Pemimpin dan Tokoh Agama itu Harusnya Mendamaikan, Bukan Provokator!

12 Oct 2016 - 09:01 WIB

ilustrasiSaya agak heran memang ketika melihat yang terjadi di negeri kita ini, dimana terkadang saya meliht orang yang katanya punya kesan sebagai tokoh [ahli] beragama tapi tiap jelang pemilukada justru terkesan seperti ahli provokator.

Apalagi tokoh-tokoh agama yang aktif berpolitik, pada masa kampanye, nama-nama mereka kok seolah-olah muncul ke permukaan bukan sebagai seorang ahli agama, tapi terkadang muncul sebagai ahli provokator.

Saya tidak berani memastikan itu, tapi disini saya hanya ingin mengungkapkan apa yang saya lihat dan apa yang saya amati.

Bahkan saya sendiri pernah langsung melihat itu pada tokoh agama di lingkungan saya, dimana setiap hari dirinya dikenal sebagai orang ahli dalam agama dan laris-manis untuk jadi penceramah untuk berdakwah soal agama.

Tahu sendiri namanya ceramah agama itu kan pasti kadang menasihati umat supaya bisa menjaga lidah, jangan suka fitnah, jangan sebarkan kebencian, saling hormat menghormati, perbaiki akhlaq, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan berjuta nasihat baik lainya.

Namun alangkah terkejutnya saya, ketika dirinya aktif dan gabung di salah satu partai dan mendukung calon tertentu, maka yang tadinya tiap ngomong selalu berbau nasihat dan bikin adem serta membuat hati tentram, tiba-tiba seolah-olah jadi sebaliknya.

Yang dulunya selalu kasih nasihat supaya jangan suka ngomongin orang, dalam ceramahnyapun ternyata jelekin calon-calon yang tidak didukung.

Yang tadinya nasihatin supaya jangan suka fitnah, eh, terkadang justru malah menduga-duga kalau pilih si “anu” bisa-bisa bangsa ini tambah rusak dan seterusnya.

Apa yang saya lihat disekitar saya tersebut, ternyata kok entah kebetulan atau tidak, tiap jelang pemilukada, kok saya lihat orang-orang ahli agama yang seharusnya tiap muncul di TV lebih pantesnya mengeluarkan statemen yang berakhlaq dan bijak, kok faktanya justru kadang malah komentar dan pernyataanya seperti ahli provokator?

Saya disini tidak ingin menyebut nama karena saya disini benar-benar memang sedang heran saja dengan perilaku-perilaku mereka.

Saya menuliskan ini benar-benar karena ketakutan saya begini,

Jika seorang yang dianggap dan dinilai sebagai orang beragama yang seharusnya memiliki akhlaq yang baik saja, gara-gara musim pilkada [politik] tiba-tiba berubah jadi orang yang kasar pernyataanya, lantas bagaimana dengan orang awam di sosial media?

Kekhawatiran saya selanjutnya, jika orang yang ahli agama saja gara-gara isu politik dan musim kampanye jadi berubah kasar begitu, bagaimana dengan para politikus busuk yang selama ini memang sudah jadi orang kotor? Tentunya logikanya bisa semakin menjadi-jadi dan semakin brutal bukan?

Seorang yang sudah berani disebut ulama, itu artinya mereka adalah pewaris para nabi. Jadi, perilaku dan akhlaqnya juga seharusnya mengikuti rosululloh Muhammad S.A.W.

Jadi, seorang ulama harus bisa menunjukan akhlaq dan kebijakanya dalam berbangsa dan bernegara. Dengan cara seperti itulah ulama akan dihargai oleh umat, bahkan disegani non muslim.

Saya sangat prihatin jika sampai ada ulama yang justru gila penghormatan dan sanjungan. Ingatlah bahwa seorang ulama dihargai tidaknya tergantung sikapnya terhadap masyarakat. Dan ulama tidak boleh meminta dihormati dan dihargai oleh manusia, karena semua yang dilakukan ulama sudah sewajibnya karena llah S.W.T.

Ini semuanya hanya unek-unek saya saja, apakah anda merasakan hal yang sama seperti apa yang saya rasakan dan yang saya lihat? itu saya kembalikan kepada diri anda masing-masing.

Namun tentunya saya teramatsangat berharap kepada mereka yang “NGAKUNYA/MERASA” sebagai orang yang tahu dan faham soal agama, jika ada kegaduhan di negeri kita ini, saya berharap mereka datang sebagai orang bijak yang mampu mendamaikan kekisruhan tersebut, bukan justru malah jadi provokator apalagi memperkeruh suasana.

Semoga!


TAGS sosial / politik /

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda

tulisan-populer

kisah-11-orang-sukses

nenek-tua-sumbang-jutaan-rupiah-untuk-masjid

pendiri-whatsapp-jan-koum

desa-terkaya

tulisan-populer negeri-hutang

ricky-elson

kerja-orang-jerman

negeri-para-petani-tapi-import-produk-pertanian

pria-sukses

10-pemuda-terkaya-di-asia

.:: #9 TULISAN TERKINI ::.