Membunuh Rasa Benci, Hidupkan Kasih Sayang dan Persaudaraan

20 Jan 2017 - 09:48 WIB

Tulisan saya ini agak panjang dan perlu menyimak dengan seksama agar “benang merah dan pesanya” bisa difahami sebagaimana judul diatas.

Saya teringat saat sedang musim pilpress beberapa tahun lalu. Saat itu, pernah saya sedang asyik ngobrol santai dengan teman saya sambil nonton televisi, teman saya tiba-tiba berkomentar begini,

“Wah, rasanya malas banget kalau nonton acara TV “A” [tidak saya sebut merk], beritanya pasti muji-muji “tokoh” itu terus”.

Saya kemudian tanya ke dia, “emangnya kamu tidak suka dengan kebaikan yang diberitakan oleh TV “A” tersebut?”

Teman saya menjawab, “Itu semua hanya pencitraan saja, semua tidak ada yang benar”.

Saya mencoba menanggapi, “kalau memang beritanya tidak benar, kamu berhak kok menuntut ke pihak televisi tersebut, tapi emangnya kamu punya bukti berita yang benar seperti apa?”

Teman saya bilang, “saya juga tidak tahu sih yang benar yang bagaimana”

Saya: *&%(_I*Y*&)@*(^$*^$($&($^($ :-)

Kemudian saya sudah faham banget dengan pemikiran model teman yang begitu, saya tidak perlu melanjutkan diskusi karena model orang begitu biasanya pakai modal “ngeyel” dan “pokoknya”.

Jadi saya cuma bilang ke teman saya begini,

Kamu kan sudah tahu kalau TV “A” itu milik siapa dan si pemiliknya dukung siapa?

Jadi kalau saran saya, kalau kamu ingin lihat berita yang isinya memuji calon tokoh idolamu, silahkan tonton saja di TV “B”.

Karena saat kamu bicara seperti itu, maka di sebagian kelompok masyarakat yang lain [yang pemikiranya seperti kamu tapi beda idolanya], maka dia juga akan berpendapat seperti yang kamu bicarakan, hanya saja merk tv dan nama tokohnya yang berbeda.

Namun dari diskusi saya tersebut diatas, saya hanya ingin mencoba mengambil beberapa pemikiran saya.

Pertama, di dunia ini ada banyak orang yang pola pikir mereka itu seperti teman saya diatas. Silahkan cari saja di komentar-komentar berita online, di facebook, twitter dan di sosial media lainya. Saya pastikan sangat mudah menemukanya.

Ciri-cirinya, kalau memuji orang [tokoh] yang dikagumi, maka dia akan mati-matian membela, dan memuji yang dikagumi itu seperti manusia tanpa pernah salah dan tanpa cela. Jika orang [tokoh], yang dipujinya tersebut terbukti bersalah, maka itu dianggap sebagai fitnah atau rekayasa, dan sejenisnya. Intinya dia akan bilang [pokoknya] orang [tokoh] itu yang terbaik.

Begitu juga sebaliknya, saat dia membenci seseorang [tokoh], maka dia akan membenci orang tersebut seolah-olah orang [tokoh] tersebut tak memiliki satupun kebaikan. Kalaupun ada bukti kebaikan yang dia lakukan, maka itu akan dianggap sebagai pencitraan semata. Intinya dia akan bilang [pokoknya] orang [tokoh] itu yang terburuk. Begitu seterusnya.

ilustrasi: superhry.czSaran saya, jika bertemu dengan orang yang memiliki pola pikir seperti diatas, sadarkan jika anda mampu, jika tidak mampu sadarkan dia, jauhilah!

Kedua, dari melihat orang-orang yang seperti itu, setidaknya ini bisa memberikan pelajaran buat kita, betapa bahayanya jika sampai ada orang menggunakan pemikiran [kaca mata] kuda seperti diatas.

Mereka hanya mau melihat lurus kedepan [satu arah] tanpa pernah mau mendengarkan mempertimbangkan fakta-fakta dan pemikiran lain diluar pemikiran mereka.

Itu kenapa saya sebagai pegiat literasi, tentunya juga sangat setuju sekali dengan sebuah pernyataan bahwa, “Orang yang paling BERBAHAYA adalah mereka yang HANYA membaca SATU BUKU”.

Ketiga, Ini bagian inti dari tulisan saya, dimana dari berbagai persoalan atas pemikiran orang-orang sebagaimana saya sebutkan diatas, inti masalahnya ada pada pola pikir dan pengetahuan mereka yang “gagal” dalam mengelola sikap mereka saat memuji berlebihan dan saat membenci yang berlebihan.

Padahal sebenarnya dalam mengelola hati dan pikiran kita agar tidak terjebak pada pemikiran diatas, solusinya adalah, dengan banyak belajar bahwa di dunia ini sudah jadi hukum alam akan selalu muncul PERBEDAAN.

Langkah pertama ini sederhana, tapi terbukti banyak yang GAGAL melakukanya. Hal ini bisa dilihat dengan begitu banyaknya orang yang hanya beda pendapat, mereka berantem, saling hina, bahkan saling bentrok adu fisik hingga ada yang sampai saling bunuh.

Jika sudah memahami bahwa PERBEDAAN adalah hukum alam yang tak terhindarkan, maka langkah kedua, perbanyak BACA BUKU yang bisa membimbing dan mengarahkan serta menyadarkan “pola pikir”.

Saat pola pikir kita sudah terbuka, maka yakinlah jika kita pada saatnya pasti akan “tertawa” sendiri dengan pola pikir kita yang seperti itu [terlalu memuji/membenci orang [tokoh] secara berlebihan].

Apabila kita sudah memahami itu semua, langkah terakhir adalah, secara bertahap [tidak bisa secara langsung dan instant] untuk “membunuh” rasa benci dalam hati kita, dan kemudian HIDUPKANLAH rasa kasih sayang dan persaudaraan kepada sesama.

Bahkan Rosululloh Muhammad S.A.W saja mengajarkan untuk selalu berbuat baik, dan berakhlaq baik terhadap semua makhluq apalagi dengan manusia, walaupun mereka bukan dari golongan dan kelompok kita sekalipun, maka perintah berakhlaq baik tetap diperintahkan.

Yuk, mulai sekarang bersama-sama saling belajar untuk membunuh rasa benci dalam diri kita, dan mari kita hidupkan rasa kasih sayang dan persaudaraan diantara kita sesama manusia yang hidup di negara Kesatuan Republik Indonesia!

Lagian ya, demi Tuhan, saa kita pelihara rasa benci dan dendam dalam diri, yakinlah itu takan pernah membawa ketenangan dan kedamaian dalam hati dan sepanjang hidup kita. Tapi dengan memelihara rasa kasih dan sayang antar sesama, saya jamin akan memunculkan ketenangan dalam batin yang tak ternilai harganya. 


TAGS Sosial / Religi /

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda

tulisan-populer

kisah-11-orang-sukses

nenek-tua-sumbang-jutaan-rupiah-untuk-masjid

pendiri-whatsapp-jan-koum

desa-terkaya

tulisan-populer negeri-hutang

ricky-elson

kerja-orang-jerman

negeri-para-petani-tapi-import-produk-pertanian

pria-sukses

10-pemuda-terkaya-di-asia

.:: #9 TULISAN TERKINI ::.