Zaman Penjajahan Indonesia Mudah diAdu-Domba: Kini, Jangan Lagi!

23 Nov 2016 - 08:22 WIB

Sebuah keprihatinan jika melihat kondisi masyarakat sekarang ini yang begitu mudah diprovokasi bahkan begitu mudah diadu-domba.

Kondisi yang mengingatkan saya pada pelajaran sejarah saat SD puluhan tahun silam. Dimana dalam pelajaran sejarah yang membahas terkait taktik Belanda yang sangat terkenal dan sukses saat itu yaitu taktikDivide et impera atau Politik pecah belah, atau yang mudah difahami adalah “Adu Domba”.

Saya sangat sepakat jika politik pecah belah itu sering disebut dengan “Adu Domba”. Saya sendiri tidak tahu pastinya kenapa saat itu disebut “adu domba”. Kenapa tidak “adu ayam” atau yang lain?

Apakah kata-kata “Adu Domba” itu hanya sebuah kata yang membawa pesan, supaya kita sebagai MANUSIA yang memiliki akal, fikiran, dan pengetahuan serta kecerdasan juga akhlaq, SEHARUSNYA jangan sampai jadi orang yang mudah dipecah belah dan diadu domba.

Jika kita mempelajari arti dari Divide et impera atau Politik pecah belah yaitu sebuah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang tujuanya supaya strategi tersebut mampu mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah-belah kelompok yang sudah besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang kemudian menjadi sangat lebih mudah untuk ditaklukan.

Ada yang berani lantang menyebutkan jika seolah-olah saat politik Adu-domba diterapkan, maka seolah-olah rakyat Indonesia saat itu dianggap sebagai “domba” yang mudah diadu, sedangkan para penjajah dengan asyiknya hanya menonton “domba-domba” itu yang sedang diadu dan bertengkar sendiri-sendiri.

ilustrasi: mediasuarasubangApabila kita mau kembali membaca catatan-catatan sejarah bangsa ini, maka sebenarnya kita akan tahu mengapa politik pecah belah saat penjajahan saat itu bisa terjadi.

 

Hal ini sangat penting kita pelajari, supaya tujuanya agar kita jangan sampai menjadi pribadi yang mudah dipecahbelah lagi.

Perlu anda tahu juga bahwa saat zaman perjuangan melawan penjajah saat itu, tidak semua rakyat Indonesia berjuang.

Saat itu ternyata juga sudah ada beberapa kelompok orang yang justru tanpa malu berkhianat atas perjuangan para pahlawan.

Caranya?

Mereka yang menjadi penghianat bangsa ini karena demi mementingkan keselamatan dirinya dan kelompoknya serta supaya mendapatkan keuntungan dari penjajah, mereka-mereka itulah yang memerankan peran untuk menyempurnakan politik adu-domba supaya berjalan lancar.

Namun, walaupun ada banyak pengkhianat saat itu, toh pada akhirnya negeri ini memiliki sosok-sosok pahlwan sejati yang tetap berani berjuang mati-matian membela NKRI. Mereka saling bersatu-padu melawan penjajah dan tidak mau terjebak dalam politik dan strategi Divide et impera yang dibuat penjajah.

Atas komitmen bersama melawan penjajah saat itu, maka munculah berbagai perlawanan di penjuru bumi nusantara seperti Perang Diponegoro (1825—1830) di Jawa, di Sumatera Barat ada Perang Padri (1821 – 1837), ada Perang Saparua di Maluku (1817), Perang Banjar di Kalimantan (1858 – 1866), Perang Aceh (1873 – 1904), dan berbagai peperangan lainya.

Perjuangan para pejuang tersebut diatas merupakan catatan sejarah yang tak boleh dilupakan. Sejarah itu juga yang harus kita jadikan pemicu semangat bahwa bangsa ini dahulu pernah dijajah dan dihacurkan dengan cara yang licik yaitu strategi adu domba oleh Belanda.

Kenapa Belanda saat itu membuat strategi adu domba untuk menjajah Indonesia?

Tentunya saya harus yakin jika sebelum memutuskan dan membuat strategi Divide et impera, pastinya Belanda melalui ahli dan pakar-pakarnya sudah meneliti tentang bagaimana karakter masyarakat Indonesia saat itu.

Karena menemukan celah jika orang Indonesia saat itu memang banyak yang mudah dihasut dan diadu-domba, maka kemudian Belanda membuat strategi Divide et impera itu.

Dan sekarang….

Disaat negeri kita sudah merdeka, dimana kata orang sekarang zaman serba canggih dan modern, ilmu pengetahuan semakin mudah diakses, banyak orang katanya semakin banyak yang cerdas dan berpendidikan, TAPI faktanya, ternyata masih banyak diantara kita yang masih begitu mudah diadu-domba.

Lebih memprihatinkan lagi, untuk bisa diaadu-domba ternyata caranya juga samasekali tidak sulit. Terkadang hanya cukup melalui BERITA/INFORMASI HOAX di sosial media, masyarakat kita sudah langsung begitu mudah terhasut dan terprovokasi.

Saya juga heran, kok ada ya, orang Indonesia yang dia hidup di negeri ini tapi justru bergembira menciptakan kekacauan yang disengaja untuk memecahbelah bangsa :-(

Sungguh kondisi yang menurut saya ini SANGAT BAHAYA!

Saya katakan BAHAYA karena begini,

Jika hanya dengan informasi/berita HOAX saja kita begitu mudah diadu-domba dan terprovokasi, bagaimana jika yang membuat informasi itu adalah mereka-mereka dari luar yang memang ingin menghancurkan NKRI?

Dengan tulisan ini saya hanya berharap, semoga saja kita semua sebagai netizen harus ikut menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini. 

Caranya bisa dengan tidak asal share, like, dan berkomentar di status-status atau pemberitaan/informasi yang berbau provokasi.

Ingatlah bahwa kita ini sama-sama rakyat Indonesia yang seharusnya bersatu padu membangun bangsa ini dengan gotong royong, kebersamaan, dan penuh persaudaraan.

Dengan cara itulah kita bisa berkontribusi untuk membangun INDONESIA!


TAGS Politik / Sosial /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda