Netizen Indonesia, Minat Baca Rendah Tapi Paling Cerewet di Dunia!

6 Feb 2017 - 08:10 WIB

Saya sudah bertahun-tahun jadi pegiat literasi, dan sudah keliling ke berbagai daerah di Indonesia untuk kampanyekan budaya baca.

Terakhir saya juga pernah menjangkau di wilayah perbatasan laut China Selatan, tepatnya di daerah Kepualauan Anambas di wilayah Tarempa dan Palmatak.

Saat itu awalnya penduduk disana khususnya anak-anak dari beberapa data, disebutkan jika minat bacanya rendah, namun begitu kami sediakan buku-buku bacaan yang sesuai dengan minat mereka, secara mengejutkan justru baru beberapa hari buku yang kami bawa habis dipinjam anak-anak disana.

Bahkan yang membuat saya “terharu”, begitu antusiasnya minat baca anak-anak disana, sampai-sampai beberapa orang tua, datang ke basecamp saya dengan anak-anak mereka yang menangis dan kemudian memarahi saya karena anak mereka tidak kebagian buku.

Saat itu saya beranggapan bahwa sebenarnya minat baca anak-anak disana sangat tinggi, namun masalahnya terletak pada kurangnya fasilitas buku-buku, yang disesuaikan dengan minat para siswa sehingga ada kesan bahwa minat baca mereka rendah.

Sekarang, setelah saya beberapa lama tidak terjun langsung ke lapangan, dan memang saya fokus untuk berjuang melalui tulisan di duniaperpustakaan.com, saya agak terkejut ketika kemarin membaca tulisan dari seorang netizen, yang membuat tulisan dengan menyatakan “Minat Baca Rendah tapi Cerewet Banget!”

Kemudian saya juga sudah membuat tulisan di portal duniaperpustakaan.com yang saya kelola, untuk menelusuri kebenaran atas informasi yang netizen sebutkan itu.

Netizen tersebut memunculkan beberapa data dengan menyebutkanya sebagai berikut,

“Menurut UNESCO, minat baca orang Indonesia hanya 0,001! Indonesia berada di urutan ke-2 dari bawah dalam hal keliterasian dunia, di bawah Botswana.

Tapi lebih dari 60 juta penduduk Indonesia punya gadget, yang menjadikan Indonesia urutan ke-5 terbanyak dalam hal kepemilikan smartphone.

Namun yang menarik, meski minat baca rendah, tapi dalam hal “kecerewetan” di sosial media, penduduk Indonesia berada di urutan ke-5 sebagai negara paling cerewet di dunia. Sedangkan Jakarta adalah kota paling cerewet di dunia maya karena setiap detik ada 15 tweet.

Dari data dan fakta diatas, anda bisa membayangkan, Tidak suka baca tapi bisa jadi penduduk paling cerewet? Jadi jangan heran jika negara Indonesia menjadi konsumen yang empuk untuk info provokasi, hoax dan Fitnah!

Apakah anda termasuk konsumen dari info-info hoax tersebut, atau justru yang paling sering like dan share hoax tersebut?”

Dari tulisan tersebut diatas, mari kita buktikan, apakah data-data yang disebut diatas hoax, fitnah, atau hanya karangan tanpa dasar yang jelas?

Terkait dengan penyebutan bahwa “Indonesia berada di urutan ke-2 dari bawah dalam hal keliterasian dunia, di bawah Botswana.”

Pada bulan Agustus 2016 yang lalu, saya juga sudah mempublikasikan terkait data tersebut melalui tulisan di duniaperpustakaan.com berjudul “Miris! Minat Baca Indonesia Diurutan ke 60 dari 61 Negara!“. Pemberitaan tersebut kami kutip dari sumber terpercaya.

Dan terkait dengan data bahwa Jakarta adalah kota dengan jumlah tweet terbanyak di dunia itu juga benar adanya. Data tersebut diambil dari semiocast.com, dimana website tersebut memang mendata terkait aktivitas sosial media termasuk twitter. Berikut ini datanya,

 

Update tambahan data baru dari kompasDengan melihat data dan fakta tersebut diatas, saya memang tidak bisa memastikan bahwa penyebab dari banyaknya HOAX, dan diperparah dengan banyaknya perilaku netizen Indonesia yang begitu mudah share berita hoax, diakibatkan karena minat baca mereka rendah.

Namun saya hanya berpesan, dari data yang ada tersebut diatas, harusnya sudah saatnya kita semua bercermin, jika memang buku yang kita baca sedikit yang itu bisa diartikan ilmu kita belum banyak, mohon dalam berbicara di internet itu haruslah lebih berhati-hati.

Kondisi netizen kita hari ini, lihatlah lihat FAKTA di timline facebook atau twitter anda, begitu mudah mereka like share dan tulisan tanpa cek dan ricek kebenaranya.

Asal beritanya menjelek-jelekan kelompok atau tokoh lain yang dibencinya, maka tanpa perlu cek kebenaranya, mereka langsung like dan share disertai dengan umpatan dan kalimat provokasi.

Ironisnya lagi, terkadang itu dilakukan oleh mereka-mereka yang katanya orang terpelajar dan berilmu.

Bisa dibayangkan bagaimana dengan mereka-mereka yang sudah ilmunya masih minim, malas baca buku, malas menelusuri benar tidaknya informasi, sudah pasti mereka akan asal like dan share informasi yang belum tentu benar, provokasi, dan memecahbelah NKRI.

Ingatlah pepatah lama bahwa, Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Atau pepatah lain juga sudah kita BACA dan pelajari sejak SD tentang Ilmu Padi, Semakin Banyak ISInya, semakin MERUNDUK, yang bisa diartikan bahwa semakin banyak ilmu seseorang, biasanya mereka semakin merendah dan merasa semakin banyak ilmu yang belum DIBACA [diketahui].

Saya juga menekankan bahwa, “cerewet” di sosial media saya pikir tidak saya persoalkan selama “kecerewetanya” itu dengan menyebarkan informasi yang BENAR dan bermanfaat, serta bisa dipertanggungjawabkan dunia akhirat, dengan bahasa yang santun dan dengan akhlaq yang baik.

Namun jika sampai “kecerewetan” netizen Indonesia didominasi oleh kecerewetan yang NEGATIF, apakah kita tidak malu jadi tertawaan dan hinaan bangsa lain dengan sebutan, “SUDAH MINAT BACA BUKU RENDAH, TAPI PALING CEREWET DI DUNIA!” **


TAGS Internet / Netizen / Minat Baca /

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda

tulisan-populer

kisah-11-orang-sukses

nenek-tua-sumbang-jutaan-rupiah-untuk-masjid

pendiri-whatsapp-jan-koum

desa-terkaya

tulisan-populer negeri-hutang

ricky-elson

kerja-orang-jerman

negeri-para-petani-tapi-import-produk-pertanian

pria-sukses

10-pemuda-terkaya-di-asia

.:: #9 TULISAN TERKINI ::.