Gila! Belajar Islam dari Sosmed dan Mau jadi Pengantin Bom Bunuh Diri!

15 Dec 2016 - 09:05 WIB

Mohon maaf jika judul tulisan saya memang agak kasar, tapi itu memang benar-benar sebuah ungkapan yang ingin saya ungkapkan melihat ketidapercayaan ini.

Saya agak heran dan masih tidak percaya dengan apa yang saya lihat kemarin di salah satu tv swasta yang menayangkan wawancara dengan pasangan suami istri pelaku bom panci di bekasi.

Kalau misalnya saya tidak menyaksikan sendiri pengakuan kedua pelaku bom panci di bekasi [walau lewat televisi], saya mungkin tidak akan percaya atas cerita dan pengakuan para pelaku tersebut.

Karena dalam bayangan saya, biasanya seorang pelaku kejahatan itu kalau ditangkap setidaknya menyesali perbuatan dan malu jika diliput media.

Kalaupun kemudian bersedia diliput media, biasanya juga hanya sedikit bicara dan terkesan malu-malu.

Namun apa yang saya lihat di tayangan tersebut sama sekali tidak ada raut penyesalan apalagi takut.

Sangat jelas sekali jika dalam sebuah tayangan Wawancara eksklusif reporter senior tvOne, Ecep S Yasa dengan Dian Yulia Novi, sang “pengantin” bom bunuh diri yang ditangkap di Bekasi, Jawa Barat tersebut tidak ada rasa penyesalan.

Bahkan saya dengar sendiri si wartawanya justru seolah-olah diajak debat dengan pemikiran si pelaku tersebut.

Namun dari hasil wawancara tersebut, terlihat sangat jelas pengakuan si Dian Yulia Novi, sang “pengantin” bom bunuh diri tersebut mengaku belajar Islam hanya melalui sosial media.

Dirinya mengaku awalnya membaca status-status para jihadis di telegram dan juga sebuah website yang berisi tentang jihad.

Itu dilakukan selama hanya sekitar 1 tahun.

Ketika ditanya apakah tulisan-tulisan yang dia baca tentang islam dari kitab atau buku? ternyata jawabanya hanya melalui tulisan-tulisan dan voice di salah satu website yang memuat tentang jihad. Sisanya dilanjutkan dengan diskusi melalui telegram.

Bahkan menariknya, si Dian Yulia Novi, sang “pengantin” bom bunuh diri tersebut baru menikah dengan Nur Sholihin baru 3 bulan yang lalu.

Perlu anda ketahui bahwa Nur Sholihin dalam sebuah wawancara tersebut mengaku berkomunikasi langsung dengan Bahrun Naim. Bahrun Naim sendiri diduga sebagai otak semua di balik rencana bom panci tersebut.

Peran Nur Sholihin adalah menyiapkan semua persiapan untuk membantu istrinya si Dian yang sudah bersedia menjadi “pengantin” bom bunuh diri.

Masih dalam wawancara tersebut, Nur Sholihin mengakui jika yang pertama kali bersedia untuk menjadi “pengantin” pelaku bom bunuh diri adalah datang dari istri keduanya tersebut. Sedangkan dirinya hanya menyiapkan perlengkapan dan semuanya.

Kembali kepada keheranan saya akan idiologi keduanya, khususnya pada Dian Yulia Novi yang belajar islam dari website dan diskusi di sosial media telegram, tapi kemudian berani dan bersedia untuk menjadi “pengantin” bom bunuh diri.

Menurut saya ini benar-benar masih sulit saya terima dengan nalar dan pemikiran saya.

Namun faktanya hal itu memang ada dan bisa kita dengarkan langsung pengakuanya.

Atas FAKTA ini, maka saya teramatsangat setuju sekali jika memang pemerintah melalui KomInfo memang harus menyaring dan memblockir beberapa website/blog yang memang dinilai berbahaya untuk menyebarkan faham-faham menyimpang.

Buat anda siapapun yang memang ingin belajar Islam, janganlah hanya lewat sosial media dan membaca di website-website yang belum teruji kebenaranya.

Belajarlah tentang Islam kepada ahlinya yang memang sudah tahu Islam dengan cara yang benar.

Saya juga teramatsangat berpesan kepada teman-teman bloger dan para netizen, supaya kita semua memang harus berhati-hati saat menulis di blog ataupun di sosmed.

Mungkin bagi kita dianggap tulisan-tulisan itu seolah hanya tulisan biasa dan seolah-olah tak memiliki pengaruh apapun untuk pembacanya.

Namun faktanya, masih ada orang yang hanya bermodal membaca tulisan di sosial media dan blog, kemudian mereka bisa terpengaruh bahkan hingga akan berbuat untuk menjadi pelaku bom bunuh diri.

Namun yakinlah dibalik adanya ancaman dan bahaya dalam membuat tulisan di blog dan sosial media, jika kita menulis tulisan yang baik dan positif, maka yakinlah itu juga memiliki peran positif untuk mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu yang baik dalam hidupnya.


TAGS Sosial / Teknologi /

Comment

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda