Kenapa Tidak Ada Teror untuk Koruptor?

11 Sep 2013 - 08:16 WIB

d1428b4d864727c28ab5b4231693a179_bripka-sukardisumber foto || detik.com

Setidaknya sudah 5 Polisi yang ditembak oleh orang tak dikenal dalam kurun waktu 3 bulan terakhir. Kasus yang terbaru adalah penembakan kepada Bripka Sukardi di Depan Gedung KPK.

Sepertinya teror yang dilakukan oleh para pelaku memang mengarah kepada Kepolisian. Hal ini terbukti dari semua korban teror dari pelaku hampir semuanya merupakan anggota kepolisian yang berseragam.

Peristiwa tersebut tentunya menjadi duka untuk para kepolisian dan PR besar untuk pihak Kepolisian supaya segera menangkap pelaku teror tersebut. Jangan sampai teror tersebut menimbulkan opini di masyarakat “Jika Polisi tidak mampu menjamin dan memberikan keamanan kepada dirinya sendiri dan anggotanya, Bagaimana mungkin pihak Kepolisian bisa menjamin keamanan untuk masyarakat umum?”.

Namun terlepas dari siapa pelaku teror dan motif apa dibalik teror tersebut, saya justru ingin melihat pada kasus yang lain yaitu tentang sebuah pertanyaan “Kenapa Tidak Ada Teror untuk Koruptor?”.

Pertanyaan tersebut bukan kemudian diartikan supaya dilakukanya teror penembakan untuk para pelaku koruptor tapi teror yang saya maksud tentunya teror yang memiliki kekuatan hukum.

Lebih sederhananya teror yang saya maksud untuk para Koruptor yaitu Teror Hukuman Mati, Teror DiMiskinkanya Koruptor, dan teror berupa hukuman yang seberat-beratnya sehingga dengan teror tersebut orang di Indonesia khususnya para pejabat-pejabat negeri ini supaya takut untuk melakukan korupsi.

Di Indonesia Koruptor justru hidupnya seolah tanpa teror, lihat saja beberapa kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Sebagian Koruptor yang terbongkar justru seolah hidup dengan keistimewaan, Istimewa karena penjaranya mewah dan nyaman, Ada yang tidak disuruh kembalikan hasil korupsinya, Ada keistimewaan remisi, hukumanya juga teramat sangat ringan, bahkan di Indonesia juga seorang koruptor bisa jadi presiden karena pada kenyataanya koruptor secara hukum tidak dicabut hak politiknya.

Jika koruptor di Indonesia tidak pernah di teror dengan berbagai hukuman yang seberat-beratnya, maka yakinlah dan sudah bisa dipastikan bahwa koruptor di Indonesia akan semakin banyak dan tumbuh subur. Bahkan sangat mungkin pejabat-pejabat di Indonesia masih rela berebut mengantri untuk menjadi seorang koruptor karena kenyataanya tidak ada hukuman yang berat untuk seorang koruptor sehingga menjadi koruptor di Indonesia makin asyik dan menyenangkan?.


TAGS Koruptor / Bripka Sukardi /

Comment

#Kumpulan Artikel Seputar Sepeda