatib dalam menyampaikan isi ceramahnya mencari tema/materi khatbah yang jauh dari isu politik.

ilustrasi gambar: ipnuippnukendal.or.idSaya bicara seperti ini bukan karena saya ingin melarang seorang khatib bicara ceramah tentang politik, namun hanya menyarankan “lebih baik” untuk tidak ceramah berbau politik saat musim pilkada.

Pertimbanganya untuk menghindari fitnah, kesalahfahaman, baik di kalangan para penceramah, maupun kesalahfahaman di kalangan umat.

Mungkin sangat dibolehkan seorang khatib bicara politik seandainya materi politiknya misalnya yang menyerukan dosa besar umat islam ataupun pejabat negara yang berani korupsi, dan isu-isu politik lainya tapi yang tidak ada kaitanya dengan pilkada.

Karena saya menilai dan mengalami serta melihat sendiri, jika seorang khatib dalam khatbahnya menyampaikan materi tentang pilkada, apalagi jelas-jelas terlihat menjelek-jelekan sosok A, B, atau yang lainya, maka begitu keluar dari masjid, akan muncul beberapa obrolan yang bisa menjadi fitnah.

Dengan berbagai pertimbangan itulah, saya berharap kepada para penceramah khususnya para khatib untuk menghindari ceramah yang itu bisa memunculkan perpecahan di dalam umat.

Bukankah masih ada banyak ribuan materi ceramah lain yang itu tidak akan menimbulkan kontroversi dan perpeahan umat, bahkan jauh lebih baik jika materi ceramah khutbah harus yang mendamaikan, menentramkan, dan bisa mengingatkan umat untuk terus koreksi diri dan berbuat baik terhadap sesama, dan rakhmat bagi seluruh alam.


TAGS religi / politik / sosial /

Comment

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda