Hari Pers Nasional 2017:Demi NKRI,Maukah Pers STOP Berita Kontroversi?

8 Feb 2017 - 11:58 WIB

Hari Pers Nasional 2017: Demi NKRI, Maukah Pers STOP Berita Kontroversi?

Hari Pers Nasional 2017 sudah berlangsung dirayakan di Maluku mulai tanggal 1-9 Februari 2017. Rencananya pada perayaan ini juga akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo [Jokowi].

Melalui website resminya, beberapa agenda juga sudah dipublikasikan disana. Beberapa program tersebut mulai dari berbaagai seminar, workshop, hingga bakti sosial akan digelar.

Termasuk di dalam rangkaian acara tersebut juga ada tema terkait dengan Hoax.

Namun kalau menurut pandangan saya, dengan kondisi yang menurut saya sekarang ini sudah begitu darurat, salah satu solusinya untuk meredam kekisruhan di sosial media saat ini, pers harus juga ikut aktif terlibat.

Karena menurt saya, suka atau tidak suka, pers itu ikut “Berkontribusi” juga untuk memunculkan atau menghilangkan kekisruhan di sosial media.

Saya tekankan lagi disini bahwa pendapat saya ini bukan berarti ingin membatasi kebebasan pers, melainkan khusus keadaan yang menurut saya darurat ini, pers harus bersedia menghentikan pemberitaan yang berbau kontroversi.

Tadinya dalam judul diatas, kata “Maukah” akan saya tulis dengan judul “Bisakah”, namun setelah saya pelajari, soal BISA atau tidak BISAnya, saya pastikan bisa selama pers secara kompak memang MAU melakukanya.

Makanya di Hari Pers ini, saya hanya ingin menegaskan, Demi NKRI, Maukah Pers STOP Berita Kontroversi?

Contoh sederhananya misal kemarin ada status twitter SBY yang sempat viral, biarlah itu tidak perlu diberitakan media nasional. Karena informasi yang seperti itu bisa dipastikan langsung dimaknai berlebihan oleh netizen.

Kalau memang SBY merasa terancam, yasudah tinggal lapor saja ke kepolisian sebagaimana prosedur warga negara yang lain. Tidak perlu update status ditwitter, karena dalam kondisi jelang pemilu seperti ini, sudah pasti akan menimbulkan kontroversi.

Akibatnya netizen kita heboh dan saling hujat. 

Demikian juga misalnya terkait soal rencana demo, biarlah demo itu mau berjalan atau tidak, tidak perlu diekspose media nasional, karena sudah pasti itu akan memunculkan keributan di kalangan masyarakat.

Perlu dicatat juga, terkadang para penyebar hoax itu juga selalu memanfaatkan tulisan di media nasional yang kemudian diplesetkan sesuai kepentingan dari masing-masing pihak.

Dan untuk mengurangi ketegangan tersebut, pers juga harus mengimbanginya dengan isu-isu yang mampu menyatukan NKRI, misalnya dengan memunculkan betapa negeri kita selama ini memiliki sikap toleransi yang mengagumkan. Dimana dengan semboyan Bhnneka Tunggal Ika, negeri kita selalu aman, damai dan jauh dari pertikaian dan perpecahan seperti sekarang.

logo hari pers nasional 2017 - gambar: haripersnasional.comPers juga harus memunculkan sosok-sosok inspirasi dari masing-masing kubu yang berseteru, sehingga diharapkan mampu mendinginkan suasana yang semakin memanas ini.

Saya yakin pers pasti tahu dan sadar betul bahwa, setiap jelang Pilkada, pastilah ada saja pihak-pihak yang memang ingin menghancurkan tokoh A, tokoh, B, begitu seterusnya

Jika pers sudah tahu dan sadar akan hal tersebut, maka pers seharusnya tidak perlu memberitakan informasi yang itu mungkin memang menguntungkan pers karena berita kontroversialnya. KArena sudah jadi rahasia umum, semakin media memiliki berita heboh, kontroversial, maka trafict naik, dan jika trafict naik, maka keuntungan dari iklan dan sponsor juga naik.

Namun saya berharap, demi NKRI, mohon bersedialah pers untuk menghentikan [mengurangi] berita-berita yang kontroversi, karena itu bisa memecahbelah NKRI.

Apalagi fakta kita sudah tahu bahwa masyarakat kita itu selama ini memang MINAT BACANYA SANGAT RENDAH, tapi justru jadi juara Tercerewet di dunia.

Melihat fakta tersebut seharusnya pers jangan memanfaatkan kondisi memprihatinkan netizen kita yang “MENGENASKAN” tersebut, seharusnya, melalui pemberitaan pers, didiklah dan arahkanlah netizen kita agar mereka bisa MAU LEBIH BANYAK BACA BUKU dan INFORMASI yang benar dan mampu dipertanggungjawabkan melalui tulisan pemberitaanya.

Saya ilustrasikan begini,

Dengan kondisi separah ini, saya harapkan Pers STOP membuat pemberitaan kontroversi, lalu fokus munculkan pemberitaan yang bisa menyatukan NKRI, misalnya angat tuh pemberitaan terkait rendahnya minat baca di negeri ini.

Bisa juga angkat tuh budaya pungli, budaya korupsi, mulai dari yang kecil hingga koruptor kakap, atau bisa juga angkat isu-isu terkait menghilangnya akhlaq di masyarakat kita yang semakin buruk. Atau isu yang lain, yang itu bisa menjadikan kita koreksi bareng-bareng, betapa kita sebagai sesama NKRI jangan ribut terus soal isu-isu yang itu-itu saja.

Diluar itu, pers juga harus GENCAR untuk membuat pemberitaan yang menangkal setiap HOAX yang beredar.

Misalnya kalau di detik.com ada rubrik yang membahas soal Hoax or Not, dengan cara itu rakyat jadi bisa tahu, mana berita HOAX, mana berita yang benar. Itupun tidak boleh dibumbui dengan menyudutkan satu kubu tertentu.

Dengan cara itu, masyarakat kita jadi terdidik dan punya malu kalau ternyata selama ini mereka masih mudah TERTIPU hoax.

Jika sudah menyadari “kebodohan” mereka, diharapkan netizen bisa semakin banyak yang mau jadi lebih banyak BACA Buku agar jadi netizen yang cerdas , dan mampu membuka pola pikir yang dulunya tumpul dan mudah terprovokasi, menjadi lebih cerdas dan terbuka pengetahuannya sehingga tak jadi begitu bodoh diadu domba hanya dari pemberitaan tak bermutu!

Saya juga berharap, demi NKRI, pers harus berupaya mati-matian untuk bisa berperan aktif untuk melawan pemberitaan yang mampu akibatkan perpecahan NKRI melalui pemberitaanya.

Semoga!

Selamat Hari Pers Nasional 2017!


TAGS Hari Pers Nasional 2017 / Pers / Teknologi / Internet / Jurnalistik /

Comment

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda