Harlah NU ke-91, Ketika NU dan Muhammadiyah Sudah Tak Lagi Berseteru

1 Feb 2017 - 10:37 WIB

Saya memang bukan seorang yang memiliki kartu keanggotaan NU dan Muhammadiyah, namun saya termasuk orang yang mengagumi dua organisasi umat Islam terbesar di Indonesia ini.

Jika boleh kita mengingat saat-saat yang lalu, ada anggapan dan itu memang bisa dirasakan bahwa ada kesan “perang dingin” antara NU dan Muhammadiyah kala itu.

“Perang dingin” yang maksudkan disini bukan artian yang skala besar, namun hanya sebatas perseteruan kecil diantara NU dan Muhammadiyah. Namun itupun kalau saya rasakan hanya terjadi pada masing-masing pengikut yang terlalu fanatik saja.

Salah satu perseteruan kecil yang saya maksudkan misalnya; terkait dengan perbedaan “hilafiyah” penggunaan bacaan Qunut di kalangan NU, dan tidak menggunakan Qunut di kalangan Muhammadiyah saat menjalankan sholat Shubuh.

Perseteruan kecil lainya mungkin diantaranya seperti dalam hal tradisi NU yang masih tetap menjalankan tahlilan, yasinan, dan sejenisnya, sedangkan Muhammadiyah tidak. Atau perbedaan lainya biasanya terkait saat menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal.

Perseteruan tersebut saat itu hampir saya dengar tiap kali bertemu dengan teman-teman yang NU maupun saat bertemu dengan teman-teman Muhammadiyah.

Saat kondisi seperti itu dahulu, saya tidak pernah merasakan ketakutan apalagi khatir jika NU dan Muhammadiyah akan berseteru pada babak yang lebih serius. Karena perseteruan antara NU dan Muhammadiyah saat itu masing-masing memegang prinsip “SALING HORMAT-MENGHORMATI dan SALING MENGHARGAI” atas perbedaan yang ada.

Walaupun terkadang tetap ada yang masih saja saling berseteru diantara keduanya, jumlahnya hanya minoritas dan itupun tidak dilakukan secara TERANG-TERANGAN. Boleh dibilang kalau diistilahkan dengan bahasa jawa, paling perseteruan tersebut hanya sebatas “Rasan-rasan”.

Dengan kondisi tersebut, Negara Kesatuan Republik Indonesia tetaplah aman dan tidak ada isu-isu yang terlalu beragam dalam hal perbedaan antara NU dan Muhammadiyah.

gambar: nu.or.idNamun sekarang, saat saya melihat antara NU dan Muhammadiyah sudah tak terlihat berseteru. Tapi ternyata isu-isu terkait hal perpecahan antar umat Islam justru saya rasakan lebih mengkhawatirkan.

Saya disini menegaskan bahwa saya tidak ingin menyudutkan kelompok tertentu karena justru disini saya ingin tahu, kenapa bisa seperti sekarang ini?

Saya menyadari bahwa adanya kekisruhan maupun perpecahan umat Islam dan antar masyarakat yang terjadi disini pastilah banyak penyebabnya.

Mungkin bisa jadi dikarenakan adanya kelompok yang memang tidak suka NKRI akur, mungkin juga ada pihak yang ingin menjadikan antar warga negara saling curiga dan saling menyalahkan, sehingga Indonesia dibuat kekacauan seperti sekarang ini. Atau mungkin faktor-faktor lainya.

Namun terlepas dari semuanya itu, saya menuliskan tulisan ini benar-benar karena saya justru merindukan saat-saat di Indonesia bisa kembali seperti saat itu, dimana diantara umat seagama saling akur.

Demikian juga antar umat beragama yang satu dengan agama yang lain saling hormat menghormati.

Saya juga merindukan para ulama dan kyai yang fokus mendidik dan mengajarkan ilmu agama dan AKHLAQ kepada umatnya. Sehingga diharapkan dengan AKHLAQ yang baik, maka orang akan mudah menerima kebaikan dan kebenaran.

[Baca juga: Ulama Tak Dilarang Berpolitik, Tapi Perbaiki Ahlaq Umat Lebih Baik?]

 

Soalnya sangat kita rasakan sekarang ini, dimana banyak orang yang menunjukan moral yang tidak baik, akibatnya yang muncul adalah pertikaian, perseteruan bahkan konflik.

Melalui Harlah NU yang ke-91 ini, saya ucapkan selamat Harlah ke-91 kepada warga NU dimanapun berada. Semoga keberadaan NU di bumi NKRI ini tetap membawa kebaikan dan perdamaian untuk NKRI.


TAGS Harlah NU / Religi / Sosial /

Comment

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda