Ulama Tak Dilarang Berpolitik, Tapi Perbaiki Ahlaq Umat Lebih Baik?

13 Jan 2017 - 10:12 WIB

Mumpung hari Jum’at, semoga saja tulisan ini bisa difahami dan diserap dalam kacamata yang positif. Kalaupun ada kata-kata kurang baik dan salahnya, mohon maafkan saya dan ambil yang baik dan benarnya saja.

Jujur saja, saat saya menuliskan judul diatas, saya agak merinding dan agak takut kalau pembaca ada yang salah memahami maksud tulisan saya ini.

Agar pembaca tidak salah mengartikan tulisan saya, saya ingin menulis tulisan saya ini dengan cara runtut dan rinci agar pembaca tidak salah memahami maksud tulisan saya.

Saya sampai merinding bukan karena saya ingin menyindir ulama atau dalam makna yang negatif, melainkan justru karena saya seorang muslim, maka saya tahu betul bahwa Ulama [tapi bukan Ulama yang Su' yang jahat], adalah orang yang sangat dimulyakan karena Ulama adalah penerus para Nabi.

Perlu saya tegaskan pula disini bahwa saya teramat sangat menghormati Ulama yang baik yang layak disebut sebagai penerus para nabi, tapi saya juga menegaskan teramatsangat membenci ulama su’ [ulama yang jahat].

Saya selalu ingin menanamkan dalam memory saya, saat saya mendengar kata Ulama, maka ingatan dan memori saya ingin selalu ingat kesan positif sifat-sifat para Ulama sebagai penerus para Nabi.

Dan tentunya kita semua yang mengaku seorang muslim pasti tahu, ciri-ciri Nabi dan Rosul terakhir yang diutus ke bumi ini bernama Rosululloh Muhammad S.A.W, yang semua muslim juga seharusnya tahu sifat Rosululloh Muhammad S.A.W.

Dimana diantara sifat Rosululloh Muhammad S.A.W memiliki ciri-ciri sifat Sidik, yaitu berarti orang yang jujur dan benar. Sehingga tidak mungkin seorang Rosul memiliki sifat sebaliknya [Kizib] yaitu berarti bohong dan dusta. 

Sifat kedua Rosul yaitu Amanah, dapat di percaya, dan Rosululloh tak mungkin memiliki sifat sebaliknya bernama khianat yang memiliki arti sebaliknya dari amanah yaitu tidak dapat di percaya. 

Sifat Rosululloh S.A.W yang ketiga yaitu Tablig, yang ini berarti Menyampaikan. dan tidak mungkin juga Rosululloh Muhammad S.A.W memiliki sifat sebaliknya kitman yang berarti menyembunyikan. 

Sifat yang keempat dari sifat Rosululloh Muhammad S.A.W yaitu Fatanah, yang berarti cerdas, sehingga sangat tidak mungkin Rosululloh Muhammad S.A.W memiliki sifat sebaliknya yaitu baladah yang berarti bodoh.

Ulama dan ilmuwan-ilmuwan muslim dunia dikenal dunia bukan karena mereka pandai menyebarkan kebencian, melainkan mereka dihargai karna ilmu dan karyanya. Bagaimana dengan para Ulama di zaman modern saat ini?Setelah kita tahu dan faham bagaimana sifat Rosululloh Muhammad S.A.W, maka tentunya, mereka-mereka yang memang “mengaku” sebagai seorang Ulama yang benar-benar pewaris para Nabi, sudah sepatutnya memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh Nabi.

Saya tidak bilang bahwa ulama harus memiliki sifat “SESEMPURNA” nabi, namun setidaknya yang namanya pewaris para Nabi, tentunya sifat-sifatnya jangan sampai terlalu jauh apalagi kebalikanya.

Disinilah kadang saya merasa, jujur saja saya sering sedih jika ada mereka-mereka yang mengaku Ulama tapi terkadang justru lebih sibuk urusin masalah-masalah yang berbau politik dan duniawi daripada memperhatikan kondisi umat.

Bukan maksud saya bahwa melarang ulama berpolitik praktis, itu hak mereka sebagai pribadi masing-masing. Toh memang dalam sejarah Rosululloh S.A.W saat itu juga sebagai pemimpin negara sekaligus rosul yang memimpin umat.

Namun maksud saya, melihat kondisi umat yang saat ini menurut penglihatan, pengamatan, dan sering mengalami sendiri, betapa umat sekarang ini sudah banyak kehilangan Akhlaq dan Moral yang baik.

Coba kita lihat mulai dari anak-anak kecil, remaja, hingga dewasa [bahkan yang sudah tua juga ada] di sekitar kita, mereka seolah tak punya sopan santun, berkata kasar [segala nama binatang], dan sulit menghargai apalagi menghormati yang lebih tua. Dengan orang tua kandungnya sendiri berani membentak, bertengkar, bahkan ada juga yang berani bunuh orang tuanya.

Belum lagi coba kalau kita buka internet dan baca komentar-komentar dan status di sosial media. Sungguh membuat saya mengelus dada. Dimana setiap orang seolah bebas mengumpat, menghina dan mencela antara yang satu dengan yang lainya.

Bahkan sesama saudara seiman, seislam, saling mengkafir-kafirkan, hanya soal beda persepsi dalam beberapa kasus.

Padahal sesama Islam kita masih menyembah Alloh Tuhan yang sama, Mengimani Rosululloh Muhammad S.A.W sebagai nabi yang sama, mengimani Al-Qur’an sebagai kitab suci yang sama, dan berbagai kesamaan lain yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada perbedaan yang ada.

Melihat kondisi tersebut, pernah saya diskusi dengan teman saya, “Mas Ari, itu kalau mereka yang di sosial media saling mengkafir-kafirkan sesama muslim, menyebar fitnah, menghina dan mencela sesama muslim, itu sebenarnya mereka pernah belajar islam tentang akhlaq tidak sih? Bukanya dalam islam itu ada aturan yang melarangnya, dan islam itu Rohmatallil’alamin?”

Menjawab pertanyaan itu saya cuman menjawab, “Entahlah masbro!”

Padahal dahulu seingat saya, sebelum adanya internet, kesan saya saat mendengar namanya Ulama dan mereka yang mengaku pintar dan pandai dalam soal agama, Ciri-ciri yang paling menonjol adalah soal Akhlaq dan perkataan mereka yang baik dan selalu menyejukan hati dan pikiran.

Namun sekarang ini, sungguh begitu jauh kesan yang saya lihat, dimana sesama ulama kadang membentuk kubu dan kelompok, bahkan diantara ulama ada yang saling memojokan antar ulama.

Jika antar ulama saja sudah menunjukan sifat yang demikian, sungguh mengerikan karena itu memungkinkan diikuti oleh para masing-masing pengikutnya.

Sungguh kondisi yang menyedihkan :-(

Atas pertimbangan itulah kemudian saya berfikir, tidak dilarang memang Ulama berpolitik praktis, namun menurut saya, jauh lebih baik Ulama kembali fokus perbaiki akhlaq dan moral umat.

Jika ulama mampu mendidik umat memiliki akhlaq dan moral yang baik, yakinlah saat umat yang berakhlaq baik itu jadi politikus, maka mereka akan jadi politikus yang bermoral dan amanah dengan rakyat.

Memang benar bahwa mendidik masyarakat yang berakhlaq mulia bukan hanya tugas ulama namun peran semua pihak, namun menurut saya Ulama juga memiliki peran yang sangat penting, karena bukankah Rosul sendiri diutus untuk menyempurnakan AKHLAQ? dan jika Ulama adalah penerus para Nabi, maka memang sudah sewajibnya mereka yang mengaku ulama memang harus melanjutkan perjuangan Rosul untuk menyempurnakan dan perbaiki AKHLAQ umat.

Sekali-lagi saya benar-benar tidak memiliki maksud dan tujuan apapun atas tulisan saya ini, dan ini memang murni kekhawatiran saya yang takut dan prihatin dengan kondisi yang sekarang :-(

Semoga Alloh selalu memberikan kebaikan untuk seluruh ulama-ulama yang baik dan berjuang dijalan Alloh dengan memagang akhlaq untuk bisa diteladani umat.

Semoga ulama-ulama su’ [ulama jahat] bisa kembali ke jalan yang benar.

Semoga, negara Kesatuan Republik Indonesia bisa semakin baik dan terus diberikan kebaikan. Amiiin

Wallohu a’lam…..


TAGS Sosial / Politik / Religi /

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda

tulisan-populer

kisah-11-orang-sukses

nenek-tua-sumbang-jutaan-rupiah-untuk-masjid

pendiri-whatsapp-jan-koum

desa-terkaya

tulisan-populer negeri-hutang

ricky-elson

kerja-orang-jerman

negeri-para-petani-tapi-import-produk-pertanian

pria-sukses

10-pemuda-terkaya-di-asia

.:: #9 TULISAN TERKINI ::.