Sulitnya Mendidik Anak di Zaman Sekarang?

9 Dec 2016 - 09:20 WIB

Jujur saja saya nyesek banget baca Kisah Viral Bapak Beli HP Pakai Pecahan Rp 2.000 karena Anak Tak Mau Sekolah, jujur saja saya sampai menangis.

Menangis karena saya bisa merasakan apa yang orang tua rasakan.

Saya sendiri bersyukur karena dari kecil dididik oleh [Alm] Romo [Bapak] saya untuk mandiri. Bahkan saya ingat betul saat masih kelas 1 SD, saya selalu diajarkan sebelum saya berangkat sekolah selalu ada syaratnya yaitu harus lebih dahulu membantu Romo ke sawah, Setelah itu baru sarapan, mandi dan berangkat sekolah.

Walaupun saat itu paling saya belum faham apa maksud Romo saya, dan saat di sawahpun saya tidak disuruh ngapa-ngapain, bahkan paling cuma mainan air dan lumpur saat Romo mencangkul sawah.

Tapi setelah dewasa saya baru tahu, jika Romo saya ingin mengajarkan bahwa jadi anak jangan manja, harus mandiri, dan jika ingin dapatkan sesuatu itu harus usaha dahulu.

Dan saya juga bersyukur dari kecil juga tidak pernah meminta belikan barang-barang apapun dari Romo.

Bahkan saat harus putus sekolah karena orang tua tak mampu bayar, lulus SMP saya sudah harus bekerja ikut kakak saya jadi kernet kontainer untuk saya tabung untuk lanjutkan sekolah ke SLTA dan hingga lanjutkan kuliahpun harus sambil kerja sendiri tanpa minta orang tua bahkan saya yang harus ikut bantuin orang tua saya.

Bukan karena orang tua saya tidak ingin bahagiakan anaknya, tapi karena memang orang tua yang memang tak mampu.

Jadi karena alasan historis saya itulah mungkin yang kemudian saya sampai menangis membaca “Kisah Viral Bapak Beli HP Pakai Pecahan Rp 2.000 karena Anak Tak Mau Sekolah ” tersebut.

gambar: detik.comPertama saya mungkin tersentuh atas kasih sayang orang tua tersebut yang “berkorban dan berjuang” apapun untuk bahagiakan anaknya. Selain itu juga supaya anaknya mau sekolah jika dibelikan HP.

Namun saya yakin, dalam kondisi ini, untuk bisa seperti itu, orang tuanya pastinya sudah memberikan nasihat terbaiknya untuk sang anak supaya tetap mau sekolah walaupun tidak diberikan HP, bukan karena tidak ingin bahagiakan anaknya, melainkan karena kondisi.

Namun karena nasihat orang tua yang memang nasihat seperti itu mungklin oleh anak-anak bahkan oleh orang tua zaman sekarang dianggap sudah tidak relevan.

Bahkan saya membaca di beberapa komentar, ada yang dengan jelas-jelas bilang untuk jangan salahkan anak tersebut.

Tapi saya tidak ingin berdebat soal itu karena saya memakluminya karena ini terkait dengan “SUDUT PANDANG CARA BERFIKIR” yang memang sudah berbeda.

Bagi mereka yang mendukung [tidak menyalahkan si anak], mungkin dia akan berfikir begini,

“Namanya juga zaman sudah modern, setiap anak punya hak untuk dibelikan HP oleh orang tuanya. Kalau tidak dibelikan HP nanti jadi anak yang ketinggalan zaman, tidak mengikuti perkembangan, kurang pergaulan, kampungan, dan sejenisnya”.

Bahkan kalau yang lebih extrim lagi mungkin malah akan menyalahkan orang tuanya begini,

“Makanya, jadi orang tua di zaman secanggih dan semodern ini harus ikutin perkembangan zaman, harus lebih kerja keras lagi biar bisa dapat duit banyak sehingga bisa memenuhi seluruh kebutuhan keluarga termasuk keinginan anak untuk belikan HP”.

Sekalilagi saya tegaskan jika saya tidak ingin berdebat dengan mereka-mereka yang berfikir seperti itu, karena saya juga “memaklumi”, memaklumi bukan untuk membenarkan pemikiran mereka tersebut, melainkan memaklumi jika memang di muka bumi ini memang ada makhluk manusia yang memang jalan pemikiranya seperti itu.

Poin kedua dari “Kisah Viral Bapak Beli HP Pakai Pecahan Rp 2.000 karena Anak Tak Mau Sekolah ” ini menurut saya adalah sebuah fenomena, dimana di zaman sekarang ini memang tidak mudah untuk mendidik anak memiliki perilaku akhlaq yang baik.

Jangankan kok mendidik anak SMP, SMA, hingga mahasiswa, lah di zaman sekarang ini, menemukan tokoh-tokoh besar yang sudah masuk usia lanjut yang perilakunya buruk saja begitu mudah!

Kalau bicara sebab-sebabnya terlalu banyak, mungkin pada tulisan lain akan saya uraikan berdasarkan fakta-fakta yang saya alami langsung.

Tapi untuk sedikit gambaran atas kasus ini, setidaknya saya sudah menuliskanya dalam tulisan saya berjudul “Malu Terlihat Miskin Tapi Tak Malu Ketika Pura-Pura Jadi Orang Kaya?”.

Setidaknya itulah kondisi dan perilaku anak-anak zaman sekarang. Ironisnya! itu bukan dialami oleh anak-anak di tingkat SLTP, SLTA, hingga perguruan tinggi karena ternyata orang tuanya juga banyak yang seperti itu [Baca: Malu Terlihat Miskin Tapi Tak Malu Ketika Pura-Pura Jadi Orang Kaya?].

Sebagai penutup saya hanya tetap ingin berharap kepada orang tua, guru, dan masyarakat sekitar, yuk utamakan membangun karakter anak-anak kita dengan mengutamakan AKHLAQ yang baik.

Bahkan kalau saya punya usul, standarisasi sekolah untuk UAN jangan dengan menilai dari nilai mata pelajaranya, melainkan dari AKHLAQ dan PERILAKU BAIKNYA.

Kenapa?

Karena kalau AKHLAQ dan PERBUATANYA sudah BAIK, saya yakin para siswa akan lebih mudah memahami mata pelajaran yang ada dengan baik juga.

Tapi secerdas dan sepandai apapun anak kalau AKHLAQ dan PERBUATANYA BURUK, Yakinlah kecerdasanya tidak mungkin akan memberikan kebaikan bahkan bisa sangat MEMBAHAYAKAN!


TAGS Pendidikan / Sosial /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda