Selama Produk Petani&Garam Masih Import!Untuk Apa Malu Import Cangkul?

2 Nov 2016 - 09:19 WIB

Selama Produk Pertanian dan Garam Masih Import, Untuk Apa Kita Malu Import Cangkul dari China?

Pada tulisan saya sebelumnya saya sudah menyampaikan keprihatinan saya terkait dengan sebuah ironi negeri. 

Saya katakan ini sebuah ironi karena kita sebagai negeri yang mayoritasnya petani, tapi faktanya bertahun-tahun dan turun temurun justru kita masih tetap import produk-produk pertanian.

Lebih membuat kita miris lagi yaitu sebuah fakta bahwa negeri kita yang katanya sebagian besar dikelilingi laut, ternyata untuk stock garam, Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI] masih import garam.

Ini kan kondisinya sudah sangat memalukan sekali, Ibaratnya begini, anda koar-koar ke semua orang bilang jika anda memiliki banyak tanah yang subur dan punya keahlian bertani, tapi ternyata untuk beli beras, anda harus beli di swalayan.

Demikian juga negeri kita bernama NKRI, negeri yang berdasarkan data dan fakta dihuni mayoritas petani dengan tanah yang begitu suburnya, tapi ternyata untuk memenuhi produk pertanian justru kita harus Import.

Lebih memalukanya lagi, ternyata kita import produk pertanianya justru dari negara Industri.

Saya contohkan misalnya terkait dengan import kedelai yang hingga detik ini Indonesia masih import 2 juta ton kedelai tiap tahun dari Amerika Serikat.

Kalau kita import produk-produk industri kita dari Amerika Serikat, mungkin itu masih kita anggap wajar. Tapi kalau sampai kedelai import dari Amerika Serikat, apa kita tidak malu?

Tidak hanya kedelai, produk pertanian seperti singkong sekalipun, ternyata juga masih import!

Anda juga pasti tahu kan? Jika negeri kita secara fakta memang merupakan negara kepulauan, itu artinya luas lautan dan daratan jauh lebih luas dari daratanya.

Anda juga pasti tahu kan? Jika bahan dasar pembuatan garam itu dari air laut itu sendiri.

Namun aneh, lucu dan membuat kita miris adalah, ternyata hingga detik ini garam kita masih import.

Saat kondisi itu sudah berlangsung bertahun-tahun dan turun temurun tanpa ada kepastian kapan kita bisa manghentikan import produk pertanian dan garam.

Belum juga rasa “malu” karena kita masih import produk pertanian dan garam hilang, kini publik kembali dikejutkan terkait dengan bermunculanya cangkul yang ternyata diimport dari China.

Apakah kita harus malu dengan kasus import cangkul dari China?

Kalau menurut saya tidak perlu malu!

Selama kita masih tidak punya rasa malu import produk pertanian dan garam, untuk apa kita harus malu jika cangkul masih import dari China?

Bukankah kalau kita import cangkul dari China, cangkul itu masuk kategori industri yang bahan dasarnya dari besi sehingga masih lebih wajar jika dibandingkan dengan kita harus import produk pertanian dan garam.

Idealnya memang dan seharusnya jika memang kita masih MEYAKINI dan beranikan diri untuk claim bahwa negeri kita mayoritas petani, maka seharusnya negeri ini malu kalau masih import produk pertanian dan garam.

Akan lebih baik lagi juga jika soal masalah cangkul juga seharusnya Indonesia mampu produksi cangkul sendiri untuk memenuhi kebutuhan cangkul untuk para petani.

Namanya juga negara pertanian dan kelautan, logikanya mampu eksport produk pertanian dan garam.

Kalaupun belum mampu export, minimal jangan sampai import produk pertanian dan garam!


TAGS Finance / Bisnis / Ekonomi /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda