Kontroversi Penghentian Ujian Nasional, Seandainya..

28 Nov 2016 - 12:03 WIB

Kontroversi Penghentian Ujian Nasional, Seandainya..

Rencana dihentikanya Ujian Nasional yang dimunculkan oleh Menteri Pendidikan menjadikan isu ujian nasional menjadi kontroversi.

Beberapa pihak ada yang sangat senang dan setuju dengan rencana tersebut, namun ada juga yang tidak setuju dan kurang setuju atas rencana tersebut.

Kalau menurut saya sendiri sebagai orang yang pernah menjadi pelajar dari Taman Kanak-kanak [TK], SD, SLTP, SLTA, hingga perguruan tinggi, ingin rasanya ikut menyerukan atas sistem pendidikan di Indonesia.

Secara garis besar saya sangat setuju jika ujian nasional dihapus dan diganti dengan sistem desentralisasi, namun pemerintah melalui kementrian pendidikan nasional tetap membuat standarisasi yang jelas.

Bahkan lebih penting dari sistem pendidikan itu sendiri, menurut saya pendidikan di Indonesia harus membuat target yang jelas sebenarnya para pelajar itu akan dididik menjadi seperti apa?

Jika target [jangka pendek, menengah, panjang] sudah dibuat, maka baru kemudian baru disusun sistem yang jelas untuk mempercepat target itu supaya target itu tercapai.

Seandainya….

Ya, seandainya saja saya saat jadi pelajar sudah bisa sekritis seperti sekarang ini, mungkin saya akan demo dan berteriak-teriak suapaya sistem pendidikan di Indonesia itu harus melibatkan dan mendengarkan suara para siswa juga.

Misalnya saja saya sukanya dan juga keahlian saya adalah di bidang komputer dan internet, maka sudah seharusnya sekolah sebagai wadah saya untuk belajar, sekolah harus menyediakan fasilitas dan sistem yang mampu mendukung saya bisa menjadi orang yang ahli di bidang komputer dan internet.

Namun sayangnya, itu semuanya sebuah keinginan yang sepertinya amatlah sulit ketika melihat sistem pendidikan di Indonesia.

Logikanya begini,

kesukaan dan bakat saya itu di bidang komputer dan di internet, tapi saat ujian nasional dahulu, yang diujikan justru Matematika, Bahasa Inggris, IPA/IPS, yang ternyata keahlian saya justru tidak ada!

Jadi menurut saya memang sistem penmdidikan dan Ujian Nasional itu hanya diperuntukan untuk mereka yang pandai Matematika, Bahasa Inggris, IPA/IPS.

Itu artinya mereka yang tidak jago dan tidak ahli di bidang mata pelaran yang diujikan, maka akan terkesan dan dinilai sebagai siswa yang “bodoh/kurang cerdas”.

Seandainya….

Seandainya saja jika sejak sekolah dahulu saya sudah diajarin banyak hal tentang komputer dan internet, mungkin saya dan juga yang lainya akan semakin  lebih cepat dan banyak ekahlian di bidang yang saya sukai [kuasai].

Ini yang saya maksudkan diatas bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih kurang jelas dan kurang tertarget, sehingga kesanya pendidikan berjalan sangat normatif sekali.

Seandainya…

Seandainya target pendidikan di Indonesia jelas, misalnya ingin melahirkan siswa yang ahli sesuai bidang yang disukai dan sesuai bakat masing-masing, maka pemerintah tinggal membuat sistem yang bisa mendukung itu.

Misalnya dengan cara menyeleksi bakat dan minat, serta pelajar dibebaskan memilihb pelajaran mana saja yang dia suka dan dikuasai. Dengan begitu, maka si siswa tersebut akan benar-benar menjadi ahli di bidang yang dia sukai dan dikuasai.

Berbeda dengan sistem pendidikan yang sekarang ini, dimana setiap siswa harus menguasai semua pelajaran, maka akibatnya yang terjadi siswa hanya dipaksa TAHU banyak pelajaran, namun sayangnya mereka TIDAK MENGUASAI semua ilmu pelajaran yang diajarkan.

Akibatnya yang terjadi kacau, dimana banyak kasus yang setelah lulus dari sekolah mereka masih bingung mau ngapain?

Saya sendiri saat ini sedang merasa kasihan dengan salah seorang siswa, dia baru kelas 4 SD. Siswa ini matematika, bahasa inggrisnya sangat jelek sekali nilainya. Akibatnya, dia sangat minder saat di dalam kelas dan malu karena dianggap sebagai anak yang “kurang cerdas”

Tidak hanya dia saja yang malu, orang tuanya juga sampai malu dan bingung harus bagaimana. Sebagai orang tua dia sudah belikan banyak buku, bahkan diikutkan les privat, tapi hasilnya masih sama.

Nah, kebetulan saja saat main ke tempat saya, ini anak suka banget dengan komputer. Bahkan kalau saya suruh ketik, ini anak bisa cepat banget. Kalau disuruh nulis di buku, ini anak selalu kebalik dan salah saat menulis huruf “d” dan “b”. Saat disuruh nulis “d” pasti yang ditulis huruf “b”, sedangkan saat disuruh nulis “b”, justru yang ditulis huruf “d”.

Namun luar biasanya saat saya suruh menulis sekitar 3 paragraf, ternyata nulisnya cepat banget dan tidak ada yang salah saat ngetik huruf b dan d.

Saya membayangkan di Indonesia banyak sekali siswa yang bernasib dengan anak ini.

Ingatlah bahwa setiap anak itu PASTI mermiliki kelebihan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainya. Jadi seharusnya sistem pendidikan harus mampu menampung para siswa tersebut.

Kan aneh saja, gurunya saja paling hanya mampu kuasai beberapa pelajaran [ 1 guru 1 mata pelajaran], tapi siswanya justru “DIPAKSA” untuk menguasai semua mata pelajaran.

Saya berharap dengan akan dihilangkanya sistem ujian nasional, hal ini bisa menjadi awal untuk mereformasi sistem pendidikan di Indonesia.

Saya sangat sedih saat negara seperti Finlandia, sebuah negara yang sistem pendidikanya terbaik di dunia, ternyata mereka menerapkan sistem pendidikan yang diimpikan dan dicetuskan oleh tokoh pendidikan kita Ki Hajar Dewantara.

Kenapa bisa begitu, ya, karena Ki Hajar Dewantoro saat mengajar selalu menekankan bahwa proses pendidikan itu harus menyenangkan dan membahagiakan.

Namun faktanya di Indoensia saat ini keinginan Ki Hajar Dewantoro tersebut belum terkabul, dan justru negara Finlandialah yang sudah menerapkanya.

Semoga saja negeri ini segera mampu menciptakan sistem pendidikan terbaik yang didukung dengan SDM guru-guru terbaik, sehingga impian kemajuan pendidikan di Indonesia tak hanya sebatas mimpi dan angan-angan saja.

Semoga!


TAGS Pendidikan / Opini /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda