Kasus Antasari Azhar Kembali Mencuat dan Besarnya Resiko jadi Pejabat!

25 Aug 2016 - 11:30 WIB

Buat anda yang tadi malam menyaksikan tayangan Mata Najwa, tentunya anda ikut menyaksikan sebuah pengakuan-pengakuan dari Antasari Azhar dan narasumber lainya.

Gara-gara acara tersebut, nama Antasari Azhar langsung masuk Google Trends.

Saat menyaksikan acara tersebut, saya dibuat ikut larut dengan sebuah kasus yang begitu pelik.

Saya disini tidak ingin memastikan siapa yang salah dan siapa yang benar dalam kasus Antasari Azhar. Namun saya meyakini, siapapun yang melihat kasus Antasari ini dengan lebih menggunakan rasio dan fakta-fakta yang kita lihat, maka sesungguhnya memang banyak yang aneh dan janggal.

Apalagi saya termasuk orang yang meyakini bahwa omongan orang yang BENAR dengan omongan orang yang berbuat SALAH itu begitu mudah untuk dibedakan.

Jadi saat mendengar fakta-fakta hukum terkait kasus Antasari Azhar banyak sekali keanehan dan dianggap syarat rekayasa.

Saya tidak ingin merinci kejanggalan-kejanggalan tersebut, jika anda masih penasaran, silahkan bisa dibaca diulasan Kompas 2011 yang lalu disini.

Dalam kasus yang membuat saya kadang miris dan dibuat terguncang yaitu ketika mendengar pernyataan Antasari Azhar sebagai berikut,

“Setiap malam selama di penjara, saya sering merenung, Dahulu saat saya jadi ketua KPK, Anak dan Istri keluarga saya sampingkan dan seluruh tenaga dan pikiran saya abdikan diri untuk negara. TAPI, saat dirinya masuk penjara, Saya tidak melihat sedikitpun negara membela saya dan Justru anak dan Istri saya yang dahulu saya kesampingkan justru setiap hari selalu suport dan mendukung saya”.

Nah, kata-kata itulah yang membuat saya jadi ingin dibuat gregetan untuk menuliskan ini.

Karena saya selama ini lebih sering berfikir betapa enaknya jadi pejabat-pejabat yang korup dan kerja asal-asalan. Sedangkan saya melihat pada sosok Antasari Azhar yang begitu gigih menangkap koruptor saat jadi ketua KPK, justru nasibnya harus berakhir di dalam sel!

Melihat kondisi ini tentunya saya sangat sepakat dengan bunyi penutup dari acara Mata Najwa tadi malam [24/8/16] yang berbunyi begini,

  1. Antasari Azhar menjadi contoh yang meyakinkan tentang betapa nisbinya jabatan dan kekuasaan.
  2. Berada di puncak kemasyhuran, punya akses pada elit-elit kekuasaan, Antasari justru menjadi korban penghakiman.
  3. Martabat tercemarkan, reputasi hancur berantakan, karir cemerlang pun tak terselamatkan.
  4. Antasari mencoba memulihkan nama baik, tapi risiko membuatnya hati-hati untuk berisik.
  5. Begitulah kehidupan di lingkaran kekuasaan. Jatuh bangun oleh intrik jadi risiko keseharian.
  6. Kawan tiba-tiba menikam layaknya lawan. Dari lawan tiba-tiba menjadi hangat seperti kawan.
  7. Hanya keluarga yang jadi benteng terakhir, saat tekanan datang nyaris tiada akhir.
  8. Antasari adalah pelajaran yang amat berharga. Betapa keluarga ialah harta yang paling luarbiasa.

Dari uraian 8 poin diatas, kita bisa membayangkan betapa berat yang harus ditanggung seorang Antasari Azhar.

Saya berharap, NEGARA harus hadir untuk berani membuka kasus-kasus seperti ini dengan sebenar-benarnya terungkap siapa yang benar dan siapa yang salah.

Jika Negara mengabaikan ini semua, maka saya khawatir akan banyak orang-orang benar dan baik tidak berani mengabdi kepada negara karena resikonya yang begitu berat!

Sedangkan disi lain para koruptor dan pejabat-pejabat yang buruk tertawa gembira karena mereka merasa menang duduk pada kekuasaan!


TAGS Hukum /

Mohon maaf, komentar saya nonaktifkan....

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda