Kurang Cerdas? Penikmat Berita Hoax Hanya Ingin Puaskan Hasrat Pribadi

12 Jan 2017 - 10:02 WIB

Sesuai komitmen saya pada tulisan sebelumnya untuk ingin tetap terus melawan berita dan informasi Hoax beredar dan kuasai sosial media, kali ini saya ingin kembali menulis terkait hoax.

Namun pada tulisan ini saya ingin lebih khususkan kepada mereka-mereka yang begitu menikmati dan teramatsangat puas jika membaca dan share berita HOAX.

Bagi yang mungkin menyadari bahwa percaya berita hoax dianggap sebuah “kebodohan”, maka, saat melihat ada orang begitu percaya bahkan langsung share berita hoax di sosial media, maka anda mungkin akan anggap itu aneh, tidak percaya, dan heran.

Namun faktanya memang hampir setiap hari di sosial media kita menemukan orang-orang seperti itu [baca; mereka yang mudah percaya berita hoax].

Uniknya, selalu ada saja hoax terbaru di setiap isu yang ada.

Pertama kali saya mendengar dan begitu banyak muncul hoax, kalau tidak salah saat pilpres 2014 yang lalu.

Sebelum musim pilpres 2014 yang lalu, kadang saya memang pernah membaca soal berita hoax. Namun volume perkembanganya tidak sedahsyat saat pilpres 2014. Yang mengerikan lagi justru setelah pilpres usai, hoax seolah-olah dianggap sesuatu yang terus bermunculan tiap ada isu-isu aktual.

Saat pilpres 2014 yang lalu, kita tahu betul bahwa persaingan kubu yang pro Jokowi dan pro dengan Prabowo begitu besar, akibatnya masing-masing tim sukses dan pendukung setia mereka seolah berlomba-lomba membuat berita hoax yang saling memuji kandidat yang didukung, serta membuat berita hoax yang menyudutkan kandidat lawan.

Akibat kejadian ini, saya kemudian mengambil sebuah kesimpulan bahwa mereka para penikmat berita hoax, biasanya memiliki ciri-ciri bahwa mereka selalu menganggap berita hoax adalah sebuah kebenaran karena informasi hoax tersebut sesuai dengan hasrat dan keinginan pribadi mereka.

Saya contohkan misalkan si A adalah orang yang suka Prabowo, maka begitu dirinya membaca berita hoax yang menjelek-jelekan Jokowi, maka tidak perlu cek dan ricek, apakah berita itu benar atau salah, maka orang-orang dengan karakter seperti ini pasti langsung akan begitu puas saat membacanya, yang kemudian dilanjutkan dengan bersemangat share hoax tersebut.

Begitu juga sebaliknya, misalnya jika ada si B adalah orang yang suka Jokowi, maka begitu membaca berita hoax yang menjelek-jelekan Prabowo, maka tidak perlu cek dan ricek, apakah berita itu benar atau salah, maka orang-orang dengan karakter seperti ini pasti langsung akan begitu puas saat membacanya, yang kemudian dilanjutkan dengan bersemangat share hoax tersebut.

Lantas untuk apa orang-orang itu sebarkan hoax?

Beberapa kelompok memang membuat berita hoax dan menyebarkanya dengan tujuan agar dapat uang. Namun jika dilihat di Indonesia, jumlahnya masih minoritas jika dibandingkan mereka yang hanya asal share dan like atas beredarnya hoax tersebut.

Tujuan utama yang pas untuk penyebar hoax di Indonesia, tujuanya seperti yang saya tulis di judul, mereka hanya ingin memuaskan hasrat dirinya dan menunjukan ke orang lain bahwa orang yang dia benci itu memang tidak layak dijadikan presiden.

Kondisi inilah yang kemudian seolah DIWARISKAN pada kasus-kasus lain. Misalnya yang saat ini masih panas dan belum juga bisa akur, yaitu antara mereka yang Pro Ahok dengan mereka yang anti Ahok.

Masing-masing kubu saya lihat dalam keseharian mereka memang tergolong penikmat hoax [yang tidak termasuk penikmat hoax tidak perlu tersinggung :-) ], maka hampir setiap ada berita hoax, maka tidak perlu cek dan ricek, apakah berita itu benar atau salah, maka orang-orang dengan karakter seperti ini pasti langsung akan begitu puas saat membacanya, yang kemudian dilanjutkan dengan bersemangat share hoax tersebut.

Inilah yang terjadi saat ini dan saya prediksi akan terus terjadi dan berulang setiap ada moment isu kontroversi.

Saya prediksi juga bahwa orang-orang dengan PENDIDIKAN yang TINGGI tidak menjamin mereka untuk tidak terjebak percaya Hoax, bahkan justru terkadang merekalah yang justru menciptakan hoax dan menyebarkanya.

Orang-orang yang tidak mudah percaya berita hoax, biasanya memiliki ciri-ciri yang tidak memiliki rasa egois yang tinggi.

Karena mereka yang memiliki sifat egois, lebih mudah untuk tidak mudah menerima PERBEDAAN. Akibatnya setiap ada perbedaan pandangan dan pemikiran, maka orang-orang yang berseberangan dianggap sebagai lawan dan musuh yang harus dilawan, dipermalukan, dihina, dan dicela, demi memuaskan hasrat ego pribadi mereka.

Dan saya berharap, jika anda sedang membaca tulisan saya ini, anda bukanlah termasuk diantara mereka!


TAGS Hoax / Sosial Media / Sosial / Teknologi /

Comment

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda