Tak Viral di Indonesia,Film ini Raih Puluhan Penghargaan Internasional

1 Feb 2017 - 07:40 WIB

Jujur saja, saya juga termasuk orang yang belum pernah nonton film ini. Bahkan mendengarnyapun baru sekali ini, itupun karena secara tidak sengaja membaca di beranda sosial media.

Mungkin karena film ini memang sudah lama karena dibuat sekitar tahun 2011 yang lalu. Bahkan ada juga pemain dari film ini yang sudah meninggal.

Namun walaupun begitu, ternyata film ini baru-baru ini kembali meraih penghargaan dari Gold Award dalam kategori Film Asing Terbaik di California Film Awards.

Film ini berjudul Si Anak Kampoeng atau kalau di dunia International lebih dikenal dengan judul film The Village Boy.

Walaupun film ini hampir tidak pernah saya dengar apalagi menjadi viral di Indonesia, namun yang membuat saya terkejut dan terkagum-kagum, film ini ternyata sudah meraih puluhan penghargaan berkelas International.

Beberapa penghargaan tersebut diantaranya, Penghargaan pada ajang Best Family dari Canada International Film Festival pada tahun 2015.

Film asal Indonesia ini juga pernah meraih gelar film terbaik sekaligus gelar sutradara terbaik dari berbagai ajang festival film di benua Amerika, benua Eropa dan wilayah Asia.

Penghargaan yang terbaru adalah penghargaan Gold Award dalam kategori Film Asing Terbaik di California Film Awards. Festival film ini berpusat di California, Amerika yang memang bertujuan untuk mencari sejumlah film dari berbagai belahan dunia seperti film-film dari Eropa, Amerika Serikat dan Asia Pasifik.

Damien dan Buya Syafii saat meraih penghargaan - gambar: metrotvnews.comJika anda belum juga tahu tentang film Anak Kampeng ini, saya juga mencoba mencari berbagai referensi terkait film yang menurutku sangat membagakan ini, karena banyaknya prestasi International yang diraihnya.

Dari berbagai sumber yang saya baca, Film ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang tokoh Muhammadiyah Syafii Maarif. Dimana dalam film ini dikisahkan sejak kelahiran dan kehidupan masa-masa kecilnya yang sungguh menginspirasi, hingga sang tokoh bisa dikenal dunia karena pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Film ini sendiri memiliki durasi 108 menit dan tentunya sangat menginspirasi dan mengangkat kekayaan lokal Indonesia, khususnya untuk daerah Nagari Sumpur Kudus, Sumatera Barat yang digambarkan sebagai kelahiran tokoh pada tahun 1930-an.

Apalagi kalau melihat cuplikan filmnya, ada pesan bagaimana supaya kita bisa saling menghargai antar sesama dan tidak menyebarkan kebencian dan kekerasan.

Sangat tepat jika ditonton masyarakat Indonesia yang saat ini masih begitu mudah menyebarkan kebencian, fitnah, hoax yang semakin memprihatinkan.

Dalam film ini juga digambarkan bagaimana kehidupan sang bocah digambarkan pada kesehajaan dan keceriaan tentang belajar, mengadu ayam dan sapi, memancing, menyambit rumput, dan menembak; sampai kematian dan perang revolusi mengoyakkan kehidupannya.

Hal yang dianggap paling penting dalam film ini yaitu saat dirinya dipaksa untuk berubah. Dimana dalam sebuah titik kisaran kehidupan, pilihan demi pilihan dihadapkan pada tokoh ini. Dirinya harus mengambil salah satu pilihan sebagai keputusan hidup yang ternyata mengubah jalan hidupnya selamanya.

FIlm ini deperankan dengan sangat baik oleh para pemain bintang ternama seperti Radhit Syam (alm.), Ayu Azhari, Pong Hardjatmo, Lucky Moniaga, Inggrid Wijanarko, Virda Anggraini.

Saya berharap, semoga saja film-film yang seperti inilah yang mungkin seharusnya dicintai oleh para pecinta film khususnya di Indonesia. Karena dengan mengangkat film-film seperti ini, semoga saja bisa menjadikan media untuk menyadarkan kita untuk bangga dengan tokoh-tokoh Indonesia dan kekayaan keberagaman di bumi pertiwi.


TAGS Entertainment / Film / Hiburan /

Tulisan terkait yang banyak dibaca Pengunjung
Comment

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda